Berita

Pemimpin junta Myanmar, Min Aung Hlaing/Net

Global

Perdana, Junta Myanmar Hadiri Upacara Penghormatan Ayah Aung San Suu Kyi

MINGGU, 20 JULI 2025 | 11:17 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Untuk pertama kalinya sejak kudeta militer tahun 2021, pemimpin junta Myanmar Jenderal Senior Min Aung Hlaing hadir dalam upacara Hari Martir untuk menghormati Jenderal Aung San, tokoh kemerdekaan Myanmar dan ayah dari pemimpin sipil yang dipenjara, Aung San Suu Kyi. 

Kehadiran Min Aung Hlaing itu menandai penampilan publik yang langka di tengah meningkatnya tekanan domestik dan persiapan pemilu yang dijanjikan akhir tahun ini.

Upacara tersebut digelar di Mausoleum Martir di Yangon, di kaki Pagoda Shwedagon yang ikonik, di tengah pengamanan ketat. 


Bendera nasional dikibarkan setengah tiang sementara masyarakat Yangon membunyikan klakson dan sirene pada pukul 10.37 pagi,  waktu pasti saat Aung San dan delapan tokoh lainnya dibunuh dalam serangan bersenjata tahun 1947, beberapa bulan sebelum kemerdekaan Myanmar dari Inggris.

"Hari Martir telah menjadi simbol perjuangan nasional, tetapi selama beberapa tahun terakhir, militer mencoba meremehkan maknanya," ujar seorang warga Yangon yang ikut memberi penghormatan namun enggan disebut namanya karena alasan keamanan, seperti dimuat AFP pada Minggu, 20 Juli 2025. 

Suu Kyi sendiri absen dari upacara tersebut untuk tahun kelima berturut-turut. Sejak ditangkap pada hari kudeta 1 Februari 2021, ia tidak pernah lagi muncul di hadapan publik. 

Saat ini, ia menjalani hukuman penjara 27 tahun atas dakwaan yang secara luas dianggap bermotif politik.

Sebagai pengganti, Ye Aung Than, cucu Jenderal Aung San dari kakak Suu Kyi, meletakkan karangan bunga di makam kakeknya dalam upacara resmi.

Kehadiran Min Aung Hlaing disebut sebagian pengamat sebagai upaya mengklaim legitimasi simbolik menjelang pemilu yang direncanakan digelar akhir tahun ini.

Banyak pihak menilai pemilu tersebut sebagai rekayasa politik untuk memperkuat cengkeraman militer atas kekuasaan.

“Langkah ini tampak seperti usaha untuk membungkus rezim militer dengan simbol-simbol sejarah nasional, padahal kenyataannya mereka telah mengkhianati semangat demokrasi yang diperjuangkan Aung San,” kata analis politik Myanmar, Ko Myo Win.

Sejak kudeta, konflik bersenjata antara militer dan kelompok oposisi bersenjata terus meningkat. Menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP), hingga kini tercatat 6.974 orang tewas dan 29.405 lainnya ditangkap, termasuk aktivis, seniman, dan politisi. 

Kini, militer hanya menguasai kurang dari separuh wilayah negara. Serangan-serangan balasan kian digencarkan menjelang pemilu, yang diyakini akan menjadi momen penentu masa depan Myanmar.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

Perempuan Tani HKTI Terapkan Teknologi IoT, Pangkas Penggunaan Pupuk hingga 50 Persen

Minggu, 01 November 2026 | 12:32

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

PTKIN Siapkan Langkah agar Inovasi Mahasiswa Tak Berhenti di Ajang Lomba

Minggu, 01 November 2026 | 11:56

Kloter Pertama Haji 2027 Terbang 11 April, Ini Jadwal Lengkapnya

Minggu, 01 November 2026 | 11:50

Imigrasi Sudah Cegah Ahmad Dedi ke Luar Negeri Atas Permintaan KPK

Minggu, 01 November 2026 | 11:36

Puluhan Orang Diamankan Polisi saat Gerebek Kampung Bahari

Minggu, 01 November 2026 | 11:30

Maroko Sambut Keputusan PBB Akhiri Misi MINURSO di Sahara Barat

Minggu, 01 November 2026 | 11:17

Citra Polri Bisa Rusak Akibat Dua Kejadian Ini

Minggu, 01 November 2026 | 11:05

Ombudsman Ingatkan Polri Jaga Etika dan Hormati HAM saat Penggeledahan

Minggu, 01 November 2026 | 10:48

PPK Ajak Masyarakat Berperan bersama Presiden Prabowo Wujudkan Kedaulatan

Minggu, 01 November 2026 | 10:42

Selengkapnya