Berita

Jean-Pierre Filiu/Ist

Publika

Gaza dalam Kesaksian Jean-Pierre Filiu: Tak Lagi Dikenali (2/5)

KAMIS, 17 JULI 2025 | 22:31 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

Ketika Filiu masuk Gaza, ia tidak menemukan kota, hanya puing dan kenangan yang patah. Tak ada lagi jalan, tak ada lagi peta. Hanya reruntuhan yang mengabarkan: di sini pernah ada kehidupan. Di sini, kini, hanya luka yang bicara.

SAAT seorang sejarawan yang telah menelusuri banyak wilayah konflik di Timur Tengah berkata bahwa tak ada satu pun dari pengalamannya yang mempersiapkan dirinya untuk Gaza, kita patut berhenti sejenak.

Jean-Pierre Filiu, bukan sekadar pengamat dari kejauhan, melainkan seorang saksi yang memaparkan kehancuran dengan ketelitian klinis, bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membunyikan alarm bagi dunia yang terlalu lama diam.


Dalam kunjungannya ke Gaza pada Desember 2024, Filiu masuk melalui konvoi medis dari Médecins Sans Frontières. Perjalanan itu sendiri, menurutnya, sudah menyerupai film horor.

Saat matahari terbit, realitas yang muncul lebih mengerikan dari segala yang bisa dibayangkan. Jalanan begitu sepi hingga orang-orang yang trauma bahkan tak merespons klakson mobil. Mereka berjalan dalam diam, tak mendengar, mungkin juga tak merasa.

Filiu menggambarkannya sebagai ruang hidup di mana setiap manusia hanya punya rata-rata satu setengah meter persegi untuk bertahan.

Gaza, dalam pandangannya, bukan hanya zona perang. Ia adalah kuburan hidup bagi dua juta manusia yang diburu, dibom, dan dilaparkan dengan senjata, dengan embargo, dan dengan kebungkaman dunia.

“Tanah yang saya kenal tak lagi ada. Kata-kata tak bisa menggambarkan apa yang tersisa dari Gaza,” tulisnya, menyimpulkan kesaksiannya.

Seorang tua di jalan pesisir membandingkan nasib dirinya dan keluarganya dengan domba-domba yang diberi makan cukup hanya agar bisa disembelih saat Iduladha. Perumpamaan yang mungkin terdengar ekstrem, kecuali jika Anda berdiri di tengah Gaza, seperti yang dilakukan Filiu.

Salah satu pemandangan paling mengerikan yang ia saksikan adalah saat Israel menggusur makam-makam, lalu truk-truk mereka mengembalikan mayat-mayat yang telah membusuk, terkoyak, bercampur tanah dan plastik, ke rumah sakit-rumah sakit Gaza. Rumah sakit yang tidak lagi layak disebut fasilitas medis.

Filiu menggambarkan tempat itu sebagai “ladang pembantaian,” di mana bayi mati karena hipotermia dan dehidrasi, para perawat jadi sasaran penembak jitu, dan gedung-gedung pendidikan seperti perpustakaan dan universitas dihancurkan secara sistematis.

Pemandangan itu, menurutnya, bukan sekadar hasil dari perang. Itu hasil dari pilihan ideologis: sebuah kebijakan penghancuran total, di mana bahkan kata “perang” kehilangan maknanya.

“Yang sedang terjadi bukanlah perang, tapi kekejaman,” tutur Paus Fransiskus, seperti dikutip Filiu.

Salah satu bentuk kekejaman yang paling sunyi namun paling berbahaya, menurut Filiu, adalah bagaimana Israel menggunakan bahasa sebagai alat kekuasaan.

Wilayah yang dibom, dikosongkan, dan tak layak huni kini diberi label “zona merah.” Artinya para penghuninya diwajibkan pindah, lagi.

Rata-rata warga Gaza telah mengungsi lima kali sejak 7 Oktober 2023. Ada yang sepuluh kali. Apa makna “zona kemanusiaan” jika tidak ada lagi tempat aman untuk manusia?

Dalam catatannya, Filiu menyaksikan bagaimana warga Gaza masih berusaha mempertahankan secercah kemanusiaan. Anak-anak kecil berbagi remah makanan dengan kucing liar.

Keluarga menggantungkan pakaian di balkon bangunan roboh. Tenda-tenda lusuh memantulkan warna-warni samar di tengah abu puing-puing. “Saya lebih memilih berpegang pada serpihan kehidupan dari kapal gila ini.”

Buku Un historien à Gaza bukan buku propaganda. Itu buku sejarah. Ditulis dengan bahasa Prancis yang kering dan presisi seperti pisau bedah. Tanpa hiperbola, tanpa dramatisasi murahan.

Justru karena itulah ia begitu menusuk. Karena yang berbicara adalah sejarawan yang sudah puluhan tahun meneliti Gaza, berbicara dalam bahasa fakta, dan menulis dengan darah saksi mata.

Bahwa buku itu sulit diterima di ruang-ruang media Eropa bukan karena isinya bohong melainkan karena terlalu benar.

Di Eropa, televisi dan radio begitu gencar menyiarkan dukungan bagi rakyat Ukraina (yang memang pantas didukung), namun menghindar dari kenyataan Gaza. Seolah nyawa anak-anak Palestina tak sepadan dengan nyawa anak-anak Eropa.

Apa yang ditulis Jean-Pierre Filiu bukan sekadar laporan, tapi pelajaran sejarah yang sedang ditulis hari ini. Dan seperti semua pelajaran sejarah penting, ia tidak datang dengan kenyamanan, tapi dengan luka dan pertanyaan: Jika dunia diam ketika Gaza dihancurkan, apa jaminannya dunia akan bersuara saat giliran kita tiba?

Dan mungkin, seperti kata Pep Guardiola, ketakutan itu tidak berlebihan. “Anak-anak Gaza yang terbunuh hari ini, bisa jadi adalah cermin bagi anak-anak kita besok,” tuturnya.

Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Obituari Dudi Sudibyo

Senin, 16 Maret 2026 | 21:36

Sekda Jateng Diperiksa Kejati

Senin, 16 Maret 2026 | 21:12

Mendes Optimistis Ekonomi Desa Bergerak Bersama Pemudik

Senin, 16 Maret 2026 | 21:06

Kopra by Mandiri Pertahankan Gelar Best Trade Finance Provider in Indonesia 2026

Senin, 16 Maret 2026 | 20:58

Lebih dari 32 Ribu Orang Ikut Mudik Gratis Presisi 2026

Senin, 16 Maret 2026 | 20:58

Kunjungi Kantor Agrinas, Menkop Godok Operasional Kopdes

Senin, 16 Maret 2026 | 20:49

Media Berperan Penting sebagai Pilar Demokrasi

Senin, 16 Maret 2026 | 19:48

PT KAI Bangun 5.484 Rusun Nempel Stasiun di Empat Kota

Senin, 16 Maret 2026 | 19:28

Survei Konsumen: Komitmen Lingkungan Jadi Penentu Pilihan AMDK

Senin, 16 Maret 2026 | 19:14

Untung dari Perang

Senin, 16 Maret 2026 | 19:05

Selengkapnya