Berita

Presiden Senegal, Bassirou Diomaye Faye/Net

Dunia

Prancis Hengkang dari Senegal, Presiden Faye Akhiri Jejak Kolonialisme

KAMIS, 17 JULI 2025 | 16:28 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Prancis secara resmi mengakhiri kehadiran militernya di Senegal pada Kamis, 17 Juli 2025, menandai berakhirnya 65 tahun keterlibatan pasukan Prancis di negara Afrika Barat itu. 

Penarikan pasukan ini merupakan bagian dari proses pengalihan Camp Geille, pangkalan militer utama Prancis di Dakar, kembali ke kendali penuh Senegal.

Sekitar 350 tentara Prancis yang sebelumnya ditempatkan di Senegal, dan berperan dalam operasi bersama dengan militer setempat, akan ditarik secara bertahap selama tiga bulan sejak pengalihan dimulai pada Maret lalu.


Langkah ini merupakan realisasi dari janji kampanye Presiden Senegal Bassirou Diomaye Faye, yang memenangkan pemilu 2024 dengan platform reformasi pascakolonial. 

Dalam pernyataannya, Faye menyambut baik berakhirnya kehadiran militer asing secara permanen, sembari tetap membuka pintu kerja sama strategis dengan Prancis.

“Penarikan ini adalah simbol kuat dari kedaulatan baru kami. Kami berkomitmen membangun hubungan yang setara dengan semua mitra, termasuk Prancis,” kata Presiden Faye dalam konferensi pers seusai upacara serah terima, seperti dimuat Al Mayadeen.

Upacara pengalihan Camp Geille turut dihadiri oleh Kepala Staf Umum Senegal Jenderal Mbaye Cisse dan Komandan Pasukan Prancis di Afrika, Jenderal Pascal Ianni. 

Dalam kesempatan itu, Jenderal Ianni menegaskan bahwa Paris menghormati keputusan Dakar, dan tetap membuka saluran kerja sama keamanan ke depan.

Penarikan ini juga menjadi bagian dari pergeseran besar kebijakan luar negeri Prancis di Afrika, menyusul meningkatnya sentimen anti-kolonial di berbagai negara bekas koloni. 

Prancis telah menutup atau menyerahkan sejumlah pangkalan militernya dalam beberapa tahun terakhir, termasuk di Pantai Gading, Chad, dan Republik Afrika Tengah.

Tren ini semakin menguat setelah serangkaian kudeta militer di Burkina Faso, Mali, dan Niger sejak 2020 yang berujung pada pemutusan hubungan militer dengan Prancis. Di wilayah Sahel, kehadiran militer Prancis telah sepenuhnya berakhir.

Kini, hanya Djibouti di Tanduk Afrika yang masih menjadi tuan rumah pangkalan militer permanen Prancis, yang kini berfungsi sebagai pusat operasional utama pasukan Prancis di benua tersebut, dengan sekitar 1.500 personel.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Golkar: Putusan MK soal Gibran jadi Pukulan Telak

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 12:00

UPDATE

Wajib Halal Oktober 2026, Kesiapan UMKM dan Literasi Konsumen Jadi Tantangan

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:19

BBCA Pimpin Transaksi Saham, Nilainya Tembus Rp353 Miliar saat IHSG Menguat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:06

Tiru LPDP, Pemprov DKI Siapkan Beasiswa Luar Negeri

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:01

SBY Bercanda soal Batuk Prabowo dan Nasib Rupiah

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:54

CUAN Ramai Diperdagangkan, Nilai Transaksi Tembus Rp196 Miliar

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:47

Ketika Pelaku Tidak Ditemukan, Bagaimana Nasib Barang Bukti yang Disita?

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:42

IPC TPK Buka Direct Call Penghubung RI-Tiongkok-Thailand

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:41

Saat Karhutla Membara, Mereka Malah Korupsi

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:25

56 Tahun INACA dan Misi Historis Penerbangan Indonesia

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:15

BNPB: Penanggulangan Bencana Tak Terpengaruh OTT KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:15

Selengkapnya