Berita

Jean-Pierre Filiu/Ist

Publika

Gaza dalam Kesaksian Jean-Pierre Filiu: Menembus Batas (1/5)

RABU, 16 JULI 2025 | 22:26 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

Bukan dari kursi empuk ruang kuliah, Jean-Pierre Filiu menulis sejarah. Ia memilih Gaza yang hangus, bukan menara gading. Ia masuk ke wilayah yang dibungkam, demi menyuarakan apa yang tak bisa lagi ditulis oleh mereka yang terbunuh.

DALAM dunia akademik yang sering kali terkungkung dalam menara gading, Jean-Pierre Filiu adalah pengecualian langka. Ia bukan sekadar sejarawan yang duduk di ruang kelas atau berkutat di balik layar komputer.

Ia termasuk tipe pemikir yang percaya bahwa sejarah tak boleh hanya dikisahkan dari jarak aman, tetapi harus disaksikan langsung dari sumbernya, meski penuh risiko.


Itulah sebabnya, saat sebagian besar dunia memilih membelakangi Gaza, Palestina, Filiu justru melangkah masuk ke sana, menembus blokade, menyatu dalam luka, dan membawa pulang suara-suara yang dibungkam.

Filiu bukan nama sembarangan. Ia guru besar sejarah Timur Tengah di Sciences Po (Paris), salah satu institusi akademik paling prestisius di Eropa. Selain itu, ia dikenal luas sebagai penulis analisis mingguan tentang dunia Arab di harian Le Monde.

Karya monumentalnya, “Gaza: A History” (Oxford University Press, 2024), menjadi referensi penting bagi siapa pun yang ingin memahami kompleksitas sejarah Jalur Gaza.

Ia telah menulis banyak buku, termasuk biografi politik tentang Benjamin Netanyahu yang berjudul “Main basse sur Israël” (2019), sebuah karya yang menggugat tajam politik kolonialisme modern Israel.

Namun kredibilitas Filiu tak hanya berasal dari reputasi akademik atau ketajaman analisis. Kredibilitasnya justru berpijak pada keberaniannya untuk hadir langsung di medan kebenaran.

Desember tahun lalu, ia masuk ke Gaza bukan sebagai turis atau pengamat dari kejauhan, melainkan sebagai saksi hidup, bersama rombongan dokter dari Médecins Sans Frontières.

Ia menyaksikan kehancuran yang tak dapat dijelaskan oleh data semata, kehancuran yang menghancurkan logika, mematahkan nurani, dan mengguncang siapa pun yang masih memiliki sejumput rasa kemanusiaan.

Filiu tidak datang membawa agenda. Ia datang membawa komitmen akademik dan integritas moral. Ia tidak datang sebagai aktivis, tetapi sebagai sejarawan yang tahu bahwa tugas utamanya adalah mengungkap kebenaran, sekompleks dan seterjal apa pun.

Ia menuliskan pengalamannya dalam buku Un historien à Gaza yang

terbit Mei 2025, dan akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada Januari 2026.

Namun lebih dari sekadar laporan lapangan, karya itu merupakan testimoni sejarah, suara dari reruntuhan, catatan dari bawah puing-puing rumah, dan tangisan anak-anak yang tak tercatat dalam statistik korban.

Filiu bukan hanya menulis tentang Gaza, ia menghayatinya. Ia menyatu dalam kehidupan yang terkepung. Ia mengenal nama-nama, wajah-wajah, dan kisah-kisah pribadi.

Ia tidak berbicara dari balik lensa kamera atau dinding kaca studio berita. Ia berbicara dari tanah yang dipenuhi puing, dari lorong rumah sakit yang kosong, dari tenda-tenda yang menggigil di tengah musim dingin.

Dan yang paling penting: ia berbicara tanpa kompromi. Kesaksiannya dimuat Haaretz, salah satu media Israel paling progresif dan berani, dan dikutip pula oleh The Arab Weekly dalam esai tajam yang ditulis oleh Francis Ghiles.

Kedua sumber ini bukan propaganda, bukan agitasi, tetapi refleksi jujur dari orang-orang yang memahami bahwa sejarah tidak boleh dimanipulasi oleh negara atau kekuasaan.

Maka, tulisan ini adalah bagian pertama dari lima seri catatan tentang Gaza, bukan dari kacamata politisi atau diplomat, tetapi dari seorang sejarawan yang menolak tunduk pada narasi resmi.

Ia seorang akademisi yang memilih menulis dengan kaki berdebu dan hati terkoyak. Dan justru karena itulah, kesaksiannya menjadi jauh lebih berharga dari semua konferensi pers para pemimpin dunia yang terus-menerus gagal menyebutkan satu kata, kebenaran.

Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Kembali Bongkar Peran Dirjen Bea Cukai dalam Skandal Suap Blueray Cargo

Kamis, 27 Agustus 2026 | 01:46

UPDATE

Kemenkum Tegas Pertahankan Pembatalan Status Badan Hukum PLK

Selasa, 01 September 2026 | 16:28

Rebranding Dukcapil di Tarakan Tembus 1.387 Layanan Adminduk

Selasa, 01 September 2026 | 16:22

WNI Jadi Tentara Rusia Gegara Diiming-imingi Gaji Besar

Selasa, 01 September 2026 | 16:11

Pengamat Wanti-wanti BLU Batu Bara: Efisien Boleh, Pembangkit Jangan Terganggu

Selasa, 01 September 2026 | 15:53

UBakrie's Week 2026 Persiapkan 1.147 Mahasiswa Baru untuk Dunia Kampus dan Industri

Selasa, 01 September 2026 | 15:41

Bukan Cuma Cari Juara, Kemenag Bidik Kader Ulama dari MTQN XXXI

Selasa, 01 September 2026 | 15:39

DPR: Usut Tuntas Kematian Warga Pejompongan Korban Kerusuhan Demo

Selasa, 01 September 2026 | 15:34

Destry Resmi Pimpin BI, Perry Titip Pesan di Tengah Gejolak Global

Selasa, 01 September 2026 | 15:30

BNI Tawarkan Sukuk Ritel SR025 Lewat wondr, Imbal Hasil hingga 6,9 Persen

Selasa, 01 September 2026 | 15:25

Bawa Program "Klasterku Hidupku", BRI Ajak Pengusaha Ikan Kering Sorong Naik Kelas

Selasa, 01 September 2026 | 15:24

Selengkapnya