Berita

Ilustrasi/RMOL

Publika

HMI dan PMII, Dua Sisi Koin Kemajuan Bangsa

Oleh: Zuli Hendriyanto Syahrin*
RABU, 16 JULI 2025 | 04:44 WIB

SEBAGAI Kader dan Alumni HMI yang pernah mengemban amanah di Pengurus Besar HMI (PB HMI) selama dua periode, saya merasa tergerak untuk merespons dan memperkaya diskusi seputar pernyataan terbaru Pak Menko Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar. Pernyataan yang membedah pertumbuhan organisasi mahasiswa ini layak kita telaah bersama.

Beliau berujar, "Nggak ada PMII, nggak tumbuh dari bawah, kalau ada yang tidak tumbuh dari bawah pasti bukan PMII, pasti itu HMI." Pernyataan ini disampaikannya pada minggu malam, 13 Juli 2025 di Hotel Bidakara Jakarta, dan menjadi perbincangan hangat di berbagai media online dan media sosial.

Mari kita bedah pernyataan ini dengan analisis mendalam, perspektif luas, dan solusi konkret yang relevan bagi Bangsa.


Membongkar Klaim "Tumbuh dari Bawah"

Pernyataan Cak Imin (Muhaimin Iskandar), yang saat ini menjabat sebagai Menko Pemberdayaan Masyarakat, jelas ingin mengukuhkan identitas PMII yang punya akar kuat di pesantren dan ormas keagamaan. Itu adalah sebuah kebanggaan yang sah dan historis. Ya, PMII memang tumbuh dari basis massa yang lekat dengan tradisi dan komunitas.

Definisi "tumbuh dari bawah" yang sempit ini merupakan kekeliruan fatal. Pernyataan "pasti itu HMI" jika suatu organisasi tidak tumbuh dari bawah bukan hanya menyederhanakan, tapi juga mendistorsi realitas dan mengerdilkan kontribusi HMI. 

Benarkah demikian? Apakah HMI tidak tumbuh dari bawah hanya karena akarnya tidak selalu dari pesantren? Pertanyaan ini mencerminkan pemahaman yang parsial dan kurang komprehensif, sebab HMI justru tumbuh dari "bawah" yang lain, yang tak kalah fundamental: "bawah" kesadaran intelektual mahasiswa yang gelisah akan masa depan Bangsa di era modern.

HMI lahir dari nurani kritis di kampus-kampus, dari warung-warung kopi, pergulatan pemikiran di diskusi-diskusi senyap, dan dari semangat kebangsaan yang menolak kemapanan jika itu berarti kemunduran. HMI tumbuh dari "bawah" aspirasi kaum terdidik yang ingin membawa perubahan transformatif, bukan sekadar mengikuti arus. 

Ini adalah bentuk pertumbuhan yang menghasilkan Pemimpin Visioner, Pemikir Ulung, dan Profesional Tangguh, yang menjadi tiang penyangga kemajuan Indonesia. Mengabaikan bentuk "akar rumput" ini sama dengan mengabaikan kontribusi kaum intelektual terhadap Bangsa.

Solusi Merajut Kekuatan, Bukan Memecah Belah

Daripada terus terjebak dalam dikotomi usang dan klaim superioritas, saya menawarkan solusi ideal yang akan membawa kemajuan nyata dalam konteks pembangunan bangsa:

Pertama, hentikan Polarisasi Retoris, Fokus pada Sinergi Nasional: Para pemimpin bangsa, terutama seorang Menteri, memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi Perekat Bangsa, bukan Pemecah Belah. Baik HMI maupun PMII adalah dua raksasa organisasi kemahasiswaan Islam yang telah melahirkan elite-elite terbaik Indonesia, mulai dari birokrat, politisi, profesional, hingga pengusaha. Energi untuk membuat dikotomi seharusnya dialihkan untuk memikirkan bagaimana kedua organisasi ini bisa bersinergi optimal demi kepentingan rakyat dan kemajuan Bangsa. Lihatlah contoh Pak Menteri UMKM Maman Abdurrahman, yang juga Alumni HMI, Beliau bekerja membangun ekonomi rakyat tanpa pernah peduli latar belakang organisasi mahasiswanya. Itulah jiwa kepemimpinan yang dibutuhkan Indonesia.

Kedua, Mengakui dan Memanfaatkan Kekuatan Komplementer: PMII memiliki kekuatan tak terbantahkan di basis massa tradisional, pesantren, dan jaringan komunitas yang sangat luas. Ini adalah modal sosial yang luar biasa. Sementara itu, HMI memiliki keunggulan di basis intelektual kampus, tradisi berpikir kritis, jaringan profesional dan birokrat yang kuat, dan dunia usaha, serta kemampuan melahirkan pemikir strategis.

Ketiga, Solusi Kolaboratif Konkret: Bayangkan jika kekuatan ini disatukan! PMII dapat memperkaya program HMI dengan kedalaman akar rumput dan pendekatan komunitas yang efektif. Sebaliknya, HMI dapat mendukung PMII dalam pengembangan kapasitas kepemimpinan intelektual, penguasaan isu-isu global, serta perluasan jaringan profesional di sektor modern dan digital. Ini adalah kolaborasi strategis yang cerdas dan saling menguntungkan, membawa manfaat maksimal bagi kedua belah pihak dan, yang terpenting, bagi Indonesia.

Keempat, tantangan untuk Menko Pemberdayaan Masyarakat dan Seluruh Alumni: Daripada sekadar "ngumpul-ngumpul" dan nostalgia kejayaan masa lalu, saya menantang Pak Menko Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, dan seluruh Pimpinan Alumni HMI-PMII untuk membentuk Forum Strategis Nasional Alumni HMI-PMII. Forum ini bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan lokakarya permanen untuk merumuskan agenda bersama dalam pemberdayaan masyarakat, pengentasan kemiskinan, pengembangan UMKM, dan transformasi ekonomi. Kemenko Pemberdayaan Masyarakat dapat menjadi fasilitator utama forum ini.

Kesimpulan 

Pernyataan Pak Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar, meskipun mungkin terasa provokatif, harus kita jadikan momentum emas untuk melihat lebih jauh, Indonesia ke depan membutuhkan sinergi total, bukan lagi polarisasi usang. 

HMI selalu siap berkontribusi, dengan caranya sendiri, yang telah terbukti efektif dan relevan dalam membangun peradaban dan kemajuan Bangsa Indonesia. 

Pada akhirnya, pernyataan ini betapapun provokatifnya harus menjadi momentum bagi kita semua. Indonesia yang kita cintai membutuhkan kedewasaan berorganisasi, kenegarawanan, dan yang terpenting, orientasi pada solusi nyata.

*Penulis adalah Kader Muda Partai Golkar

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Keterlambatan Klarifikasi Eggi Sudjana Memicu Fitnah Publik

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10

DPRD DKI Sahkan Dua Ranperda

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05

Tak Ada Kompromi dengan Jokowi Sebelum Ijazah Palsu Terbongkar

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37

Pernyataan Oegroseno soal Ijazah Jokowi Bukan Keterangan Sembarangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22

Bongkar Tiang Monorel

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00

Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44

IPC Terminal Peti Kemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34

Jokowi vs Anies: Operasi Pengalihan Isu, Politik Penghancuran Karakter, dan Kebuntuan Narasi Ijazah

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03

Eggi Sudjana dan Jokowi Saling Puji Hebat

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41

Ketidakpastian Hukum di Sektor Energi Jadi Ancaman Nyata bagi Keuangan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39

Selengkapnya