Berita

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI), Prof. Rhenald Kasali/Ist

Bisnis

Banyak Tak Dihuni

Pemerintah Diminta Evaluasi Proyek Rumah Subsidi

SENIN, 14 JULI 2025 | 12:27 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Kebijakan pemerintah yang tetap gencar membangun rumah bersubsidi meskipun sejumlah evaluasi menunjukkan tingginya angka rumah subsidi yang tidak dihuni dikritik Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI), Prof. Rhenald Kasali.

Menurutnya, temuan dari kementerian bersama Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada periode pemerintahan sebelumnya mencatat 60 hingga 80 persen kawasan rumah subsidi justru kosong. Meski demikian, pemerintah saat ini tetap bersemangat membangun jutaan rumah subsidi.

"Setelah sebelumnya berpikir untuk membuat rumah yang semakin banyak, asal bisa dikecilkan, lalu kemudian timbul kritik keras dari masyarakat dan kemudian pemerintah membatalkan rencana itu, maka hari ini kita menyaksikan pemerintah tetap ingin membangun rumah bersubsidi," katanya seperti dikutip redaksi melalui kanal YouTube miliknya, Senin, 14 Juli 2025.


Ia menyoroti adanya ketidaksesuaian antara ketersediaan dan kebutuhan masyarakat. Meski kebutuhan akan tempat tinggal diakui tinggi, khususnya bagi kaum urban dan anak muda, lokasi rumah subsidi yang jauh dari pusat kegiatan ekonomi menjadi kendala besar.

"Anak muda butuh tempat tinggal dekat kantor, sedangkan rumah subsidi lokasinya jauh dan melelahkan. Tidak heran mereka lebih memilih menyewa," tambahnya.

Hasil studi yang dikutip Rhenald menyebutkan bahwa 49 persen generasi Z dan milenial memilih tidak membeli rumah karena harga yang tidak terjangkau. Sementara itu, sekitar 70 persen generasi senior menyatakan lebih memilih tinggal di rumah sewa.

Lebih lanjut, Rhenald memperingatkan jika perbankan membiayai proyek yang tidak tepat sasaran, efeknya bisa ke pengangguran dan ekspansi sektor informal, lalu berujung pada kredit macet.

Menurutnya, pemerintah tidak cukup hanya berpikir dari sisi penyediaan (supply side), tetapi juga harus mempertimbangkan sisi permintaan (demand side) dengan memperhatikan budaya, kebiasaan, dan perubahan sosial masyarakat.

"Rumah bukan hanya tempat tidur, tetapi tempat masyarakat beraktivitas. Jika tidak tepat, bisa berdampak pada kesehatan mental," tegas Rhenald.

Ia mengingatkan bahwa pembangunan rumah perlu dievaluasi secara menyeluruh agar benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan tidak menimbulkan persoalan jangka panjang.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

UPDATE

Kapolri Resmi Larang Seluruh Polisi Pakai Vape

Minggu, 01 November 2026 | 21:51

Ketidakpuasan terhadap Kinerja Pemerintah

Minggu, 01 November 2026 | 21:33

Gaduh Penggeledahan Pesantren, Polri Libatkan Propam

Minggu, 01 November 2026 | 20:41

Dua Nasabah Gugat AIA Financial ke PN Jaksel

Minggu, 01 November 2026 | 20:18

Mantra Mahasiswa dan Mengapa Rakyat Sering Kali Dikalahkan?

Minggu, 01 November 2026 | 19:36

KB Bank Syariah Digugat ke Pengadilan

Minggu, 01 November 2026 | 18:39

Pakar Tata Negara Bongkar Efek Putusan MA Terhadap Nasib Gibran

Minggu, 01 November 2026 | 18:15

Cancel Culture RANS-Willie Salim Contoh Kemarahan Publik

Minggu, 01 November 2026 | 17:41

Lulusan Trisakti Didorong Jadi Generasi Inovatif dan Berjiwa Wirausaha

Minggu, 01 November 2026 | 17:23

Elemen Umat Islam Harus Bersatu Perkuat Ekonomi melalui Koperasi

Minggu, 01 November 2026 | 17:00

Selengkapnya