Berita

Tahanan KPK menggunakan atribut yang menutupi wajahnya/RMOL

Hukum

KPK Harus Larang Tahanan Pakai Penutup Wajah

SABTU, 12 JULI 2025 | 06:02 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Agar kepercayaan masyarakat tidak hilang, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus tegas melarang para tahanan menggunakan atribut yang menutupi identitas wajahnya.

Hal itu disampaikan Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman merespons fenomena mayoritas tahanan KPK menggunakan atribut yang menutupi identitas wajahnya.

Di mana, selama beberapa tahun belakangan ini mayoritas tahanan KPK selalu menutupi identitas wajahnya ketika dibawa dari Rutan KPK ke Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada Kav 4, Setiabudi, Jakarta Selatan, untuk dilakukan pemeriksaan selama proses penyidikan.


Pantauan RMOL beberapa bulan ini, mayoritas tahanan KPK menggunakan atribut yang menutupi identitas wajahnya ketika turun dari mobil tahanan dan digiring menuju ruang pemeriksaan. Seperti menggunakan masker, topi, jaket hoodie, hingga membawa sebuah map atau buku untuk menutupi wajahnya.

Boyamin mengatakan, pada zaman dahulu, orang-orang yang melakukan kejahatan ditutup matanya dengan alasan asas praduga tidak bersalah.

"Nah, kemudian toh perkembangan zamannya kemudian tidak ditutup lagi matanya gitu oang-orang yang tersangka, atau orang yang ditangkap, karena ya apapun ya memang layak diketahui publik gitu,"  kata Boyamin kepada redaksi, Jumat, 11 Juli 2025.

"Soal putusan bebas nanti ya, pada posisi setelah persidangan, tapi pada saat penyidikan dan penetapan tersangka, termasuk penangkapan, penahanan, dalam perkembangannya kemudian ya tidak ditutup matanya, katahuan matanya. Nah, itu untuk kejahatan-kejahatan yang biasa, yang tidak extraordinary crime," sambungnya.

Sedangkan kasus korupsi, kata Boyamin, merupakan Kejahatan yang luar biasa. Sehingga harus ada sanksi sosial untuk efek jera.

"Maka ketika ditangkap dan ditahan, ataupun dikeluarkan, berpindah dari tahanan ke mau diperiksa KPK, ya harus dalam keadaan bisa dilihat masyarakat gitu. Artinya ya terbuka orangnya, tidak pakai topeng, tidak pakai masker, tangannya diborgol, pakai rompi (tahanan)" jelas Boyamin.

Melihat fenomena saat ini, kata Boyamin, KPK harus tegas dengan melarang para tahanan KPK menggunakan atribut yang menutupi identitasnya.

"Selama ini toh kasus korupsi yang ditangani KPK bebas itu kan relatif sangat kecil, maka kemudian ya layak disampaikan pada publik. Karena kalau tidak ya nanti malah dicuriga, jangan-jangan main-main malahan gitu," kata Boyamin,

"Jadi, KPK pilihannya ya harus mempertontonkan dan menunjukkan ketegasannya bahwa tahanan atau tersangka yang upaya paksa ya nggak boleh pakai topi, nggak boleh pakai masker, apalagi pakai topeng, termasuk rompinya harus dipakai, dan kemudian borgolnya juga harus kelihatan," imbuhnya.

Hal tersebut sangat penting untuk memberikan pelajaran kepada masyarakat bahwa korupsi buruk. Bahkan, hal itu juga agar menghindari orang-orang berpikir menjadi tahanan KPK mendapatkan keistimewaan.

"Kalau berpikiran itu kan KPK-nya semakin menurun nanti malahan kepercayaan masyarakat, dan yang rugi KPK sendiri, maka saya mengharapkan KPK tegas dalam memperlakukan tahanan atau orang yang ditangkap," terang Boyamin.

Untuk itu, Boyamin berharap agar KPK lebih memperhatikan hal-hal yang sensitif. Jangan sampai masyarakat berpikir menjadi koruptor lebih enak.

"Nah, supaya apa, kalau dianggap enak kan orang ya akan gampang korupsi, tapi kalau tidak enak, maka orang akan berpikir seribu kali korupsi," kata Boyamin.

"Jadi tujuan dari sekedar menampakkan wajahnya dan menampakkan borgolnya itu bukan semata-mata untuk hanya gagah-gagahan atau pamer, tapi pada posisi yang memang untuk pencerdasan masyarakat dan juga fungsi sosial, bahwa orang korupsi itu sudah dihukum sosial dan harus efek jera," pungkas Boyamin.



Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

KPK Terbitkan Sprindik Baru Terkait TPPU Wali Kota Madiun Maidi

Rabu, 23 September 2026 | 18:27

Pemerintah Sediakan Pendidikan Gratis Mulai TK hingga SMA Lewat Dana BOS

Rabu, 23 September 2026 | 18:19

IHSG-Rupiah Kompak Parkir di Zona Hijau Usai BI Tahan Suku Bunga

Rabu, 23 September 2026 | 17:58

Beli Tiket MotoGP Indonesia 2026 via wondr by BNI Diskon hingga Rp300 Ribu

Rabu, 23 September 2026 | 17:41

Anggota DPRD Hingga Petinggi LSM Diperiksa KPK dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 23 September 2026 | 17:38

Prabowo Bentuk Tim Khusus Kaji Rencana Gratiskan Kuliah di PTN

Rabu, 23 September 2026 | 17:34

Bos BI Ungkap Investasi Asing Masuk RI Rp7,1Triliun, Ditopang SBN

Rabu, 23 September 2026 | 17:18

Legislator Nasdem Dorong Pembenahan Pelayaran, Belajar dari Kereta Api

Rabu, 23 September 2026 | 17:09

Pemerintah Bisa Lebih Repot Bila Daya Beli Kelas Menengah Terus Tertekan

Rabu, 23 September 2026 | 17:01

Prabowo Pantau Karhutla Sumatra-Kalimantan, 209,78 Hektare Masih Dipadamkan

Rabu, 23 September 2026 | 16:52

Selengkapnya