Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Pengamat Ungkap Alasan Iran Dianggap Ancaman Serius Bagi AS

JUMAT, 11 JULI 2025 | 15:18 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Iran kembali menjadi sorotan dalam peta geopolitik global, tidak hanya karena ambisi nuklirnya, tetapi juga karena perannya sebagai bagian dari kekuatan multipolar baru yang menantang dominasi lama Barat. 

Hal tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Global Future Institute, Hendrajit, dalam pernyataannya di Jakarta pada Jumat, 11 Juli 2025.

Menurut Hendrajit, negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Eropa menilai Iran bukan sekadar aktor regional, tetapi bagian penting dari jaringan kekuatan global baru yang melibatkan Cina, Rusia, dan negara-negara berkembang yang kini dikenal dengan istilah Global South.


“Dalam pandangan AS, Inggris dan Uni Eropa, Iran merupakan mata rantai kekuatan global yang sedang bangkit bersama-sama Cina, Rusia, berpadu dengan aspirasi negara-negara berkembang yang sekarang kita kenal dengan Global South,” ungkap Hendrajit.

Ia menambahkan, kemunculan berbagai forum seperti Shanghai Cooperation Organization (SCO) sejak 2001, BRICS pada 2005, dan Forum Kerja Sama Ekonomi Eropa-Asia pada 2015 merupakan bukti pergeseran tatanan dunia dari unipolar menuju dunia multipolar yang lebih beragam.

“Inilah yang meresahkan Barat, terutama AS dan Inggris, yang merupakan dwitunggal penguasa tatanan global baik di era kolonialisme klasik berbasis merkantilisme maupun kolonialisme modern berbasis kapitalisme korporasi,” jelasnya.

Lebih jauh, Hendrajit menyoroti bagaimana forum-forum baru tersebut memungkinkan negara-negara yang sebelumnya terjebak konflik panjang, seperti Arab Saudi dan Iran atau India dan Pakistan duduk satu meja dan membangun kerja sama multilateral. 

Hal ini dinilai sebagai ancaman bagi skema geopolitik lama yang mengandalkan konflik dan ketergantungan negara-negara berkembang.

Dalam konteks ini, Iran dipandang sebagai simbol ketahanan dan kemandirian dunia non-Barat, terutama karena kemampuannya mempertahankan identitas budaya sebagai bagian dari kekuatan nasional yang tak bisa diprediksi oleh Barat.

"Selain Iran muncul sebagai mata rantai kekuatan global baru seturut semakin solidnya aliansi strategis Cina-Rusia, ketahanan budaya Iran yang mampu menjelma sebagai ketahanan nasional di luar perhitungan AS dan kekuatan-kekuatan mapan di Barat,” kata dia.

“Saya suka dengan frase yang digunakan pakar hubungan internasional Dina Sulaeman: Independensi Iran,” tambah Hendrajit.

Hendrajit juga menekankan bahwa kebangkitan Cina sebagai adidaya baru merupakan disruption besar bagi tatanan dunia yang telah dikuasai Barat sejak Perang Dunia II. Apalagi kebangkitan ini tidak mengikuti model neoliberalisme dan kapitalisme korporasi ala Amerika dan sekutunya.

“Yang lebih mengkhawatirkan lagi, kebangkitan Cina, aliansi strategis Cina-Rusia, yang kemudian membuahkan pergeseran geopolitik ke arah multipolar, memberi ruang alternatif bagi negara-negara berkembang,” tegasnya.

Situasi ini membuat Iran tidak lagi sekadar dianggap sebagai gangguan, melainkan ancaman strategis langsung oleh AS dan Israel. Hendrajit merujuk pada berbagai serangan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran seperti di Fordo, Natanz, dan Isfahan, yang ternyata tidak menggoyahkan stabilitas domestik Iran.

Sebaliknya, serangan balik Iran ke Israel menciptakan rasa ketidakpastian dan kekhawatiran di kalangan warga sipil Israel.

"Yang mana mereka tidak bersenyawa dengan budaya Timur Tengah. Sehingga tak ada patriotisme untuk hidup dan mati membela wilayahnya seperti Iran,” jelas Hendrajit.

Menutup pernyataannya, Hendrajit menekankan pentingnya Indonesia kembali pada Spirit Konferensi Asia Afrika 1955 dan KTT Gerakan Nonblok 1961 dalam merespons dinamika geopolitik saat ini. Menurutnya, politik luar negeri Bebas Aktif harus dijalankan secara konsisten berdasarkan visi nasional dalam Alinea 1 dan Alinea 4 Pembukaan UUD 1945.

"Kalau para founding father kita mampu jadi aktor kunci dan pelopor KAA Bandung 1955 maupun Gerakan Nonblok Beograd 1961, mengapa kita sekarang tidak bisa?” pungkasnya.

Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Eks Relawan: Jokowi Manusia Nggedabrus

Minggu, 01 Februari 2026 | 03:33

UPDATE

Wall Street Menguat Ditopang Kebangkitan Saham Teknologi

Selasa, 10 Februari 2026 | 08:11

Pemerintah Pastikan Beras Nasional Pasok Kebutuhan Jamaah Haji 2026

Selasa, 10 Februari 2026 | 08:07

KPK Akan Panggil Lasarus dan Belasan Anggota Komisi V DPR Terkait Kasus Suap DJKA

Selasa, 10 Februari 2026 | 07:49

Harga Emas Dunia Melejit, Investor Antisipasi Kebijakan The Fed 2026

Selasa, 10 Februari 2026 | 07:36

Menhaj Luncurkan Program Beras Haji Nusantara

Selasa, 10 Februari 2026 | 07:18

Raja Charles Siap Dukung Penyelidikan Polisi soal Hubungan Andrew dan Epstein

Selasa, 10 Februari 2026 | 07:15

Prabowo Paham Cara Menangani Kritik

Selasa, 10 Februari 2026 | 07:09

Saham UniCredit Melejit, Bursa Eropa Rebound ke Level Tertinggi

Selasa, 10 Februari 2026 | 07:00

Suara Sumbang Ormas

Selasa, 10 Februari 2026 | 06:57

Dirut BPR Bank Salatiga Tersangka Korupsi Kredit Fiktif

Selasa, 10 Februari 2026 | 06:40

Selengkapnya