Berita

Peserta 'Senior Officials Training Course on Blue Economy Development and Enviromental Protection for ASEAN countries' di Haikou, Hainan, China/Ist

Politik

China Ingin Selesaikan Masalah LCS Lewat Dialog dan Kerja Sama

KAMIS, 10 JULI 2025 | 03:03 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Konflik Laut China Selatan (LCS) yang terus menunjukkan eskalasi memanas berawal dari klaim China berdasarkan peta sejarah. Alhasil, beberapa negara ASEAN terutama Filipina meradang. Begitu juga Brunai Darussalam, Malaysia dan Vietnam.

Konflik ini semakin pelik ketika rivalitas negara-negara dengan hegemoni besar di Asia Pasifik ikut terlibat.

Terkait itu, China menyatakan komitmennya ingin mengajak dialog kepada negara-negara yang bersengketa. Dialog tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan perdamaian di kawasan Laut China Selatan.


Demikian disampaikan peneliti dari China Institute for Reform and Development (CIRD), Ma Chao saat menjadi pemateri dalam acara 'Senior Officials Training Course on Blue Economy Development and Enviromental Protection for ASEAN countries' di Haikou, Hainan, China, Senin, 7 Juli 2025.

"Kami ingin menyelesaikan persoalan dengan damai dan dialog serta kerja sama. China mengedepankan diplomasi damai melalui klausul joint operation di kawasan sengketa dengan pendekatan soft diplomacy melalui economy meeting dalam pengelolaan Laut China Selatan," kata dia.

Hal itu mengingat kawasan ASEAN dianggap penting bagi China, terutama dalam melancarkan program Belt and Road Initiative. Namun, di sisi lain China berharap tidak perlunya pihak ketiga dalam menyelesaikan sengketa yang terjadi Laut China Selatan.

"Dialog antar negara (di ASEAN) sengat penting bagi kami tanpa melibatkan kekuatan hegemoni besar di luar ASEAN," pungkas Ma Chao.

Sementara itu, perwakilan Indonesia dalam training tersebut, Ady Muzwardi sependapat bahwa kerja sama dalam pengelolaan Laut China Selatan dibutuhkan terutama buat Indonesia.

"Kami berharap ada perdamaian di Laut China Selatan, kerja sama ekonomi menurut kami lebih penting ketimbang mengedepankan militer untuk menyelesaikan persoalan," kata Ady yang juga Dosen di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) tersebut.

Peneliti di National Maritime Institute (Namarin) ini menekankan bahwa China tetap harus mengakui kedualatan wilayah suatu negara.

"Yang terpenting China mengakui bahwa itu adalah Laut Natuna milik Indonesia, ZEE Indonesia. Kita pun sangat terbuka untuk kerja sama pengelolaan Laut Natuna demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di Kepulauan Natuna," tutup Ady.

Pelatihan yang digelar CIRD itu berlangsung dari 2-22 Juli 2025 dengan berbagai rangkaian kegiatan seperti kunjungan ke beberapa tempat di Hainan yang terkait dengan pembangunan Blue Economy. Dalam peliputan khusus RMOL di lokasi, selain perwakilan dari Indonesia, acara ini pun diikuti oleh perwakilan beberapa negara di antaranya Malaysia, Thailand, Liberia dan Kosta Rika.    

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

KPK Terbitkan Sprindik Baru Terkait TPPU Wali Kota Madiun Maidi

Rabu, 23 September 2026 | 18:27

Pemerintah Sediakan Pendidikan Gratis Mulai TK hingga SMA Lewat Dana BOS

Rabu, 23 September 2026 | 18:19

IHSG-Rupiah Kompak Parkir di Zona Hijau Usai BI Tahan Suku Bunga

Rabu, 23 September 2026 | 17:58

Beli Tiket MotoGP Indonesia 2026 via wondr by BNI Diskon hingga Rp300 Ribu

Rabu, 23 September 2026 | 17:41

Anggota DPRD Hingga Petinggi LSM Diperiksa KPK dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 23 September 2026 | 17:38

Prabowo Bentuk Tim Khusus Kaji Rencana Gratiskan Kuliah di PTN

Rabu, 23 September 2026 | 17:34

Bos BI Ungkap Investasi Asing Masuk RI Rp7,1Triliun, Ditopang SBN

Rabu, 23 September 2026 | 17:18

Legislator Nasdem Dorong Pembenahan Pelayaran, Belajar dari Kereta Api

Rabu, 23 September 2026 | 17:09

Pemerintah Bisa Lebih Repot Bila Daya Beli Kelas Menengah Terus Tertekan

Rabu, 23 September 2026 | 17:01

Prabowo Pantau Karhutla Sumatra-Kalimantan, 209,78 Hektare Masih Dipadamkan

Rabu, 23 September 2026 | 16:52

Selengkapnya