Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Beda dengan Sri Mulyani, Ekonom Ungkap Sebenarnya Utang RI

SELASA, 08 JULI 2025 | 16:21 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Ekonom Bright Institute Awalil Rizky  menanggapi laporan terbaru pemerintah mengenai total utang negara yang telah mencapai Rp10.269 triliun pada 2025. 

Menurutnya, angka tersebut bukan kejutan, melainkan kelanjutan dari peringatan yang ia sampaikan sejak tahun lalu mengenai adanya komponen utang yang belum secara rutin disampaikan ke publik.

Rizki mengingatkan bahwa pada akhir 2023, pemerintah menyatakan jumlah utang sebesar Rp8.143 triliun, yang terdiri dari dua komponen utama pinjaman luar negeri dan Surat Berharga Negara (SBN). 


Namun, dalam dokumen resmi lain yang juga bersumber dari pemerintah, tercatat total utang saat itu sebenarnya mencapai Rp9.537 triliun.

“Waktu itu saya bilang begitu, tapi dibilang hoaks,” kata Rizki di kanal YouTube Hersubeno Point, dikutip Selasa, 8 Juli 2025.

Ia menjelaskan, perbedaan angka tersebut berasal dari penghitungan tambahan komponen utang seperti bunga jatuh tempo yang belum dibayar, utang subsidi ke BUMN seperti PLN dan Pertamina, serta kewajiban lainnya.

Kini, setelah Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan secara terbuka bahwa utang telah mencapai Rp10.269 triliun, Rizki menilai pengakuan itu justru memperkuat klaimnya. 

“Ini bukan lanjutan dari Rp8.143 T, tapi dari Rp9.537 T. Saya heran mengapa (Menteri Keuangan) Sri Mulyani kemudian mengemukakan ini? artinya jujur inilah utang kita,” ujarnya.

Ia juga menyoroti satu komponen utang lain yang selama ini belum diperhitungkan secara transparan yaitu kewajiban pensiun jangka panjang. 

Menurutnya, beban pembayaran pensiun bagi jutaan pensiunan PNS dan TNI/Polri, yang masih ditanggung melalui belanja pegawai APBN, seharusnya sudah dialihkan sejak dini ke lembaga seperti Taspen atau Asabri.

“Kalau dihitung dengan kewajiban pensiun yang nilainya makin besar karena jumlah pensiunan bertambah dan harapan hidup meningkat, maka total kewajiban pemerintah sebenarnya mencapai Rp13.825 triliun,” jelas Rizki.

Ia mengingatkan bahwa sejumlah negara telah memisahkan pengelolaan dana pensiun dari anggaran negara demi transparansi dan akuntabilitas fiskal. 

"Jadi kalau dipertanyakan kenapa segitu? Karena kewajiban pensiun sebagian besar diambil oleh APBN, karena APBN tidak menyerahkan kepada pihak lain ketika mereka masih aktif," pungkasnya.

Populer

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Relawan Jokowi: Rismon Sianipar Pengecut!

Jumat, 13 Maret 2026 | 01:05

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

UPDATE

Prediksi Mossad Gagal, Netanyahu Disebut Murka ke Direktur Intelijen

Senin, 23 Maret 2026 | 13:39

Kasus Andrie Yunus Bisa Diusut Timwas Intelijen DPR

Senin, 23 Maret 2026 | 13:23

Pengamat: Trump Inkonsisten Soal Selat Hormuz

Senin, 23 Maret 2026 | 13:09

Daftar Negara yang Terancam Bangkrut Akibat Perang Iran

Senin, 23 Maret 2026 | 12:53

Gebrakan Xiaomi SU7 2026: Ludes 15 Ribu Unit dalam 34 Menit, Daya Jelajah Tembus 900 Km!

Senin, 23 Maret 2026 | 12:37

H+2 Lebaran, Emas Antam Turun Rp50 Ribu

Senin, 23 Maret 2026 | 12:35

WFH Jangan Ganggu Kinerja Perusahaan, DPR Minta Pemerintah Hati-hati

Senin, 23 Maret 2026 | 12:31

124 Perusahaan Truk Kena Sanksi Saat Lebaran, Mayoritas Pelanggaran ODOL

Senin, 23 Maret 2026 | 12:08

Menhub Siapkan Strategi Khusus Amankan Arus Balik Lebaran 1447 H Lintas Sumatra-Jawa

Senin, 23 Maret 2026 | 11:27

DJP: Aktivasi Akun Coretax Tembus 16,6 Juta, Lapor SPT Tahunan Capai 8,7 Juta

Senin, 23 Maret 2026 | 11:03

Selengkapnya