Berita

Ilustrasi/Ist

Politik

Indonesia Perlu Lembaga Baru Sejenis BATAN

SELASA, 08 JULI 2025 | 02:59 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Peneliti Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) Rohadi Awaludin, menyambut baik rencana Pemerintah Indonesia menjalin kerjasama pengembangan teknologi nuklir dengan Rusia. Rohadi menyebut keputusan Presiden Prabowo memilih Rusia sebagai mitra mengembangankan teknologi berbasis nuklir sangat tepat. 

Ia menyebut Rusia memiliki pengalaman yang panjang dalam mengembangkan nuklir untuk berbagai keperluan. 

“Salah satu peluang terbesar dari kerja sama ini adalah pengalaman panjang yang dimiliki Rusia dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi nuklir. Rusia merupakan negara dengan sejarah yang kuat dalam penggunaan energi nuklir, tidak hanya untuk pembangkitan listrik, tetapi juga untuk keperluan non-energi seperti di bidang kesehatan, industri, serta pertanian dan pangan,” ujar peneliti senior bidang nuklir BATAN ini dalam keterangannya, Senin malam, 7 Juli 2025.


Rohadi menjelaskan Rusia telah menorehkan sejarah penting sejak masa Uni Soviet dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di dunia yang terletak di Obninsk, sekitar 100 km dari Moskow, pada tahun 1954. PLTN ini memiliki kapasitas 5 MW dan menjadi tonggak sejarah pemanfaatan energi nuklir untuk kepentingan sipil secara global.

Selama era Perang Dingin, Uni Soviet mengembangkan berbagai jenis reaktor nuklir, termasuk RBMK dan VVER. Reaktor RBMK dikenal luas karena digunakan di PLTN Chernobyl. 

Namun, pasca tragedi tersebut, Rusia melakukan reformasi menyeluruh terhadap sistem reaktor, terutama dengan mengembangkan reaktor tipe VVER (reaktor air bertekanan/PWR). Salah satu varian terbaru, VVER-1200, merupakan reaktor generasi III+ yang mengedepankan fitur keselamatan pasif, efisiensi tinggi dan umur operasi hingga 60 tahun. Reaktor ini telah diekspor dan dibangun di berbagai negara seperti India, Turki, Mesir, dan Bangladesh.

Selain itu, Rusia juga telah mengembangkan PLTN tipe Small Modular Reactor (SMR) yang merupakan adaptasi dari teknologi reaktor nuklir kapal selam. Salah satunya adalah RITM-200 yang hadir dalam dua varian: RITM-200M untuk basis terapung (marine-based) dan RITM-200N untuk basis darat (land-based). PLTN ini memiliki kapasitas 55 MWe dan dirancang untuk beroperasi selama 6–7 tahun tanpa perlu pengisian ulang bahan bakar.

Rohadi menambahkan kerja sama bidang nuklir dengan Rusia memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun Kerjasama itu diiringi pula sejumlah tantangan yang harus dikelola dengan bijak. Salah satunya persepsi publik terhadap kejadian Chernobyl serta kondisi geopolitik saat ini merupakan tantangan yang harus diatasi. 

“Karena itu Pemerintah Indonesia perlu mengambil langkah strategis guna memaksimalkan peluang serta mengatasi tantangan yang ada,” tegasnya.

Untuk mengatasi hal ini, diperlukan upaya komunikasi dan edukasi publik yang intensif guna memberikan pemahaman yang benar mengenai teknologi reaktor modern Rusia, seperti VVER, yang telah terbukti aman dan digunakan secara luas di berbagai negara. Sayangnya, sejak dileburnya BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) ke dalam BRIN, Indonesia saat ini tidak memiliki institusi yang secara khusus bertanggung jawab dalam edukasi publik mengenai teknologi nuklir. Pemerintah perlu mempertimbangkan kembali untuk mengaktifkan lembaga semacam BATAN guna memperkuat literasi nuklir di masyarakat Indonesia.

“Tantangan kedua berasal dari dinamika geopolitik global. Dalam situasi internasional yang penuh ketegangan dan perubahan cepat, peningkatan intensitas kerja sama dengan Rusia dapat menimbulkan dampak terhadap hubungan ekonomi dan politik Indonesia dengan negara lain. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk merancang formula kerja sama yang tepat dengan Rusia, yang dapat selaras dengan strategi diplomasi dan kepentingan nasional Indonesia secara keseluruhan,” pungkas Rohadi.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Golkar: Putusan MK soal Gibran jadi Pukulan Telak

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 12:00

UPDATE

Gus Lilur Laporkan Dugaan Jual Beli Suara Muktamar NU ke KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 00:20

Ledakan Besar Guncang Pasar Cimanggis-Ciputat, 2 Orang Dikabarkan Tewas

Kamis, 15 Oktober 2026 | 00:00

Danantara Minta Maaf dan Ambil Alih PLN Batam Usai Listrik Padam

Rabu, 14 Oktober 2026 | 23:36

Pemerintah Diminta Gencar Sosialisasikan Beasiswa Pendidikan untuk Anak Papua

Rabu, 14 Oktober 2026 | 23:08

Ijazah Keluarga Jokowi itu Terus Melahirkan Masalah Bangsa

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:54

GoTo Gelar RUPSLB, Restui Pembatalan Saham Tresuri dan Perombakan Direksi

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:26

Terdakwa Pemerasan Bangun Paulus Dijemput Paksa di Tempat Hiburan, Alasan Mangkir Sakit

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:17

Kaya Omega-3, Bumi Wijaya Pilih Ikan Sidat untuk Gizidat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:07

Indonesia-Malaysia Perkuat Kerja Sama Imigrasi, Pencegahan TPPO jadi Perhatian

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:05

Pertamina Patra Niaga Maksimalkan Langkah Pemulihan Layanan BBM di Bali

Rabu, 14 Oktober 2026 | 21:52

Selengkapnya