Berita

Presiden Prabowo Subianto bersama pemimpin negara lain di BRICS Brasil/Setkab

Publika

Risiko dan Peluang dari Dinamika Geopolitik Global

SENIN, 07 JULI 2025 | 11:36 WIB | OLEH: PROF DIDIK J RACHBINI

DIPLOMASI Indonesia yang cukup agresif di Global South dan BRICS+ adalah politik bebas aktif yang baik dan merupakan upaya untuk tetap eksis dan survive di dunia internasional, yang rapuh secara geopolitik.

Meskipun belum memiliki aliansi militer kuat, tetapi kekuatan ekonomi Brics+ sangat besar dan signifikan.

KTT BRICS tanggal 6 dan 7 Juli 2025 dengan tema Strengthening Global South Cooperation Towards More Inclusive and Sustainable Governance, dihadiri 30 pemimpin negara dan pemimpin organisasi internasional. Ini menandakan BRICS akan berperan di dalam dunia internasional secara signifikan.


Dunia melihat dua kutub persaingan Amerika Serikat dan China. Meskipun terdapat dua kekuatan besar, yang sedang bersaing tersebut (AS dan China), tetapi dunia sejatinya mengarah ke realitas global yang multipolar.

Ada kekuatan yang tidak dapat diabaikan, sebagai pemain global yang signifikan, yaitu Uni Eropa (khususnya Jerman dan Prancis), India, Turki, Iran, Brasil, dan negara-negara ASEAN semakin menentukan arah regional. Lembaga internasional, seperti WTO,PBB, dan IMF mulai kehilangan pengaruh karena konflik antar-blok.

Dinamika Global yang akan mengubah peta ekonomi dunia adalah perang dagang & teknologi AS vs China. Amerika Serikat melarang ekspor chip canggih ke China dan membatasi akses China terhadap teknologi AI dan semikonduktor. China membalasnya dengan strategi swasembada teknologi.

Ekonomi global sudah terfragmentasi. Dunia menuju deglobalisasi parsial, lebih banyak proteksionisme, “friend-shoring”, dan pemisahan blok dagang (barat vs timur).

Tumbuhnya BRICS+ dan Global South: Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan membentuk aliansi baru yang menarik lebih banyak negara berkembang, sebagai tandingan G7.

Bersamaan dengan itu ada krisis iklim yang mengancam bumi dan semua warga dunia. Ini merupakan bencana alam global dan kemudian menja tekanan transisi energi bersinggungan dengan krisis pangan dan energi.

Inilah yang sesungguhnya menjadi peluang bagi Indonesia di tengah krisis multidimensi atau polycrisis pada saat ini. Peluang utama itu tidak lain adalah pengembangan industri hijau di segala sektor karena upaya dan kebijakan ini akan mendapat dukungan dunia, pemerintah maupun swasta.

Ini sejalan dengan kebijakan industri kita dengan pengembangan tambang nikel, pabrik baterai EV dan mengarah pada ekspor bernilai tinggi untuk menambah devisa dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi agar tidak jatuh di bawah 5 persen, tetapi naik perlahan menjadi 6 persen dan kemudian mendekati 7 persen beberapa tahun mendatang.

Jadi krisis adalah peluang dan harus dimanfaatkan. Jangan membiarkan industri pada saat ini hanya tumbuh 3-4 persen saja jika tanpa upaya kebijakan yang radikal.

Dengan kebijakan yang sama, menteri yang sama dan program yang sama, maka pertumbuhan ekonomi tidak akan beranjak naik karena sektor industri yang menjadi bagian terbesar dari kue ekonomi tumbuh rendah.

Peluang yang signifikan lainnya adalah program dan kebijakan pangan dan energi berkelanjutan. Ini merupakan program pokok pemerintah sekarang, yang begitu serius menjadi perhatian presiden langsung.

Petani beras distimulasi langsung dengan kebijakan harga tinggi sehingga produksi dan stok beras meningkat. Ini bisa sinambung jika diikuti oleh kebijakan produktivitas di tingkat petani on farm dan efisiensi dalam tata niaganya.

Indonesia tetap menjalankan kebijakan bebas aktif, tidak masuk ke dalam blok barat maupun Timur. Ini penting dipertahankan hingga menempati posisi strategis secara geopolitik dan menjadi “Switzerland-nya Asia” yang dipercaya semua pihak.

Ini akan memperkuat Indonesia dan ASEAN sebagai pemain global yang signifikan dalam skala ekonomi, pasar dan jumlah populasinya.

Kehadiran Presiden Prabowo dalam pertemuan BRICS akan memberi makna strategis bagi kebangkitan diplomasi Indonesia. Peluang dan manfaatnya terbuka akses pendanaan alternatif, investasi, peluang kerja sama teknologi, hingga diversifikasi mitra dagang.

Yang paling penting, Indonesia bisa memainkan peran sebagai kekuatan penyeimbang global di tengah pertarungan blok Barat dan Timur.

Rektor Universitas Paramadina

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya