Berita

Ilustrasi/RMOL

Bisnis

Risiko Perang Mereda, Harga Minyak Dunia Turun Tipis

SELASA, 01 JULI 2025 | 08:39 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga minyak dunia sedikit turun pada Senin, 30 Juni 2025, didorong meredanya kekhawatiran akan perang di Timur Tengah serta kemungkinan peningkatan produksi oleh negara-negara penghasil minyak (OPEC+) pada Agustus mendatang.

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent turun 16 sen atau 0,2 persen menjadi 67,61 Dolar AS per barel. Sementara kontrak Brent untuk bulan September ditutup di 66,74 Dolar AS.

Harga minyak mentah AS jenis West Texas Intermediate (WTI) juga turun 41 sen atau 0,6 persen, menjadi 65,11 Dolar AS per barel.


Sepanjang Juni, harga Brent dan WTI masih naik masing-masing sekitar 6 persen dan 7 persen. Namun pekan lalu, keduanya mencatat penurunan mingguan terbesar sejak Maret 2023.

Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak hingga di atas 80 Dolar AS per barel akibat perang yang berlangsung 12 hari setelah Israel menyerang fasilitas nuklir Iran pada 13 Juni lalu. Tapi kini harga kembali turun karena gencatan senjata yang dianggap cukup stabil.

“Gencatan senjata yang cepat ini tampaknya berhasil, sehingga kekhawatiran soal gangguan pasokan pun ikut mereda,” kata analis energi John Kilduff dari Again Capital.

Dari sisi produksi, Amerika Serikat mencatat rekor tertinggi dengan memproduksi 13,47 juta barel minyak per hari pada April 2025, sedikit naik dari bulan sebelumnya. Rekor produksi minyak AS ini juga ikut menekan harga minyak.

Sementara itu, empat sumber dari OPEC+ menyebutkan bahwa kelompok produsen minyak ini akan menambah produksi sebesar 411.000 barel per hari pada Agustus, sama seperti kenaikan yang sudah dilakukan pada Mei, Juni, dan Juli.

Jika benar terjadi, maka total kenaikan pasokan dari OPEC+ sepanjang tahun ini akan mencapai 1,78 juta barel per hari, atau lebih dari 1,5 persen dari permintaan global.

"Tekanan pasokan ini sepertinya masih belum diperhitungkan sepenuhnya pasar. Jadi harga minyak masih bisa turun lagi," kata Ole Hansen, analis komoditas dari Saxo Bank.

OPEC+ dijadwalkan mengadakan pertemuan lagi pada 6 Juli 2025.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Tak Perlu Takut dengan Ide Kewarganegaraan Ganda Prabowo

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:26

Cara Mengubah Desil DTSEN Secara Online dan Offline, Lengkap dengan Langkahnya

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:15

Tak Cuma Revisi, DPR Sepakat Regulasi Baru Migas

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:14

GBNI Dukung Program Kerakyatan Prabowo

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:37

B50 Perkuat Kemandirian Energi, Hemat Devisa, dan Dorong Transformasi Ekonomi

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:34

Presiden Perintahkan Penanganan Darurat, Wamensos Terjun ke Lokasi Gempa NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:28

21 Kantong Parkir Disiapkan Saat Perayaan HUT ke-81 RI di Jakarta

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:31

MBG Harus Kembali ke Tujuan Awal Bukan Jadi Ladang Bisnis

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:21

Ruas Jalan di Jakarta Direkayasa Saat Perayaan HUT ke-81 RI

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:12

Besok! Ongkos Transjakarta, MRT, dan LRT Jakarta Cuma Rp8

Minggu, 16 Agustus 2026 | 07:30

Selengkapnya