Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Ekonomi Israel Tertekan! Kerugian Akibat Perang dengan Iran Nyaris Tembus Rp300 Triliun

KAMIS, 26 JUNI 2025 | 19:45 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Konflik selama 12 hari antara Israel dan Iran telah meninggalkan tekanan mendalam terhadap perekonomian Tel Aviv. 

Seorang analis pertahanan, Krieg, memperkirakan Israel mengalami kerugian 11,5 miliar hingga 17,8 miliar Dolar AS (Rp186 triliun-Rp288 triliun) atau setara 2,1–3,3 persen dari PDB-nya yang sebesar 540 miliar Dolar AS.

“Angka-angka ini mencakup pengeluaran militer, kerusakan infrastruktur, dan pencegatan lebih dari 400 rudal Iran,” kata Krieg kepada TRT World, Kamis 26 Juni 2025.


Namun, di balik biaya langsung tersebut, Krieg juga memperkirakan adanya lapisan gangguan yang lebih dalam, yaitu imbas banyaknya penutupan bisnis, penangguhan penerbangan komersial, kesenjangan tenaga kerja di bidang pertanian dan konstruksi, hingga eksodus yang telah memperburuk ketegangan ekonomi. 

“Biaya ini juga termasuk penghentian investasi dan penundaan megaproyek, mungkin memiliki konsekuensi jangka panjang,” kata Krieg.

Sementara itu, menurut laporan Financial Express, Israel telah menghabiskan sekitar 5 miliar dolar AS (Rp81 triliun) hanya dalam pekan pertama serangan terhadap Iran.

Dalam perang tersebut, Israel ditaksir merogoh kocek per hari mencapai 725 juta Dolar (Rp11 triliun) dengan rincian 593 juta Dolar untuk operasi ofensif dan 132 juta Dolar untuk pertahanan serta mobilisasi militer. 

The Wall Street Journal bahkan mencatat, biaya pengoperasian sistem pertahanan udara Israel bisa mencapai antara 10 hingga 200 juta Dolar per hari.

Asisten profesor keuangan di Universitas Amerika Palestina, Naser Abdelkarim juga memperkirakan dampak langsung dan tidak langsung dari perang ini bisa menelan biaya hingga 20 miliar Dolar AS bagi Israel. 

“Defisit anggaran Israel diperkirakan akan meningkat sebesar 6 persen dan pembayaran kompensasi kepada warga yang terdampak akan semakin memperburuk keuangan publik negara tersebut,” katanya kepada Anadolu.

Jumlah pengungsi internal selama pekan pertama konflik tercatat melampaui 10.000 jiwa, dengan 36.465 warga mengajukan kompensasi ke Otoritas Pajak Israel.

Lebih lanjut, Abdelkarim menyebut pemerintah Israel sedang mempertimbangkan tiga langkah untuk menutupi defisit dengan memangkas belanja untuk sektor kesehatan dan pendidikan, menaikkan pajak, atau mengambil utang baru, yang berpotensi mendorong rasio utang publik melewati 75 persen terhadap pendapatan nasional.

Kementerian Keuangan Israel mengakui bahwa cadangan keuangan negara “menipis dengan cepat” dan telah meminta tambahan dana sebesar 857 juta dolar AS untuk Kementerian Pertahanan, seraya memotong anggaran sebesar 200 juta dolar AS dari sektor kesehatan, pendidikan, dan layanan sosial. 

Menurut surat kabar ekonomi Globes, sebagian besar dana itu akan digunakan untuk membiayai 450.000 tentara cadangan yang dimobilisasi selama perang.

Perekonomian Israel juga terpukul dari sisi moneter. Nilai tukar Shekel terhadap Dolar AS diketahui sempat merosot ke level 3,7 sebelum pulih ke 3,5. Abdelkarim menyebut pelemahan dolar dan spekulasi pasar turut membantu pemulihan sementara tersebut.

Sementara itu, serangan langsung Iran ke infrastruktur vital seperti kilang minyak Bazan di Haifa diperkirakan menyebabkan kerugian hingga 3 juta dolar AS per hari, menurut Financial Times. 

Tak hanya sektor transportasi, pasar keuangan Israel pun ikut goyah. Serangan rudal Iran yang menghantam kawasan bursa, sektor yang menyumbang 8 persen dari total ekspor Israel menyulut ketakutan di Bursa Efek Tel Aviv. 

“Pukulan terhadap saham tersebut menyebabkan kepanikan di kalangan investor, yang menyebabkan aksi jual dan mempercepat penurunan pasar, yang pada gilirannya, telah membahayakan stabilitas ekonomi dalam jangka pendek,” tulis laporan Institut Berlian Israel.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

UPDATE

Pentagon Ungkap Biaya Perang Iran: 6 Hari Tembus Rp190 Triliun

Kamis, 12 Maret 2026 | 08:11

Pasar 1001 Malam: Strategi Kemenko PM Berdayakan UMKM dan Bantu Penyintas Bencana

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:58

Harga Emas Dunia Turun Tertekan Sentimen Suku Bunga

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:47

Dukung PP TUNAS, Kemenag Siapkan Kurikulum Etika Digital dan Santri Mahir AI

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:23

Pasar Eropa Terkoreksi, Saham Rheinmetall Anjlok 8 Persen

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:14

IEA Sepakat Lepas 400 Juta Barel Cadangan Minyak

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:01

Hari Ini Yaqut Cholil Dipanggil KPK sebagai Tersangka

Kamis, 12 Maret 2026 | 06:49

Rampai Nusantara Ajak Publik Optimistis di Tengah Dinamika Global

Kamis, 12 Maret 2026 | 06:42

Amr bin Ash Pembuka Gerbang Benua Afrika

Kamis, 12 Maret 2026 | 06:00

Kader Gerindra Ujung Tombak Mendukung Program Prabowo

Kamis, 12 Maret 2026 | 05:52

Selengkapnya