Berita

Menteri Kebudayaan Fadli Zon/RMOL

Politik

Proyek Fadli Zon Tulis Ulang Sejarah Tidak Terkoordinasi Baik

RABU, 25 JUNI 2025 | 20:48 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Inisiatif penulisan ulang sejarah dari Menteri Kebudayaan Fadli Zon diduga tanpa berkomunikasi dengan Presiden Prabowo Subianto.

Akibatnya, inisiatif tersebut berujung polemik dan berpotensi mengganggu stabilitas politik dalam negeri.

Direktur Eksekutif Skala Data Indonesia, Arif Nurul Imam mengatakan, inisiatif penulisan ulang sejarah nasional yang dipimpin Menteri Fadli Zon tergolong blunder politik.


Proyek ini menimbulkan resistensi publik karena minim pelibatan pakar dan tidak melalui koordinasi matang dengan Presiden Prabowo Subianto.

“Bisa jadi ini inisiatif Fadli Zon. Harusnya karena ini kebijakan strategis, semestinya tetap dilaporkan dan dikonsultasikan secara utuh kepada Presiden,” kata Arif dalam keterangannya, Rabu, 25 Juni 2025.

Arif yakin Prabowo tidak mendapat laporan secara utuh dan belum dipahami secara penuh terkait inisiatif anak buahnya itu. Jika benar, maka pendekatan ini rawan memicu kontroversi dan ketegangan politik.

“Ini seperti kasus kelangkaan gas waktu itu, muncul kebijakan strategis tanpa koordinasi. Sangat berisiko bila tidak dievaluasi lebih dulu,” kritiknya.

Arif juga menyayangkan minimnya transparansi ke publik dan parlemen. Ia menyoroti fakta banyak anggota Komisi X DPR tidak mengetahui proyek penulisan ulang sejarah.

“Adanya kabar bahwa sebelumnya Komisi X DPR tidak mengetahui proyek ini, tentu menjadi catatan serius soal koordinasi antarlembaga,” ujar Arif.

Padahal, ia menilai penulisan ulang sejarah harus dilakukan komprehensif dan bebas dari bias kepentingan politik. Yang tidak kalah penting adalah melibatkan akademisi, sejarawan, dan masyarakat sipil melalui diskusi publik terbuka.

“Sebelum diluncurkan, ini harus dievaluasi secara menyeluruh. Jangan sampai sejarah dipakai sebagai alat legitimasi kekuasaan,” pungkasnya.

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Rismon Dituding Bohong soal Ijazah Jokowi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:04

UPDATE

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

Lima Destinasi Wisata di Bogor Bisa Jadi Alternatif Nikmati Libur Lebaran

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:02

Program Mudik Gratis Presisi 2026 Cermin Nyata Transformasi Polri

Rabu, 25 Maret 2026 | 05:51

Negara-negara Teluk Alergi Iran

Rabu, 25 Maret 2026 | 05:37

Jika Rakyat Tak Marah, Roy Suryo Cs sudah Lama Ditahan

Rabu, 25 Maret 2026 | 05:13

Gegara Yaqut, KPK Tak Tahan Digempur +62 Siang Malam

Rabu, 25 Maret 2026 | 04:23

Waspada Kemarau Panjang Landa Jawa Barat

Rabu, 25 Maret 2026 | 04:15

KPK Ikut Ganggu Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 04:01

Elektrifikasi Total

Rabu, 25 Maret 2026 | 03:37

Kasus Penahanan Yaqut Jadi Kemunduran Penegakan Hukum

Rabu, 25 Maret 2026 | 03:18

Selengkapnya