Berita

Pakar intelijen dan keamanan nasional Ridlwan Habib (tangkapan layar/RMOL)

Politik

Propaganda Media Sosial Bisa Ancam Pemerintahan Prabowo

RABU, 25 JUNI 2025 | 13:58 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pakar intelijen dan keamanan nasional Ridlwan Habib mengingatkan potensi gangguan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui operasi intelijen non-konvensional yang bersumber dari entitas oligarki dalam negeri. 

Menurutnya, bentuk serangan yang paling mungkin dilakukan saat ini adalah melalui propaganda di media sosial serta pengkondisian berbasis individu atau human intelligence.

"Yang paling mungkin dilakukan saat ini adalah social media intelligence, propaganda melalui platform seperti TikTok, YouTube, WhatsApp group, hingga Snack Video. Ini efektif karena bisa langsung masuk ke komunitas-komunitas warga, terutama di desa," kata Ridlwan di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Rabu 25 Juni 2025.


Tenaga Ahli Utama Bidang Keamanan di Kantor Staf Presiden periode 2019–2024 menyebut bahwa pola narasi yang mulai terbentuk saat ini adalah bahwa pemerintah akan gagal. Sehingga publik didorong untuk bersikap permisif terhadap kemungkinan kegagalan tersebut. 

Namun, yang dinilai lebih berbahaya adalah strategi pengkondisian teritorial yang melibatkan pengaruh langsung kepada individu-individu dalam jaringan tertutup.

Ada indikasi pelaku dari organisasi tertentu bergerak dari kota ke kota membentuk basis baru dengan sistem komunikasi yang sangat tertutup. 

"Kalau pengkondisian ini dilakukan masif maka tinggal tunggu titik trigger. Tinggal tunggu waktu yang disepakati oleh organisasi yang ingin merusak ini," ungkapnya.

Ridlwan menegaskan bahwa indikasi kegiatan tersebut sudah terdeteksi, meskipun ia tidak menyebutkan secara eksplisit aktor di baliknya. Ia mempercayai bahwa lembaga intelijen negara telah memahami situasi ini dan tengah melakukan langkah-langkah pengawasan.

“Dari beberapa pernyataan Presiden Prabowo dalam forum-forum resmi, beliau menyebut soal ancaman dari intelijen jahat dan kepentingan asing yang ingin merusak Indonesia dari dalam. Ini sudah disampaikan setidaknya tiga kali. Saya menganggap teman-teman kita di BIN memahami ini," pungkasnya.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya