Berita

Konferensi Pers Ketua Lemhanas, Tubagus Ace Hasan Syadzili, mengumumkan penyelenggaraan Forum Geopolitik Jakarta ke-9, di Hotel Borobudur, Jalan Lapangan Banteng, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Selasa, 24 Juni 2025/RMOL

Politik

Lemhannas Gagas Forum Geopolitik Jakarta Hadapi Fragmentasi Global

SELASA, 24 JUNI 2025 | 21:03 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas) menginisiasi sebuah forum, untuk menjawab tantangan global saat ini yang tak menentu akibat fragmentasi sejumlah negara.

Gubernur Lemhanas, TB Ace Hasan Syadzili menjelaskan, pihaknya menggagas Forum Geopolitik Jakarta 2025, dengan tajuk “Fragmentasi Geoekonomi dan Ketahanan Energi".

Sejak pertama kali digelar pada tahun 2017, Ace menjelaskan, Forum Geopolitik Jakarta telah menjadi wadah utama pertukaran gagasan terkait isu-isu geopolitik dan strategis yang krusial, serta memperkuat dialog antar pemangku kepentingan untuk membangun ketahanan nasional dan kawasan. 


"Lemhanas dengan bangga menyelenggarakan Forum Geopolitik Jakarta ke-9 (Jakarta Geopolitical Forum/JGF IX/2025) pada tanggal 24 dan 25 Juni 2025 di Hotel Borobudur, Jakarta," ujar Ace dalam jumpa pers di Hotel Borobudur, Jalan Lapangan Banteng, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Selasa, 24 Juni 2025.

Dia mengungkapkan, Forum Geopolitik Jakarta tahun 2025 ini, selain melanjutkan tradisi juga menghadirkan ruang diskusi yang sangat relevan dan penting, di tengah disrupsi besar pada sistem ekonomi dan energi dunia sekarang ini.

Politisi Partai Golkar itu memaparkan, persoalan global saat ini meningkat karena ketegangan geopolitik, kerentanan rantai pasok, serta penggunaan energi sebagai alat tekanan politik. 

"Konflik Rusia-Ukraina yang masih berlangsung, eskalasi antara Israel dan Iran, serta ketidakstabilan di Selat Hormuz, semuanya berkontribusi pada ketidakpastian global, lonjakan harga energi, dan gangguan rantai pasok dunia," urainya.

Di samping itu, dampak dari Konflik Rusia-Ukraina yang memasuki tahun keempat telah memberikan guncangan besar pada pasar energi global, seperti Eropa yang sebelumnya sangat bergantung pada minyak dan gas Rusia terpaksa mempercepat transisi ke sumber energi alternatif. 

"Sementara, sanksi internasional mengalihkan ekspor Rusia ke pasar Asia. Gangguan pasokan ini menyebabkan harga energi melonjak dan volatilitas meningkat, mendorong negara-negara di seluruh dunia untuk meninjau ulang strategi energi mereka dan berinvestasi pada ketahanan serta diversifikasi," sambungnya menjelaskan.

Ace mengacu pada Badan Energi Internasional (IEA) yang mencatat, krisis kalo ini justru dapat  mempercepat peralihan global dari bahan bakar fosil, seiring upaya negara-negara memperkuat kemandirian dan ketahanan energi. Tapi di saat yang sama, pecahnya konflik terbuka antara Israel dan Iran telah mengguncang pasar  minyak dan gas dunia. 

"Serangan militer dan aksi balasan telah berdampak pada infrastruktur vital, dengan potensi eskalasi lebih lanjut yang dapat mengganggu aliran energi dari Timur Tengah, wilayah kunci pasokan energi global," tutur Ace.

"Ketidakpastian akibat konflik ini telah mendorong lonjakan harga minyak, dan mempertegas kerentanan pasar global terhadap guncangan geopolitik," sambungnya.

Oleh karena itu, Ace menganggap kondisi global saat ini secara tidak langsung menuntut dan sekaligus menuntun pemerintah Indonesia untuk mempersiapkan strategi menghadapi tekanan geopolitik dan geoekonomi yang pertandanya sudah nampak.

"Urgensi penyelenggaraan JGF IX/2025 tidak dapat dipandang sebelah mata. Ekonomi global tengah mengalami transformasi mendasar, didorong oleh investasi masif pada energi terbarukan dan pergeseran kekuatan antarnegara," demikian Ace menambahkan. 

Diagendakan, Presiden Prabowo Subianto akan menghadiri Forum Geopolitik Jakarta ke-9 ini, beserta jajaran menteri Kabinet Merah Putih. Selain itu, juga akan dihadirkan pakar energi global, dan peneliti terkemuka.

Struktur forum akan mendorong debat konstruktif, kolaborasi lintas sektor, serta pertukaran praktik terbaik untuk menghadapi tantangan ketahanan energi, transformasi ekonomi, dan risiko geopolitik yang saling terkait.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya