Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Perang Mempertahankan Harga Diri, Harga Diri Siapa?

OLEH: KHAIRUL A. EL MALIKY
SENIN, 23 JUNI 2025 | 07:58 WIB

SATU peluru meluncur dari drone, lalu disambut dengan misil, dan ditutup dengan pernyataan diplomatik yang baunya lebih amis dari darah di medan perang. Dunia seperti mengulang episode lama, hanya dengan pemeran baru dan senjata yang lebih canggih. Israel, Iran, dan Amerika kembali saling pamer otot. Semua atas nama satu hal: harga diri.

Tapi mari kita jujur, harga diri siapa yang sebenarnya sedang dipertahankan?

Harga Diri Versi Israel: Martabat Negara atau Ego yang Terluka?


Israel, negeri yang selalu merasa di bawah ancaman eksistensial, tampaknya punya standar ganda soal "pertahanan". Ketika Iran menyerang, itu dianggap agresi biadab yang tak manusiawi. Tapi ketika Israel melumat Gaza dengan jet tempur dan artileri, itu namanya “langkah preventif untuk keamanan nasional”.

Lucunya, Israel berbicara soal harga diri, tapi lupa bahwa harga diri tak pernah bisa dibangun di atas puing-puing rumah warga sipil. Mereka mengklaim membela bangsa Yahudi dari ancaman Iran dan sekutunya, tapi di waktu yang sama menghancurkan hak hidup bangsa Palestina setiap hari. Yang dipertaruhkan bukan cuma harga diri, tapi juga kemanusiaan. Dan sering kali, yang dikorbankan adalah anak-anak.

Israel merasa berhak menentukan siapa musuh, kapan perang dimulai, dan kapan perdamaian dianggap sebagai kelemahan. Ini bukan lagi soal martabat, tapi kerakusan yang dibalut retorika keamanan.

Iran: Membela Umat atau Panggung Geopolitik?

Iran, di sisi lain, tampak begitu percaya diri dengan narasi "membela umat Islam" dan "melawan Zionisme". Retorika Ayatollah pun dipenuhi kata-kata seperti kehormatan, syahid, dan jihad. Tapi apakah benar ini semua demi rakyat Palestina atau ada agenda yang lebih dalam dan tak kasat mata?

Iran memang punya alasan sejarah untuk berseteru dengan Israel. Tapi dalam realitas politik, tidak semua alasan suci betul-betul suci. Di balik jargon perjuangan, ada kalkulasi strategi yang dingin. Iran butuh panggung untuk menunjukkan diri sebagai poros perlawanan dunia Islam. Maka serangan ke Israel, yang pasti akan memicu respons dari AS dan sekutunya, jadi ajang pembuktian “harga diri” bangsa Persia.

Tapi lagi-lagi, harga diri siapa? Rakyat Iran sendiri justru tengah bergulat dengan sanksi ekonomi, pengangguran, dan represi politik. Apakah mereka betul-betul ingin perang besar atau sekadar jadi penonton di layar kaca ketika para elit bermain catur dengan darah rakyat?

Amerika: Polisi Dunia atau Provokator Profesional?

Lalu muncullah Amerika Serikat. Negara yang selalu siap tampil bak jagoan Hollywood, lengkap dengan efek suara ledakan dan latar belakang musik heroik. Mereka hadir membawa narasi “membela sekutu”, “menjaga stabilitas Timur Tengah”, dan tentu saja, “mempertahankan nilai-nilai demokrasi”.

Tapi siapa yang percaya? Amerika seperti pemadam kebakaran yang diam-diam juga jadi penyulut api. Di satu sisi, mereka menyerukan gencatan senjata. Di sisi lain, mereka terus menyuplai senjata dan membela Israel mati-matian di forum internasional.

Ketika harga diri jadi alasan intervensi militer, kita patut bertanya: harga diri siapa yang sedang dibela Amerika? Apakah itu harga diri bangsa Amerika atau harga saham perusahaan industri militer di Wall Street?

Harga Diri yang Berujung Derita

Yang menyedihkan, dari semua pihak yang mengklaim sedang mempertahankan harga diri, tak satu pun yang bertanya pada rakyat jelata: apakah mereka rela mempertaruhkan nyawa demi “harga diri” para elite?

Di Gaza, harga diri itu berarti kehilangan rumah, anak-anak, dan masa depan. Di Teheran, harga diri berarti bahan pokok makin langka dan ketakutan akan perang skala besar. Di Israel, harga diri berarti hidup dalam paranoia dan kebencian. Dan di Washington, harga diri hanya berarti memenangkan narasi di media internasional.

Harga diri sejati seharusnya bukan dibangun dengan senjata, tapi dengan keadilan. Bukan dengan darah, tapi dengan dialog. Bukan dengan kebencian, tapi dengan empati.

Dunia yang Lelah Tapi Diam

Dunia tahu ini semua salah. Tapi seperti biasa, PBB hanya bisa merilis pernyataan. Negara-negara Arab berdiam di balik kemewahan. Uni Eropa sibuk dengan inflasi. Sementara rakyat dunia hanya bisa menonton perang harga diri yang entah punya harga atau tidak.

Apakah perang ini akan berhenti? Mungkin, ketika para pemimpin dunia berhenti menjadikan ego sebagai alat diplomasi. Ketika harga diri tak lagi dimaknai sebagai dominasi, tapi sebagai kemampuan menahan diri. Ketika darah manusia dianggap lebih berharga daripada simbol dan bendera.

Akhir Kata: Perang yang Salah Alamat

Judul tulisan ini bertanya: harga diri siapa? Jawabannya: bukan harga diri rakyat. Karena rakyat di Gaza, di Teheran, di Tel Aviv, bahkan di New York, tak pernah benar-benar menginginkan perang. Mereka hanya ingin hidup damai, bekerja, berkeluarga, dan tidur tanpa mimpi buruk tentang misil dan sirene.

Jadi kalau perang ini diklaim demi harga diri, maka itu adalah harga diri yang salah alamat. Sebab satu-satunya harga diri yang benar-benar mulia adalah saat seseorang memilih untuk tidak membunuh, walau punya semua alasan untuk melakukannya.

Penulis adalah pengarang novel, pemerhati sosial dan budaya, dan esais

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Kematian Ali Khamenei, Jalan Iran Kembangkan Nuklir untuk Militer

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:18

May Day: Jeritan Mantan Pekerja Sritex Menagih Janji Negara

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:08

Langkah Prabowo Ratifikasi ILO 188 Jadi Momentum Perbaikan Sektor Perikanan

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:39

Hari Buruh Tak Cuma Orasi, Massa Main Games hingga Nonton Efek Rumah Kaca

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:32

DPR Akui Disparitas Upah Buruh Terlalu Jauh

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:20

Apa Perbedaan Hardiknas dan Hari Guru Nasional? Ini Sejarahnya

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:59

KSBSI: Prabowo Jadi Presiden Ketiga di Dunia yang Rayakan May Day Bareng Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:55

Google Doodle Rayakan Hari Buruh 2026, Tampilkan Ilustrasi Para Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:49

Ketua Komisi III Jamin Keamanan Aktivis saat Perjuangkan Hak Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:47

Japan Airlines Uji Coba Robot Humanoid untuk Atasi Kekurangan Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:42

Selengkapnya