Berita

Prakriti Malla/Ist

Publika

Menulis Indah di Zaman Auto-Correct

SENIN, 23 JUNI 2025 | 03:13 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

PERNAHKAN Anda menulis tangan di kertas baru-baru ini, lalu tersadar bahwa tulisan Anda kini lebih mirip grafik gempa bumi daripada huruf alfabet? Jika ya, Anda tidak sendirian. Dunia digital telah menjadikan kita ahli dalam mengetik cepat, tetapi jagoan dalam menulis buruk.

Ironisnya, kita sekarang hidup di era ketika tulisan tangan yang indah layak diberi penghargaan negara -- dan, percayalah, penerimanya bukan dari Indonesia. Prakriti Malla, seorang remaja dari Nepal, baru-baru ini mendapat penghargaan dari negaranya karena… tulisan tangannya.

Ya, Anda tidak salah baca. Prakriti diberi penghargaan bukan karena menemukan vaksin, bukan pula karena menyelamatkan anak kucing dari genteng atau karena mengarang novel. Ia diberi penghargaan karena menulis huruf dengan sangat indah. Betul-betul indah.


Saking indah tulisan tangannya, banyak yang mengira itu hasil printer, bukan tangan manusia. Dunia pun ramai, netizen heboh, dan sebagian besar dari kita hanya bisa menatap jemari kita yang sudah terlalu dimanja oleh keyboard QWERTY dan fitur auto-correct.

Namun, sebelum kita tertawa sambil mengetik “LOL” di WhatsApp, mari kita renungkan: apakah penghargaan ini berlebihan, atau justru menjadi tamparan manis bagi kelas tempat kita belajar menulis, bagi sistem pendidikan global, termasuk di Indonesia?

Dalam kurikulum pendidikan kita, menulis tangan seolah menjadi praktik arkais alias kuno atau tak lazim. Bahkan, banyak guru sekarang lebih menganjurkan siswa untuk mengetik tugas di Google Docs, lalu di-share via link. Kertas folio dan tinta biru seolah tinggal kenangan zaman baheula.

Padahal, penelitian ilmiah membuktikan bahwa menulis tangan membantu meningkatkan daya ingat, memperkuat pemahaman, dan merangsang motorik halus. Tulisan tangan juga memiliki karakter yang tak tergantikan oleh font manapun di dunia digital.

Penelitian dari Princeton University (Mueller & Oppenheimer, 2014) bahkan menunjukkan bahwa mahasiswa yang mencatat dengan tangan lebih memahami materi kuliah dibanding yang mencatat dengan laptop, tablet atau handphone.

Tapi ya itu tadi, siapa peduli kalau jari sudah terbiasa mengetik cepat tanpa makna?

Lalu, bagaimana dengan khat di madrasah, sebuah nostalgia atau masih hidup?

Memang, di madrasah dan banyak pesantren, masih diajarkan seni khat Arab. Tapi mari kita jujur: seberapa serius pelajarannya? Dan lebih penting lagi: seberapa langka guru khat yang benar-benar mumpuni saat ini? Ada satu saja sudah hebat.

Guru khat sejati kini lebih langka dari pada guru TikTok. Kebanyakan ustadz hanya bisa menulis arab gundul dengan kecepatan sedang, sementara model penulisan Tsulutsi atau Diwani tampak seperti prasasti kuno di mata santri. Kenal Tsulutsi atau Diwani?

Di masa lalu, belajar khat adalah bentuk riyadhah (latihan spiritual), penuh ketelatenan dan disiplin tinggi. Sekarang, anak-anak lebih bangga menguasai editing video dan membuat konten dakwah 60 detik yang viral, ketimbang menulis “Bismillahirrahmanirrahim” dengan indah.

Tapi, mengapa harus peduli? Pertama, karena tulisan tangan adalah jejak personal yang paling otentik. Jejak digital bisa dicuri, diedit, bahkan dipalsukan. Tapi tulisan tangan? Ia adalah cermin jiwa, hasil dari keterampilan otot halus, estetika rasa, dan ketekunan waktu.

Prakriti Malla mengingatkan dunia akan hal itu.

Kedua, karena seni menulis tangan adalah bagian dari warisan budaya kita. Indonesia punya sejarah panjang dalam manuskrip, dari lontar Bali hingga kitab kuning pesantren. Jika kita mengabaikan seni ini, kita tidak hanya kehilangan kemampuan menulis indah, tapi juga memutus mata rantai budaya tulis tangan yang telah diwariskan berabad-abad.

Mari kita usulkan agar pelajaran menulis tangan tidak hanya dipertahankan, tapi dikembangkan. Tidak perlu serumit khat Kufi abad ke-8, cukup ajarkan anak-anak kita bagaimana menulis dengan rapi dan estetis.

Sekolah bisa mengadakan lomba kaligrafi, memberi penghargaan pada tulisan tangan terbaik, dan -- mengapa tidak? -- mengundang guru khat dari komunitas lokal. Siapa tahu, kita bisa melahirkan Prakriti Malla versi Indonesia.

Sekilas tampak, menulis indah mungkin terlihat tidak penting di zaman ketika AI bisa mengetikkan skripsi dalam lima menit. Tapi seperti lagu lama yang indah saat diputar di piringan hitam, ada keintiman dan kejujuran dalam tulisan tangan yang tak bisa diduplikasi oleh mesin.

Mari jangan biarkan pena hanya menjadi simbol klise di logo-logo sekolah. Mari hidupkan kembali keindahan yang bisa ditorehkan oleh tangan manusia.

Atau kita akan terus mengira “Tulisan tangan terindah di dunia” hanya ada di luar negeri, karena di dalam negeri, kita bahkan tidak lagi mengajarkannya.

Salam tinta dan kertas. Mari menulis, sebelum jari kita benar-benar hanya bisa menggulir layar kristal.

Penulis adalah Wartawan Senior




Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya