Berita

Ilustrasi/Ist

Publika

Analisis Eskalasi Israel-Iran Bagi Global dan Indonesia

Oleh: Dr. Surya Wiranto, SH. MH*
MINGGU, 22 JUNI 2025 | 07:13 WIB

ANALISIS Geopolitik ini merupakan pendapat pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan atau kebijakan institusi manapun.

Krisis Global dan Ancaman Domino Effect

Konflik Israel-Iran yang kian memanas telah memicu respons militer AS dengan mengerahkan kapal induk USS Nimitz ke Timur Tengah. Eskalasi ini berpotensi menarik kekuatan global lain seperti Rusia dan Tiongkok, meningkatkan risiko konflik regional menjadi perang berskala dunia. 


Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan: "We are living in a very dangerous time", sambil memperingatkan: "Amerika siap menyerang Iran, sementara Rusia mengatakan 'jangan menyerang Iran'. Kalau menyerang Iran, berhadapan dengan Rusia." Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan pecahnya Perang Dunia III, di mana Indonesia, meski berstatus nonblok, dapat terdampak serius, terutama jika melibatkan senjata nuklir.

Eskalasi Militer dan Posisi Kekuatan Global

Pengerahan strategis Kapal induk nuklir USS Nimitz (330m, 90 pesawat tempur) dialihkan dari kunjungan ke Vietnam (19-23 Juni) menuju Timur Tengah via Selat Malaka (pelacakan Marine Traffic, 16 Juni 2025.

Sinyal Politik: Pembatalan kunjungan dengan alasan "kebutuhan operasional mendesak" (surat Kedubes AS di Hanoi) dipahami sebagai upaya deterrence pasca-serangan rudal Iran yang merusak gedung Kedubes AS di Tel Aviv.

Serangan Israel telah menyebabkan 224 orang tewas (termasuk komandan militer & ilmuwan nuklir Iran). Balasan Iran melalui rudal ke Israel plus ancaman operasi "lebih menghancurkan".

Konflik ini membuka keterlibatan kekuatan global. Rusia secara terbuka memperingatkan AS: "Serang Iran = Berhadapan dengan Rusia". Tiongkok diprediksi akan ambil peran mediator atau perkuat dukungan politik-ekonomi ke Iran.

Risiko PD III: Konflik dengan campur tangan multinegara adidaya berpotensi memicu perang global, terutama jika terjadi serangan nuklir.

Dampak bagi Indonesia dan Sikap Pemerintah

Dampak bagi Indonesia terdapat baik ancaman langsung maupun tidak langsung. Dalam bidang ekonomi terjadi guncangan harga minyak global yang menyebabkan inflasi Indonesia.

Disrupsi jalur logistik Selat Malaka (20 persen pasokan minyak dunia). Dalam sisi keamanan terjadi peningkatan radikalisme domestik atas isu Palestina. Selain itu juga pada ancaman siber dan intelijen dari negara yang bertikai.

Pada sisi lingkungan dan kesehatan terjadi dampak radiasi nuklir (jika terjadi perang nuklir) terhadap iklim dan pertanian. Selanjutnya hal itu berpotensi terjadinya krisis pengungsi global.

Sikap resmi Indonesia terkait konflik tersebut jelas tetap mengacu pada upaya perdamaian dunia, bahwa pernyataan Presiden Prabowo: "Kita hidup di masa sangat berbahaya... Indonesia harus berhati-hati. Walaupun nonblok, perang nuklir akan berdampak pada kita".

Diplomasi Pro-Aktif Indonesia bisa dilakukan dengan mendesak PBB dan kekuatan global untuk de-eskalasi, menegaskan kembali komitmen perdamaian dalam politik luar negeri bebas-aktif.

Analisis Risiko: Dari Konflik Regional ke Perang Dunia?


Catatan Analis: Pengerahan USS Nimitz adalah warning shot AS, tetapi juga bisa memicu security dilemma jika Rusia/Tiongkok merespons dengan pengerahan militer. Serangan ke fasilitas nuklir Iran akan menjadi point of no return yang berisiko memicu PD III.

Dari uraian di atas maka dapat ditarik kesimpulan yakni kebutuhan aksi kolektif dan kesiapan Indonesia terhadap eskalasi Israel-Iran bukan hanya konflik lokal, melainkan ujung tombak ketegangan geopolitik AS-Rusia-Tiongkok. 

Indonesia harus: (1) Memperkuat ketahanan energi & pangan, (2) Meningkatkan patroli keamanan di jalur logistik strategis (Selat Malaka, Laut Natuna), (3) Memimpin inisiatif perdamaian di forum internasional (ASEAN, PBB) dan (4) Menyiapkan mitigasi krisis nuklir (sistem peringatan dini, stok obat antiradiasi).

Dalam perang nuklir, tidak ada pemenang-hanya pecundang. Nonblok bukan berarti imun, tapi tanggung jawab untuk mencegahnya.


*Penulis adalah Advisor on Legal, Maritime, and Naval Defence for Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI).

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Muhammadiyah Himpun Rp6 Miliar untuk Korban Gempa NTT, Rp3,4 Miliar Telah Disalurkan

Sabtu, 05 September 2026 | 10:18

Emas Antam Ambruk Rp30.000, Termurah Dibanderol Rp1,3 Juta

Sabtu, 05 September 2026 | 09:19

Banding Kasus Penyiraman Air Keras, Hukuman Dua Pelaku Diringankan

Sabtu, 05 September 2026 | 08:50

Hari Pelanggan Nasional 2026, Pertagas Perkuat Layanan dan Keandalan Energi

Sabtu, 05 September 2026 | 08:14

112 Tersangka Kasus Karhutla Sudah Ditangkap, 55 Perkaran Dilidik

Sabtu, 05 September 2026 | 07:41

RUU Perampasan Aset Potensial Menjarah Aset Seluruh Rakyat

Sabtu, 05 September 2026 | 06:46

112 Tersangka Kasus Karhutla Ditangkap, Terbanyak di Riau

Sabtu, 05 September 2026 | 06:34

Muhammadiyah Layani Penyintas Gempa NTT

Sabtu, 05 September 2026 | 06:17

JHL Foundation Beri Beasiswa Kelapa untuk 100 Mahasiswa UBB

Sabtu, 05 September 2026 | 06:02

Operasi Modifikasi Cuaca Dioptimalkan di Kalbar dan Kalteng

Sabtu, 05 September 2026 | 05:52

Selengkapnya