Berita

Ilustrasi/RMOL

Bisnis

AS Berpotensi Campuri Perang Iran-Israel, Harga Minyak Tetap Tinggi

KAMIS, 19 JUNI 2025 | 09:53 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga minyak dunia masih berada di level tinggi pada Rabu, 18 Juni 2025, dipicu kekhawatiran investor akan potensi campur tangan Amerika Serikat dalam konflik antara Iran dan Israel yang terus berlanjut.

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent naik 25 sen menjadi 76,70 Dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 30 sen ke level 75,14 Dolar AS. Sebelumnya, harga sempat turun sekitar 2 persen, namun melonjak lebih dari 4 persen pada hari Selasa.

Kenaikan harga ini salah satunya dipicu oleh pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang menolak permintaan Presiden AS Donald Trump untuk menyerah tanpa syarat. Trump pun menanggapi bahwa kesabarannya sudah habis, namun belum memastikan langkah apa yang akan diambil selanjutnya.


“Saya mungkin melakukannya, mungkin juga tidak. Tidak ada yang tahu apa yang akan saya lakukan," kata Trump di Gedung Putih.

Trump juga mengaku bahwa pejabat Iran sempat menghubungi untuk membahas kemungkinan negosiasi, termasuk pertemuan di Gedung Putih. Namun, menurut Trump, “Sudah sangat terlambat untuk berbicara.”

Menurut seorang sumber yang mengetahui diskusi internal di pemerintahan AS, salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan Trump adalah bergabung dengan Israel dalam menyerang fasilitas nuklir Iran.

Para analis memperingatkan, jika AS benar-benar ikut campur, konflik bisa meluas dan mengancam infrastruktur energi di Timur Tengah.

“Pasar minyak saat ini masih menunggu dan melihat perkembangan konflik Iran-Israel. Jika situasi memburuk, harga Brent bisa melonjak ke 83 Dolar AS atau bahkan turun lagi ke sekitar 68 Dolar AS,” tulis analis dari perusahaan penasihat energi Ritterbusch and Associates.

Analis dari ING juga menambahkan, ketakutan terbesar saat ini adalah kemungkinan ditutupnya Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dunia.

“Hampir sepertiga dari minyak dunia yang dikirim lewat laut melewati Selat Hormuz. Jika jalur ini terganggu, harga minyak bisa melonjak sampai 120 Dolar AS per barel,” ungkap mereka.

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Eggi Sudjana Kerjain Balik Jokowi

Selasa, 20 Januari 2026 | 15:27

UPDATE

KDM Didukung DPRD Hentikan Alih Fungsi Lahan di Gunung Ciremai

Kamis, 22 Januari 2026 | 03:49

DPD Soroti Potensi Tumpang Tindih Regulasi Koperasi di Daerah

Kamis, 22 Januari 2026 | 03:25

Monumen Panser Saladin Simbol Nasionalisme Masyarakat Cijulang

Kamis, 22 Januari 2026 | 02:59

DPRD Kota Bogor Dorong Kontribusi Optimal BUMD terhadap PAD

Kamis, 22 Januari 2026 | 02:45

Alasan Noe Letto Jadi Tenaga Ahli Pertahanan Nasional

Kamis, 22 Januari 2026 | 02:22

Peran Pelindo terhadap Tekanan Dolar AS

Kamis, 22 Januari 2026 | 01:59

Retribusi Sampah di Tagihan Air Berpotensi Bebani Masyarakat

Kamis, 22 Januari 2026 | 01:47

DPRD Kota Bogor Evaluasi Anggaran Pendidikan dan Pelaksanaan SPMB

Kamis, 22 Januari 2026 | 01:20

Noe Letto Tegaskan Tidak di Bawah Bahlil dan Gibran: Nggak Urusan!

Kamis, 22 Januari 2026 | 00:59

Jabar di Bawah Gubernur Konten Juara PHK

Kamis, 22 Januari 2026 | 00:59

Selengkapnya