Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Ranjau Iran di Selat Hormus Bisa Hentikan Seperlima Aliran Minyak Dunia

RABU, 18 JUNI 2025 | 15:42 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Ancaman serius terhadap stabilitas energi global kembali mencuat di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia. 

Menurut analisis terbaru yang diterbitkan oleh Newsbase IntelliNews, Iran memiliki kemampuan untuk menghentikan seperlima pasokan minyak dunia hanya dalam waktu satu minggu dengan menebar ranjau laut di Selat Hormuz.

Perkiraan intelijen Amerika Serikat menyebutkan bahwa Iran saat ini memiliki antara 5.000 hingga 6.000 ranjau laut yang siap digunakan. 


Dengan ranjau-ranjau tersebut, Iran dapat menutup jalur pelayaran utama di Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital ekspor minyak dunia dan menghentikan seluruh lalu lintas tanker dalam waktu singkat.

Mantan perwira angkatan laut Inggris dan penulis analisis Newsbase, Gav Don menyebut Iran bisa menang perang dalam waktu singkat jika mereka memutuskan menutup Hormuz dengan ranjau.

“Tanpa adanya perubahan besar kebijakan menuju tindakan pencegahan, Barat tidak dapat menghentikan Iran untuk memulai kampanye penambangan di Teluk. Ancaman terhadap pasokan minyak global dari kampanye penambangan Iran karenanya material, dan akan efektif," ungkapnya, seperti dikutip pada Rabu, 18 Juni 2025.

Ia memperkirakan dalam sepekan sejak Iran menyatakan Selat Hormuz telah dipenuhi ranjau, aktivitas pelayaran akan segera terhenti, bahkan jika jumlah ranjau yang ditebar hanya sedikit.

“Dalam (paling lama) tujuh hari sejak Iran mengumumkan pemasangan ranjau rahasia, produksi minyak Teluk Persia untuk ekspor dengan kapal tanker akan dihentikan,” ungkap Don.

Perusahaan asuransi global akan segera menangguhkan perlindungan terhadap kapal tanker yang berlayar di zona berbahaya itu, memaksa kapal untuk berbalik arah atau menjatuhkan jangkar.

Iran diyakini mengoperasikan sekitar 25 kapal selam, termasuk tiga kapal selam diesel-listrik kelas Kilo buatan Rusia dan sekitar 20 kapal selam mini kelas Ghadir buatan dalam negeri. 

Kapal selam Kilo disebut mampu membawa hingga 20 ranjau dan dapat beroperasi dalam mode siluman sejauh 300 kilometer tanpa terdeteksi, menjadikannya instrumen efektif dalam strategi penambangan.

Dalam kondisi damai, Iran bahkan dapat menempatkan ranjau kapan saja dan di mana saja menggunakan kapal kerja kecil tanpa terdeteksi. 

Dalam kondisi perang, kapal selam akan mengambil alih misi tersebut dengan kemampuan menyebar hingga 100 ranjau per hari, menurut estimasi militer.

“Singkatnya, selama perdamaian masih berlaku, Iran memiliki kemampuan untuk meletakkan ranjau sebanyak yang diinginkannya, di lokasi mana pun yang diinginkannya, kapan saja,” lanjut Don.

Dari sisi teknis, ranjau laut Iran terdiri dari tiga tipe utama: ranjau dasar, ranjau tambat, dan ranjau peluncur. Ketiganya dilengkapi dengan sensor magnetik, akustik, dan tekanan yang dirancang untuk mengenali dan meledakkan target tertentu.

Ranjau-ranjau ini bisa diatur untuk aktif pada waktu tertentu atau dengan sinyal sonar dan radio, serta bisa diprogram untuk mengabaikan sejumlah target awal dan menyerang target berikutnya, teknik yang membuat mereka sulit dibersihkan.

Apabila Iran benar-benar mengeksekusi strategi ini, upaya pembersihan ranjau oleh aliansi internasional seperti AS, NATO, GCC, atau bahkan China diperkirakan akan berlangsung lama. 

Armada Kelima AS yang berbasis di Bahrain disebut tidak memiliki kapal pemburu ranjau permanen, sementara negara Teluk seperti Arab Saudi dan UEA memiliki armada pemburu ranjau terbatas.

“Selat akan segera menjadi zona terlarang bahkan jika ranjau Iran tersebar tipis,” imbuh Don.

Dalam konteks ini, konsekuensi terhadap ekonomi global akan sangat besar. Minyak adalah sistem aliran, bukan stok. 

Begitu pengiriman terganggu, seluruh rantai produksi akan berhenti karena keterbatasan kapasitas penyimpanan. Efek domino akan terasa mulai dari Teluk hingga ke konsumen akhir di berbagai belahan dunia.

Meskipun upaya pembukaan jalur pelayaran bisa dimulai dalam waktu satu minggu melalui jalur alternatif di dekat pantai UEA, pemulihan kepercayaan pasar dan perusahaan asuransi dipastikan memerlukan waktu lebih lama.

“Bahkan saat itu, selat akan tetap ditutup setidaknya selama satu bulan, karena pembersihan ranjau merupakan proses yang sangat lambat,” kata Don lagi, menekankan bahwa penanggulangan ranjau laut adalah operasi kompleks yang memerlukan peralatan dan pelatihan khusus.

Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

UPDATE

Gubernur Fakhiri Raih Golden Leader Award JMSI

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:02

1.000 Siswa Yatim Piatu Pemegang KJP Ikuti Try Out Gratis

Rabu, 11 Februari 2026 | 23:30

Pemerintah Timor Leste Didorong Kembali Aktifkan Pas Lintas Batas

Rabu, 11 Februari 2026 | 23:13

DKI Kunci Stok Beras dan Telur, Harga Dijaga Tetap Stabil

Rabu, 11 Februari 2026 | 23:00

Ilusi Swasembada Pangan Kementan

Rabu, 11 Februari 2026 | 22:45

RI Siap Borong Minyak AS Senilai Rp252 Triliun Pekan Depan

Rabu, 11 Februari 2026 | 22:28

Kembali Diperiksa BPK, Gus Yaqut Sampaikan Klarifikasi Hingga Konfrontasi

Rabu, 11 Februari 2026 | 22:13

Ulama Penjaga Optimisme dan Keteguhan Batin Rakyat Aceh

Rabu, 11 Februari 2026 | 22:04

Diperiksa di Mapolresta Solo, Jokowi Beberkan Kisah Perkuliahan Hingga Skripsi

Rabu, 11 Februari 2026 | 21:50

NU Harus Bisa Menjawab Tantangan Zaman di Abad Kedua Perjalanan

Rabu, 11 Februari 2026 | 21:38

Selengkapnya