Berita

Serangan Israel ke Iran/Net

Politik

Serangan Israel ke Iran Langkah Putus Asa Netanyahu

SABTU, 14 JUNI 2025 | 15:30 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Komisi I DPR mengecam keras eskalasi militer terbaru yang dilakukan Israel dengan menyerang instalasi nuklir Iran.

Pasalnya, serangan tersebut dinilai tidak hanya melanggar hukum internasional, tetapi juga menunjukkan watak agresif Israel yang kian brutal dan kehilangan legitimasi moral. 

Menurut Anggota Komisi I DPR Sukamta, aksi militer Israel ini bukan lagi sekadar membela diri atau mempertahankan eksistensi negara, melainkan sudah bergeser menjadi alat politik pribadi demi menyelamatkan karier Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang kian terpojok.


"Netanyahu sedang dalam tekanan luar biasa. Dukungan Barat terhadap kebrutalan genosidanya di Gaza mulai surut. Bahkan dari dalam negeri Israel sendiri, gelombang kritik atas kepemimpinannya kian membesar," tegas Sukamta dalam keterangan resminya, Sabtu 14 Juni 2025. 

"Maka serangan ke Iran tampak seperti langkah putus asa untuk kembali menarik simpati negara-negara Barat yang memang punya sentimen terhadap Iran, apalagi terkait isu nuklir," imbuhnya.

Lebih lanjut, Sukamta menyatakan bahwa Israel saat ini bukan lagi negara yang berperang demi bertahan hidup, tetapi negara yang telah menjadi agresor regional demi kepentingan elite politiknya sendiri.

“Ini bukan soal eksistensi Israel, ini soal eksistensi politik Netanyahu. Dunia internasional tidak boleh terkecoh. Fokus utama tetap harus pada genosida terhadap rakyat Palestina yang hingga kini belum dihentikan,” ujarnya.

Legislator PKS ini pun menyerukan kepada negara-negara di dunia, termasuk Indonesia dan negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), untuk tetap bersikap kritis dan konsisten dalam menentang segala bentuk kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel. 

Ia juga meminta agar jangan sampai negara-negara tersebut justru ikut terseret dalam logika perang yang diciptakan oleh Israel dan sekutunya.

“Palestina masih dijajah, rakyatnya masih dibunuh. Dunia harus tetap bersuara lantang terhadap kejahatan itu, bukan justru terpecah fokus karena skenario provokasi baru,” demikian Sukamta.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

OKI Kecam Serangan Houthi ke Makkah dan Madinah

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:17

Jakarta Running Festival Jadi Role Model Ajang Lari Nasional

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:01

Carbon Capture di Petrokimia Gresik Berpeluang Kurangi Impor Soda Ash

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:47

KPK Bantah Kembali Sita Uang Rp40 Juta dari Salah Satu PCNU Terkait Muktamar NU

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:27

Mantan Panglima TNI Pertama dari Angkatan Laut Widodo AS Wafat

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:12

Aksi Iklim Lintas Iman Desak Siklus Karhutla Tahunan Segera Diputus

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:02

Akuisisi Saham BYAN Haji Isam Sejalan dengan UU Minerba

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:44

Bill Gates: AI Bisa Picu Gejolak Ekonomi dan Sosial Selama 20 Tahun

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:43

Kehadiran Kopdes Bawa Harapan untuk Ekonomi Desa

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:19

Pesantren Didorong Ikut Terlibat dalam Pencegahan Karhutla

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya