Berita

United Nations Ocean Conference (UNOC) yang diselenggarakan di Nice Prancis pasa 9-13 Juni 2025/Ist

Nusantara

Trawl Masih jadi Ancaman Bagi Kehidupan Nelayan Tradisional

RABU, 11 JUNI 2025 | 13:44 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menghadiri kegiatan United Nations Ocean Conference (UNOC) yang diselenggarakan di Nice, Prancis pasa 9-13 Juni 2025. 

Dalam kegiatan tersebut, KNTI yang tergabung dalam Koalisi Transform Bottom Trawling (TBT) melangsungkan kegiatan diskusi tentang penggunaan Trawl di Indonesia, Selasa, 10 Juni 2025.

Ketua Dewan Pengurus Daerah KNTI Kabupaten Labuhanbatu Utara Syahril Paranginangin menyampaikan bahwa hingga saat ini di Kabupaten Labuhanbatu Utara, trawl atau jaring ikan hela berkantong terus beroperasi di bawah 12 mil.


“Dampaknya, kami nelayan kecil dan tradisional terancam penghasilannya. Keberlanjutan ekonomi keluarga nelayan terancam,” jelas Ulong akrab disapa dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu, 11 Juni 2025.

Sambungnya, nelayan tradisional dihadapkan dengan dua pilihan melawan atau pasrah. Melawan dengan penuh resiko di lapangan, atau pasrah dengan risiko tidak terpenuhinya kebutuhan hidup. 

“Harapan kami ke pemerintah, agar ada pengawasan dan bila perlu trawl atau pukat tarik dengan dua kapal dinonaktifkan atau diproses secara hukum,” ungkapnya.

Sedangkan Ketua Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) Kota Medan, Nilawati menyapaikan bahwa Trawl di Sumatera semakin marak. Mulai dari yang menggunakan kapal berukuran 30 GT hingga 10 GT. Menurutnya, kehadiran Trawl membuat ekosistem laut rusak sehingga ikan dan biota laut lainnya punah. 

“Trawl menangkap ikan dari yang induk terbesar hingga bibit habis di angkutnya (tangkap). Selain itu, nggak jarang terjadi bentrok dengan nelayan tradisional saat di laut. Alat tangkap nelayan sering hilang karena mereka (trawl) melabuh (mengoperasikan) di wilayah tangkap yang mana banyak nelayan tradisional melabuhkan alat tangkapnya,” ungkap Nila

Lanjut dia, permasalahan  di wilayah tangkap nelayan itu sering terjadi pemicu bentrok. Namun, perlu diketahui, bahwa ada nelayan tradisional yang mempunyai batas kemampuan untuk melaut (jarak).

“Saat ini, dampak dari adanya Trawal mengakibatkan ikan, udang dan kerang mulai sulit buat di cari lagi. Engga jarang nelayan kecil pulang dengan kerugian, karena biaya melaut saja sudah besar. BBM harganya tinggi, bekal melaut, membuat nelayan meradang hingga bertambahnya kemiskinan bagi nelayan,” bebernya.

Sementara itu, Wakil Sekjen KNTI, Hasmia menyampaikan tentang berbagai ketidakadilan yang terjadi terhadap perempuan pesisir.

“Trawl menyebabkan berkurangnya hasil tangkapan nelayan, alhasil berdampak secara signifikan terhadap perempuan pesisir. Mengapa demikian? karena selama ini yang mengatur perekonomian keluarga nelayan adalah perempuan. Sehingga menurunnya pendapatan nelayan, akan menjadi beban bagi perempuan untuk memenuhi kebutuhan keluarga,”jelas Hasmia. 

Masih kata dia, ketika pendapatan suaminya yang berprofesi sebagai nelayan tidak lagi memenuhi kebutuhan keluarga, maka para perempuan akan mencari pekerjaan alternatif dalam pemenuhan hidup keluarganya. 

“Para perempuan pesisir biasanya usai menyelesaikan urusan domestik, guna memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, bekerja menjadi pekerja rumah tangga, pengupas kerang, pedagang keliling, atau jika terlampau kepepet maka akan berhutang. Sehingga akhirnya perempuan pesisir memiliki beban ganda, karena selain mengurusi urusan domestik juga mencari pemenuhan kebutuhan keluarga,” ungkapnya lirih.

Bahkan Hasmia juga menjelaskan trawl akan menjadi pemicu terjadinya tindakan yang mengancam perempuan pesisir. Mulai dari persoalan psikologis serta terjadinya kekerasan pada perempuan sebagai akibat dari persoalan ekonomi keluarga nelayan.

Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa para perempuan yang berprofesi sebagai nelayan dan yang berusaha di sektor kelautan perikanan lainnya terancam kehilangan mata pencahariannya akibat dari adanya trawl.

“Begitu besarnya dampak trawl terhadap kehidupan perempuan pesisir, maka dalam ruang-ruang pengambilan keputusan atau kebijakan penting untuk melibatkan perempuan pesisir,” tandas Hasmia.

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kekayaan Fadjar Donny Tjahjadi yang Kabarnya Jadi Tersangka Korupsi CPO-POME Cuma Rp 6 Miliar, Naik Sedikit dalam 5 Tahun

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:12

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Relawan Gigit Jari Gegara Jokowi Batal Wantimpres

Senin, 09 Februari 2026 | 02:01

UPDATE

Surya Paloh: Ramadan Momentum Perkuat Spirit Pengabdian

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:53

Kalender Maret 2026: Tanggal Merah dan Cuti Bersama

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:47

Selain Narkoba, AKBP Didik Terbukti Lakukan Penyimpangan Seksual

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:39

Cara Tukar Uang Baru 2026 di PINTAR BI, Dibuka 26 Februari

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:10

Presiden Prabowo Angkat Prihati Pujowaskito jadi Dirut BPJS Kesehatan

Kamis, 19 Februari 2026 | 20:33

Bareskrim Periksa Admin YouTube Pandji Soal Kasus Toraja

Kamis, 19 Februari 2026 | 20:18

Pegawai Bea Cukai Diultimatum Penuhi Panggilan KPK

Kamis, 19 Februari 2026 | 19:31

Laporan Pemerasan Oknum Peradilan Berpeluang Meningkat

Kamis, 19 Februari 2026 | 19:08

Isu WNI Bergabung dengan Militer Israel Bisa Jadi Bola Liar

Kamis, 19 Februari 2026 | 19:01

Surya Paloh Ajak Tokoh Bangsa Perkuat Silaturahmi di Bulan Ramadan

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:51

Selengkapnya