Berita

Tunjung Budi Utomo/Ist

Publika

Saatnya Indonesia Refleksi Diri sebagai Bangsa Maritim

Oleh: Tunjung Budi Utomo*
SELASA, 10 JUNI 2025 | 13:33 WIB

SETIAP tanggal 8 Juni diperingati dunia sebagai Hari Laut Sedunia. Untuk Indonesia, ini bukan sekadar perayaan simbolik. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17 ribu pulau dan garis pantai sepanjang 108 ribu km (KKP, 2023), Indonesia memiliki posisi geografis yang sangat strategis dan kekayaan laut yang luar biasa.

Namun, fakta ini kontras dengan arah pembangunan yang justru kerap mengancam keberlanjutan ekosistem laut itu sendiri. Potensi laut Indonesia memang besar. Kajian Kementerian Kelautan dan Perikanan (2023) memperkirakan potensi ekonomi kelautan bisa mencapai USD 1,33 triliun per tahun.

Indonesia juga menjadi pusat segitiga terumbu karang dunia atau Coral Triangle yang menyimpan sekitar 76 persen spesies karang global (WWF, 2022). Tapi, apakah kita sudah menjaganya dengan baik? Faktanya, berbagai kebijakan pemerintah justru berpotensi merusak laut. Salah satunya adalah eksplorasi tambang nikel oleh PT Gag Nikel, anak usaha PT ANTAM Tbk di Pulau Gag, Raja Ampat, Papua Barat Daya. 


Pulau kecil ini masuk kawasan konservasi dan punya keanekaragaman hayati laut yang tinggi. Setelah sempat dihentikan lewat Keppres No. 41/1999, PT Gag Nikel kembali aktif sejak memperoleh izin operasi produksi pada 2017 dengan luas konsesi 13.000 hektare (Tempo, 2023; Mongabay Indonesia, 2023).

Proyek ini menuai kritik keras. Laporan JATAM Papua Barat (2023) menunjukkan indikasi pencemaran perairan, sedimentasi yang meningkat, hingga potensi kerusakan terumbu karang akibat aktivitas tambang. Masyarakat adat juga menilai proses perizinan tak transparan dan minim pelibatan warga setempat. Ini bukan sekadar isu lingkungan, tapi juga soal hak dan keadilan.

Kebijakan kontroversial lainnya adalah dibukanya kembali ekspor pasir laut melalui PP No. 26 Tahun 2023. Padahal, larangan sebelumnya diterapkan sejak 2003 karena penambangan pasir laut terbukti merusak habitat pesisir, mempercepat abrasi, dan mengancam keberadaan biota laut seperti lamun dan mangrove. Data Walhi (2023) menyebutkan, Indonesia kehilangan sekitar 42 persen tutupan lamun dalam dua dekade terakhir.

Berbagai masalah ini mengindikasikan bahwa pembangunan kelautan kita belum berorientasi pada keberlanjutan. Padahal, pakar seperti Christian Bueger dan Timothy Edmunds (2017) menekankan bahwa keamanan maritim di abad 21 harus mencakup perlindungan ekosistem laut, bukan hanya patroli kapal dan kedaulatan wilayah. 

Sementara itu, Jaleswari Pramodhawardani (2019) dalam kajian geopolitiknya menegaskan bahwa posisi Indonesia di jalur strategis Indo-Pasifik harus dibarengi dengan tata kelola laut yang adil secara ekologis.

Hari Laut Sedunia seharusnya jadi momen reflektif bagi kita semua. Pemerintah harus mulai mengevaluasi proyek-proyek ekstraktif di wilayah laut dan pulau-pulau kecil, serta menghentikan kebijakan yang justru membuka celah bagi kerusakan ekologis. 

Kita perlu kebijakan yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tapi juga adil untuk generasi mendatang dan menjaga daya dukung lingkungan.

Indonesia tak bisa lagi memposisikan laut hanya sebagai sumber tambang atau pasir. Laut adalah ruang hidup, ruang budaya, dan ruang masa depan. Sebagai bangsa maritim, saatnya kita bangun kesadaran ekologis sebelum semuanya terlambat.

*Penulis adalah Ketua Advokasi dan Hukum Persaudaraan Tani-Nelayan Indonesia (Petani)

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

Harga Daging Sapi Tembus Rp153 Ribu/Kg, Zulhas Buka Opsi Subsidi APBN-APBD

Selasa, 25 Agustus 2026 | 14:18

LPSK Beri Perlindungan kepada Ferry Hongkiriwang, Saksi Kasus Febrie Adriansyah

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:54

Urusan Gula Konsumsi Aman, Kementan Kini Bidik Target Gula Industri di 2028

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:45

Ahmed al-Sharaa Sambut Keputusan AS Hapus Suriah dari Daftar Sponsor Teror

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:42

Geng Haiti Bantai 40 Pengungsi yang Berlindung di Gereja

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:42

Wajah Baru Jakarta, Wagub Rano Resmikan Jaksinema Pasar Rumput

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:29

BMKG Maksimalkan OMC di Kaltim Sepekan Ini untuk Tangani Karhutla

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:19

Dugaan Setoran Importasi Blueray, KPK Cecar Dua PNS Bea Cukai

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:50

Kasus OTT Unsoed Bisa Saja Terjadi di Kampus Lain

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:46

Perketat Imigrasi, Trump Bersiap Cabut 200 Ribu Visa WNA

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:46

Selengkapnya