Berita

Ilustrasi/Ist

Publika

Apatisme Nasional dan Warisan Penjajahan

Oleh: Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla*
SABTU, 07 JUNI 2025 | 20:14 WIB

DELAPAN dekade sudah bangsa Indonesia merdeka dari penjajahan fisik oleh Belanda dan Jepang. Namun, kemerdekaan sejati tampaknya masih sebatas simbolis. Mentalitas sebagai bangsa yang merdeka belum sepenuhnya tumbuh; bahkan setelah 80 tahun, kita seperti hanya terbangun sejenak lalu tertidur kembali. Hari ini, bangsa ini menghadapi krisis yang tak kasat mata namun sangat akut: apatisme kolektif.

Sebagaimana diuraikan dalam buku “Kedaulatan SDA untuk Kesejahteraan Rakyat” karya Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla., problem utama bangsa Indonesia bukan lagi hanya soal ekonomi atau politik, melainkan krisis kesadaran dan kepedulian nasional. Apatisme terhadap penjajahan gaya baru melalui eksploitasi sumber daya alam oleh korporasi dan asing telah mengakar dari elit tertinggi hingga rakyat terbawah.

Ironisnya, konstitusi negara ini dengan tegas menyatakan bahwa negara bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat. Namun yang terjadi adalah sebaliknya: rakyat justru menanggung negara. Data menunjukan bahwa sekitar 80 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berasal dari pajak rakyat, termasuk untuk membiayai pelayanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. 


Rakyat bahkan harus membayar untuk sekadar mengakses layanan kesehatan melalui skema seperti BPJS. Di sisi lain, emas, gas, minyak, nikel, dan batu bara yang membentang dari Sabang hingga Merauke, justru lebih banyak dinikmati oleh asing.

Negara, menurut penulis buku tersebut, kini lebih berperan sebagai administrator perizinan, bukan sebagai pengelola kekayaan alam secara mandiri. Pengelolaan strategis dan kedaulatan atas sumber daya alam telah diserahkan kepada korporasi global, dan kita hanya menerima sisa-sisanya. Lalu, di mana suara kita sebagai bangsa yang merdeka?

Kondisi ini menggambarkan adanya disonansi antara semangat kemerdekaan dan realitas kebijakan negara. Lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya, dalam baitnya menyerukan “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”, namun tampaknya hanya menjadi seruan yang hampa makna jika tidak disertai dengan kesadaran kolektif untuk bangkit dari keterlenaan.

Kini saatnya kita bertanya secara jujur. Mengapa bangsa ini diam? Mengapa kita tetap apatis di tengah penjajahan ekonomi yang nyata?

Apatisme bukan hanya bentuk kegagalan psikologis, tapi adalah pengkhianatan terhadap cita-cita kemerdekaan. Ketika rakyat tidak peduli terhadap arah pengelolaan kekayaan nasional, ketika pemimpin-pemimpin negeri hanya menjadi penyambung lidah korporasi global, maka Indonesia bukanlah negara merdeka yang sejati.

Sebagai pewaris sah dari tanah air yang diperjuangkan dengan darah dan nyawa, sudah seharusnya kita bangkit dan menyadari bahwa kemerdekaan sejati hanya bisa dicapai melalui kesadaran, keberanian, dan semangat untuk mengelola negeri ini sendiri, untuk kesejahteraan rakyatnya, bukan untuk kejayaan asing.

Hayo bangkit, bangsa Indonesia! Jangan hanya jadi penonton di negeri sendiri. Bangun jiwamu, bangun badanmu, untuk Indonesia Raya, bukan untuk kepentingan para penjajah gaya baru.

*Penulis adalah Purnawirawan TNI AL, pemerhati kebangsaan

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya