Berita

Anies Baswedan mengisi khutbah Iduladha di Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan/Ist

Publika

Tiada Peradaban Tanpa Pengorbanan Demi Keadilan

JUMAT, 06 JUNI 2025 | 23:01 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

PAGI ini, Jakarta seperti ikut khusyuk. Langit bersih, jalanan lengang, udara tidak menyesakkan dada seperti biasanya. Bahkan, polusi tampak seperti ikut mudik. Tapi jangan salah: bukan karena kendaraan tak ada --justru ratusan mobil pribadi berjejer di sekitar Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Jumlahnya bisa bikin Anda berpikir dua kali sebelum cari tempat parkir. Bahkan, tukang parkir pun mungkin ikut bertobat saking sibuknya mengatur lautan mobil jemaah. Sekitar lima ribuan orang tumplek-blek di lapangan masjid.

Mereka hadir bukan karena ada konser dadakan, tapi karena ada “konser pemikiran” -atau setidaknya konser retorika --dari mantan calon presiden yang, hari ini, naik panggung sebagai khatib Iduladha: Anies Rasyid Baswedan.


Kali ini, dia bukan politisi. Bukan mantan capres. Bahkan bukan mantan gubernur. Tapi “ustaz dadakan” dengan kutipan Ibnu Khaldun di tangan dan niat keadilan di dada. Dan sungguh, khutbahnya tak main-main.

Kalau biasanya khutbah Iduladha hanya berkisar pada kisah Nabi Ibrahim, sembelihan Ismail, dan ajakan beli kambing lokal, Anies datang dengan amunisi: kitab Al-Muqaddimah, karya filsuf dan sejarawan legendaris, Ibnu Khaldun, yang dibeberkannya panjang lebar.

“Ketidakadilan akan menghancurkan peradaban,” katanya mengutip bapak sosiologi yang fenomenal tersebut. Sebuah peringatan keras, namun disampaikannya dalam nada lembut dan tenang, seperti nasi kebuli yang baru keluar dari oven.

Anies tidak hanya mengangkat soal kurban sebagai ritual. Ia menyulapnya jadi simbol perjuangan struktural. “Apa yang bisa kita korbankan untuk keadilan?” tanyanya. Pertanyaan yang seharusnya menghantui para elite dan pemilik kuasa.

Jawabannya? Bisa panjang sekali, sepeti menciptakan lapangan kerja, pendidikan yang merata, layanan medis gratis, dan aksi-aksi sosial yang memberdayakan. Seolah-olah dia ingin berkata: “Kurban bukan cuma soal kambing, tapi juga soal keberpihakan.”

Dan tentu, khutbah soal keadilan dan pengorbanan tidak lengkap tanpa menyentil kota. Kota -- dalam khutbah Anies -- bukan sekadar beton dan trotoar setengah jadi, tapi cermin keadilan. “Kota yang ditata dengan adil menunjukkan peradaban tinggi,” katanya sambil menyitir Al-Farabi.

Sebuah kritik urban dengan gaya elegan, yang bisa saja ditujukan pada Jakarta kini, atau kota-kota lain yang hidupnya seperti sinetron: panjang, tidak selesai-selesai, dan penuh konflik kelas. Anies meramu pemikiran Ibnu Khaldun dan Al-Farabi soal keadilan.

Yang menarik, Anies menyebut bahwa “kesenjangan bukan takdir, tapi hasil rekayasa.” Nah! Di sinilah khutbah mulai berubah wujud menjadi kuliah umum Sosiologi Perkotaan. Tapi tenang, jemaah tetap diam, khusyuk, mungkin karena selain mendengar, mereka juga sibuk memikirkan cara keluar dari kemacetan pasca khutbah.

Ia juga menyitir hadits tentang pemimpin yang menyusahkan umat. Dengan wajah datar tapi nada menusuk, ia mengutip hadits Nabi Muhammad yang diriwayatkan Siti Aisyah: “Siapa yang menyulitkan umatku, maka persulit dia.” Sebuah sabda keras, dan entah kenapa terasa seperti subtweet politik.

Mungkin ini khutbah Iduladha paling akademik yang pernah dihelat di lapangan rumput. Mulai dari kesetaraan di Tanah Haram yang lenyap saat mendarat di Tanah Air, hingga kesulitan salat subuh kalau tahu tetangga kelaparan. Dari ashabiyah ala Ibnu Khaldun sampai layanan medis gratis ala progresivisme Skandinavia. Semuanya dibalut dalam satu napas: keadilan.

Tentu, sebagian orang mungkin mencibir: “Ini khutbah Id atau kampanye?” Tapi mungkin itu pertanyaan yang perlu dibalik. Sejak kapan khutbah harus steril dari realitas? Bukankah Nabi pun berdakwah sambil membongkar tatanan yang zalim?

Yang jelas, khutbah Anies hari itu menyajikan alternatif: bahwa religiositas tak cukup berhenti di sajadah, tapi harus menjalar ke sistem sosial. Bahwa taqwa bukan cuma takut kepada Tuhan, tapi juga takut menyakiti sesama. Bahwa taqwa juga soal kesetaraan. Dan bahwa peradaban bukan dibangun dengan beton, tapi dengan keadilan.

Apakah semua yang mendengar khutbah ini pulang dengan semangat baru menata kota dan menumbuhkan ekonomi kerakyatan? Belum tentu.

Yang pasti, mereka pulang lewat jalanan yang kembali macet, mencari mobil mereka yang terparkir di trotoar, sambil memikirkan satu hal: apakah kurban tahun depan perlu ditambah satu, khusus untuk menebus ketidakadilan struktural?

Atau cukup satu kambing, asal presidennya adil. Wallahu a’lam bis-shawab.

Selamat Hari Raya Iduladha, sambil mengamini doa Anies di akhir khutbah, yang begitu panjang dan puitis penuh makna.

Catatan:
Khutbah Idul Adha Anies Baswedan dapat didownload dari website Al-Azhar, Jakarta.

 
Penulis adalah Wartawan Senior dan Pengasuh Ma’had Tadabbur Quran



Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya