Berita

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin

Publika

Sunyi yang Membahayakan: Intervensi Negara atas Profesi Medis

OLEH: DARMAWAN SEPRIYOSSA
KAMIS, 05 JUNI 2025 | 17:39 WIB

DI TENGAH kebisingan klaim reformasi, ada kesunyian yang mulai terasa mencekam. Sunyi yang tak sebangun dengan ketenangan. Justru, ia adalah gejala dari matinya suara-suara yang selama ini menjaga etika dan integritas profesi.

Ketika dokter-dokter terbaik dipindahkan tanpa alasan transparan, dan kolegium profesi mulai diretas dengan alat-alat kekuasaan, kita tahu ada sesuatu yang sedang tidak beres.

Kementerian Kesehatan boleh saja mengklaim keberhasilan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang katanya sudah menjangkau jutaan warga, seperti diberitakan banyak situs. Namun apa gunanya deteksi dini, jika para spesialis yang paling mumpuni justru disingkirkan dari rumah sakit vertikal?


Ketika penyakit jantung kongenital pada bayi dinyatakan sebagai salah satu temuan tertinggi, siapa yang akan merawat mereka setelah dokter jantung anak tersingkir?

Pertanyaan ini bukan tentang ego profesi. Ini tentang publik. Tentang bayi-bayi yang hanya punya satu kesempatan hidup, dan kini kehilangan tangan-tangan terampil yang semestinya menyelamatkan mereka.

Ada nuansa baru dalam cara negara memperlakukan profesi medis. Paling tidak yang saya baca dan pirsa. Dari berita, atau acara temu-kata. Bukan sekadar birokratisasi. Ini lebih terasa sebagai fase baru dari kontrol: kontrol atas independensi, kontrol atas suara kritis, kontrol atas ilmu.

Gagasan reformasi kolegium yang dilempar ke publik?"setelah saya mendengar dari sekian narasumber?"ternyata bukan sekadar salah arah. Secara fundamental, gaya itu bertentangan dengan prinsip akademik dan hukum.

Putusan Mahkamah Konstitusi No. 13/PUU-XXIII/2025 secara jelas menyatakan bahwa kolegium adalah badan akademik independen. Ia bukan unit pemerintah. Ia bukan subordinat eksekutif. Ia ada justru untuk menjaga mutu dan etika, dari intervensi kekuasaan.

Ketika kementerian mulai mengatur ulang siapa yang duduk di kolegium, yang sedang dibangun bukan kemajuan, tapi pengkhianatan terhadap struktur etik yang sudah dirawat puluhan tahun

Lebih dalam lagi, yang perlu dikritisi adalah paradigma dasarnya. Kesehatan kini terasa mulai diperlakukan sebagai alat mengejar pertumbuhan ekonomi, bukan sebagai hak dasar manusia.

Menteri Kesehatan beberapa kali menekankan bahwa negara maju harus ditopang oleh rakyat yang sehat dan pintar. Kalimat ini terdengar cerdas, tetapi menyesatkan.

Sebagaimana ditegaskan Amartya Sen dalam Development as Freedom (1999), kesehatan adalah bagian dari kebebasan substantif manusia.

Negara tidak boleh memperlakukan layanan kesehatan sebagai instrumen pasar atau komoditas. Ketika kesehatan dijadikan alat untuk mengejar status makroekonomi, maka keadilan sosial terancam hilang dari agenda negara.

Bahkan, jika kita bicara efektivitas, data dari WHO (2023) menunjukkan bahwa negara-negara dengan alokasi belanja terbesar pada layanan kesehatan dasar justru mencatat peningkatan produktivitas ekonomi paling konsisten.

Jadi, menggeser pelayanan medis menjadi proyek-proyek kuratif berbiaya tinggi dengan utang luar negeri bukanlah investasi cerdas?"itu justru pengabaian terhadap akar masalah.

Kondisi makin mengkhawatirkan ketika tindakan kedokteran yang secara keilmuan berada di ranah spesialis kini mulai diwacanakan dapat dilakukan oleh dokter umum.

Dengan dalih kekurangan tenaga dokter spesialis, prosedur-prosedur besar seperti sectio caesarea, mulai dilirik untuk dialihkan. Kita ingin bertanya: di mana suara kolegium dalam keputusan-keputusan semacam ini?

Yang berwenang menentukan kompetensi bukan birokrasi, melainkan komunitas ilmiah yang teruji. Kalau kolegium dilemahkan, maka batas antara praktik aman dan praktik sembarangan akan lenyap.

Dalam narasi yang disebar kementerian, seolah ada upaya sistematis untuk menampilkan profesi medis sebagai elite yang perlu "ditundukkan". Seolah-olah kritik dari profesi adalah hambatan pembangunan. Padahal justru di sanalah benteng terakhir agar pelayanan kesehatan tetap memihak rakyat.

Voltaire pernah mengingatkan, “Those who can make you believe absurdities can make you commit atrocities.” Mereka yang memaksa kita mempercayai absurditas pada akhirnya akan membawa kita pada kebengisan.

Dan absurditas itu kini hadir dalam bentuk birokrasi yang mendikte ilmu, kebijakan yang mengabaikan data, serta keputusan-keputusan yang mengganti mutu dengan loyalitas.

Kami percaya bahwa reformasi kesehatan adalah kebutuhan. Tapi bukan reformasi yang mengabaikan etika, bukan yang membungkam kolegium, bukan pula yang menjadikan tenaga medis sebagai pion dalam permainan politik anggaran. Indonesia tidak butuh otoritarianisme dalam pelayanan publik.

Kesehatan adalah hak. Bukan komoditas. Dan profesi medis adalah penjaga kehidupan. Bukan pelayan kekuasaan. Jika negara lupa akan itu, maka yang sedang dikorbankan bukan hanya etika profesi, tapi juga keselamatan jutaan warga.

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo

Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:37

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

UPDATE

Tiga ABK WNI Hilang dalam Ledakan Kapal UEA di Selat Hormuz

Minggu, 08 Maret 2026 | 13:50

Kemenhaj Dorong UMKM Masuk Rantai Pasok Oleh-oleh Haji

Minggu, 08 Maret 2026 | 13:15

KPK Sempat Cari Suami Fadia Arafiq Saat OTT Kasus Korupsi Pemkab Pekalongan

Minggu, 08 Maret 2026 | 13:08

AWKI Ajak Pelajar Produksi Film Pendek Bertema Kebangsaan

Minggu, 08 Maret 2026 | 13:06

Sambut Nyepi, Parade Ogoh-Ogoh Meriahkan Bundaran HI

Minggu, 08 Maret 2026 | 12:32

Sekjen PSI Jalankan Amanah Presiden Prabowo Benahi Tata Kelola Hutan

Minggu, 08 Maret 2026 | 12:15

Balas Serangan Israel, Iran Bombardir Kilang Minyak Haifa

Minggu, 08 Maret 2026 | 12:10

15 Vaksinasi Wajib untuk Anak Menurut IDAI dengan Jadwalnya

Minggu, 08 Maret 2026 | 12:05

Zendhy Kusuma Soroti Bahaya Penghakiman Digital Usai Video Restoran Bibi Kelinci

Minggu, 08 Maret 2026 | 12:01

3 Gejala Campak yang Perlu Diwaspadai, Jangan Sampai Salah

Minggu, 08 Maret 2026 | 12:00

Selengkapnya