Berita

Citra udara tanggal 27 Mei 2025 milik Pemerintah Manitoba, menunjukkan kebakaran hutan yang terjadi di Flin Flon, Manitoba, Kanada/AFP

Global

Asap Kebakaran Hutan Kanada Capai Eropa, Jutaan Orang Terpapar Udara Berbahaya

RABU, 04 JUNI 2025 | 15:58 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Kebakaran hutan yang melanda Kanada terus menyebar dengan cepat dan kini menimbulkan dampak global. 

Asap tebal dari kebakaran ini telah menyeberangi Samudra Atlantik dan mencapai Eropa, memperburuk krisis kualitas udara di sejumlah wilayah.

Lebih dari 26.000 orang telah dievakuasi akibat kobaran api yang kini menghanguskan lebih dari dua juta hektar lahan. 


Di berbagai provinsi seperti Saskatchewan dan Manitoba, pemerintah setempat telah mengumumkan keadaan darurat kebakaran hutan, sementara para pejabat memperingatkan kondisi akan semakin memburuk.

“Kita akan menghadapi beberapa hari yang penuh tantangan di depan kita,” kata Perdana Menteri Saskatchewan Scott Moe dalam konferensi pers, seperti dimuat AFP pada Rabu, 3 Juni 2025.

Ia menambahkan bahwa jumlah pengungsi bisa meningkat drastis seiring dengan meluasnya wilayah terdampak.

Menurut Pusat Kebakaran Hutan Antarlembaga Kanada, hingga Selasa, 2 Juni 2025, terdapat 208 kebakaran aktif di seluruh negeri, setengah di antaranya tergolong tak terkendali. 

Sebagian besar kebakaran terjadi di wilayah pedalaman yang dihuni oleh komunitas adat, dan beberapa komunitas kecil telah musnah dilalap api.

Kebakaran besar juga memaksa militer Kanada dikerahkan untuk membantu evakuasi dan pemadaman api. 

“Ini adalah masa yang sangat sulit bagi banyak warga Kanada. Musim kebakaran hutan ini dimulai lebih cepat, lebih kuat, lebih intens," ujar Menteri Manajemen Darurat federal Eleanor Olszewski.

Dampaknya terasa padaproduksi minyak terganggu di Alberta. Perusahaan energi besar seperti Canadian Natural Resources, MEG Energy Corp, dan Cenovus Energy menghentikan sementara operasi dan mengevakuasi pekerja mereka akibat asap dan ancaman api.

Asap dari kebakaran hutan menyelimuti empat provinsi Kanada dan beberapa negara bagian Amerika Serikat, termasuk Michigan, Minnesota, dan Wisconsin. 

Environment Canada memperingatkan masyarakat untuk menghindari aktivitas luar ruangan karena kualitas udara yang sangat buruk dan jarak pandang yang menurun.

“Asap menyebabkan kualitas udara yang sangat buruk dan mengurangi jarak pandang,” tulis lembaga tersebut dalam pernyataan resminya.

Yang mengejutkan, asap kini terdeteksi hingga ke Eropa. Menurut Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) milik Uni Eropa, gumpalan asap besar dari Kanada telah melintasi Atlantik. 

Meskipun berada di ketinggian tinggi dan tidak menimbulkan risiko kesehatan langsung, langit di beberapa wilayah Eropa terlihat berkabut dan matahari tampak kemerahan.

“Wilayah tengah Kanada telah mengalami beberapa minggu yang sangat intens dalam hal emisi kebakaran hutan,” kata Mark Parrington, direktur ilmiah di CAMS.

Para ahli mengaitkan intensitas kebakaran tahun ini dengan perubahan iklim. Musim kebakaran dimulai lebih awal karena penurunan signifikan lapisan salju musim semi, mempercepat pengeringan vegetasi dan tanah.

“Paparan awal ini bertindak sebagai penguat yang senyap, secara halus menyiapkan panggung untuk kebakaran ekstrem jauh sebelum api pertama menyala,” jelas Hossein Bonakdar, profesor dari Universitas Ottawa.

Kebakaran hutan juga tidak hanya terjadi di Kanada. Copernicus melaporkan bahwa kebakaran besar-besaran juga melanda Rusia, khususnya di sebelah timur Danau Baikal, dengan emisi karbon mencapai sekitar 35 juta ton sejak awal April.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

Digelar di Ambon, Muktamar XIV KAMMI Usung Semangat Ale Rasa, Beta Rasa

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:29

KPU Perlu Keluarkan Surat Gibran Tidak Memenuhi Syarat Wapres

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:13

Gumarang Soroti Perubahan Sikap Rocky Gerung Setelah Masuk Lingkaran Istana

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:48

10 Saham Paling Tertekan saat IHSG Anjlok 7 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:16

OJK Serahkan Lagi Hasil Penelusuran Aset DSI, Bareskrim Sudah Sita Rp432 Miliar

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:04

Eksekusi Suntik Mati Gagal, Christa Pike Akui Alami Trauma dan Rasa Sakit

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:52

Harga Bitcoin Tertekan Setelah Binance Dibobol Hacker

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:44

Pendiri Ayam Goreng Suharti Tutup Usia, Merintis Bisnis Sejak 1956

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:30

Intel Babak Belur, Saham Anjlok 29 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:19

Kemlu Dalami Informasi WNI Tewas Saat Dinas Militer di Rusia Lewat KBRI Moskow

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:05

Selengkapnya