Berita

Amir al-Mahdi al-Qaddafi/Ist

Publika

Berhaji Itu Undangan Menjadi Tamu Allah

MINGGU, 01 JUNI 2025 | 07:00 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

DI tengah lanskap geopolitik Libya yang penuh liku, muncul sebuah cerita yang memantik air mata, menyulut tawa getir, sekaligus menampar keangkuhan kita akan takdir. Cerita ini bukan dongeng, bukan pula alur drama buatan intelijen televisi Timur Tengah.

Ini kisah nyata -- terjadi dalam dunia nyata, dan disaksikan langit, landasan pacu bandara, serta sekumpulan jemaah, ratusan penumpang yang hampir yakin bahwa seorang lelaki bernama Amir al-Mahdi al-Qaddafi tidak akan berangkat haji tahun ini.

Namun ternyata, jika Allah sudah mengundang, maka tak ada daftar tunggu, tak ada delay yang bisa menahan. Pesawat pun harus kembali sampai dua kali untuk menjemput Amir mesti pergi haji tahun ini, bukan besok-besok.


-000-

Amir al-Mahdi bukan kerabat Kolonel Qaddafi yang melegenda itu. Tapi cukup nama belakangnya saja membuat petugas imigrasi di bandara Sebha, Libya bagian selatan, mendadak tersentak. Mereka membuka halaman-halaman tebal berisi catatan keamanan negara.

Jangan-jangan ada “masalah administratif” pada paspornya, kata mereka. Sejenis masalah yang takkan selesai dengan doa sapu jagat atau uang kertas pecahan besar. Saat para calon haji lainnya mulai sibuk membetulkan ihram, Amir justru disuruh pulang.

“Belum ditakdirkan,” kata seorang petugas, mencoba bersikap bijak seperti ustaz YouTube dadakan. Tapi Amir menjawab tegas: “Ana nawaitul hajj. Aku sudah berniat. Dan kalau Allah sudah memanggil, maka kalian tak bisa menghalangi.”

Kalimat itu mungkin terdengar sok heroik. Tapi ternyata seantero langit mendengarnya, Allah Yang Mahakuasa pun mengabulkan doa-doa yang tak henti dipanjatkannya di setiap langkah kaki dan tarikan nafasnya, di bandara yang sedang mengucilkannya di pojok.

-000-

Pesawat itu pun lepas landas tanpa Amir. Para penumpang mulai tenang, para pramugari menyusun hidangan inflight meal dengan kecut -- mungkin karena tahu satu calon haji dipaksa tinggal. Namun belum jauh, pesawat mendadak ngambek. Ada kerusakan teknis.

Sang burung besi itu pun putar balik. Di darat, Direktur Keamanan Bandara menghubungi sang pilot, memberi penjelasan tentang Amir yang masih menunggu. Sang pilot, seolah baca naskah, berkata: “Tidak bisa. Hanya gangguan ringan. Kami akan terbang lagi, sebentar lagi.”

Betul, pesawat terbang. Lagi. Tanpa Amir. Lagi. Dan… rusak lagi. Kali ini, bukan hanya langit yang bosan, tapi seisi kabin mulai resah. Doa safar dibaca ulang. Penumpang mulai menoleh ke jendela seakan ingin melihat apakah ada sesuatu yang belum selesai di darat.

Dan di sanalah, Amir masih duduk. Tidak marah. Tidak menangis. Tapi yakin. Haqqul yaqin, bahwa jika Allah betul memanggilnya untuk pergi haji tahun ini, dia merasa pasti akan berangkat hingga sampai di tujuan, di Baitullah, di Mekkah al-Mukarramah.

Untuk ketiga kalinya, sang pesawat parkir manis di apron, untuk diperbaiki oleh para teknisi. Sang pilot turun dari kokpit, mengusap dahinya, lalu mengambil keputusan dengan berkata kepada petugas: “Panggil Amir. Pesawat ini tidak akan bisa berangkat tanpa dia.”

Dalam istilah manajemen penerbangan, ini seharusnya menjadi kejadian tak terklasifikasi. Tak ada di daftar pedoman. Tapi dalam istilah spiritual, ini mungkin adalah tajalli --penampakan kehendak Allah dalam urusan duniawi.

Seisi bandara riuh. Para penumpang yang 284 orang seperti berdemo memeluk Amir. Beberapa menangis, bukan karena sedih, tapi karena mereka menyadari: mungkin, hari itu, mereka hanyalah penumpang tambahan. Penumpang sesungguhnya adalah Amir.

-000-

Kisah Amir mengingatkan kita bahwa haji bukanlah tiket promo yang bisa direservasi asal cepat daftar. Ia adalah undangan, dan undangan itu hanya datang dari satu sumber: Allah Swt, pemilik Rumah, Baitullah. Dialah Sang Tuan Rumah, dan Amir salah seorang tamu-Nya.

Amir datang ke bandara dengan keyakinan, bukan dengan privilege. Namanya tidak membuat pintu terbuka, justru hampir membuatnya tertutup. Tapi ketika niat sudah bulat, ketika jiwa sudah siap mengumandangkan “Labbayka Allahumma labbayk”, maka bahkan pesawat pun bisa dua kali rusak demi menunggu tamu Tuhan.

Ironisnya, dalam dunia yang dikuasai algoritma dan biometrik, masih ada sistem yang tidak bisa membaca tekad spiritual. Paspor Amir ditahan, bukan karena dosa, tapi karena namanya disebut pihak keamanan belum terdaftar untuk berhaji tahun sekarang.

Pilot yang awalnya tegas kemudian menjadi lunak. Pesawat yang katanya rusak ringan, ternyata rusak serius. Sampai dua kali harus balik. Jangan-jangan ini bukan malfungsi teknis, tapi demo langit: jangan bermain-main dengan kehendak Allah.

-000-

Sesampainya di Tanah Suci, Amir tidak mengangkat-angkat cerita heroiknya. Ia tidak membuka donasi atau membuat akun TikTok untuk berbagi tips “menembus sistem haji”. Ia hanya berkata: “Apa yang terjadi padaku bukan mukjizat. Tapi karunia. Allah tidak pernah salah memilih tamu-Nya.”

Maka jika engkau merasa hatimu tergerak untuk berhaji, tapi rekening tak cukup, kuota belum dipanggil, usia belum sampai, atau visa belum keluar… mungkin engkau belum diundang. Tapi tetaplah menanti dengan bersih hati. Karena jika Allah sudah mengundangmu, pesawat pun akan menunggumu.

“Labbayk Allahumma labbayk…”

Dan dunia pun diam ketika seorang hamba berseru seperti itu dari dasar jiwanya.

-000-

Catatan:
Kisah ini berdasarkan kejadian nyata pada Mei 2025 di Bandara Sebha, Libya, tentang seorang calon haji bernama Amir al-Mahdi al-Qaddafi yang akhirnya berhasil berangkat haji setelah pesawat yang ditumpangi rombongannya kembali dua kali karena kerusakan teknis. Pesawat hanya berangkat setelah Amir naik ke dalamnya.

Penulis adalah Wartawan Senior dan Pengasuh Ma’had Tahfidz Quran



Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

DPR Dukung Pasutri Gugat Aturan Kuota Internet Hangus ke MK

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:51

Partai Masyumi: Integritas Lemah Suburkan Politik Ijon

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:28

Celios Usulkan Efisiensi Cegah APBN 2026 Babak Belur

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:09

Turkmenistan Legalkan Kripto Demi Sokong Ekonomi

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:39

Indonesia Kehilangan Peradaban

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:18

Presiden Prabowo Diminta Masifkan Pendidikan Anti Suap

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:11

Jalan dan Jembatan Nasional di 3 Provinsi Sumatera Rampung 100 Persen

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:55

Demokrat: Diam Terhadap Fitnah Bisa Dianggap Pembenaran

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:42

China Hentikan One Child Policy, Kini Kejar Angka Kelahiran

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:44

Ide Koalisi Permanen Pernah Gagal di Era Jokowi

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:22

Selengkapnya