Berita

Ilustrasi/Net

Nusantara

Raperda Kawasan Tanpa Rokok Berpotensi Rugikan UMKM

SELASA, 27 MEI 2025 | 10:30 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang tengah dibahas DPRD DKI Jakarta dikritisi Kepala Bakomstra DPD Demokrat Jakarta, Taufik Tope Rendusara.

Taufik menilai sejumlah ketentuan dalam draf aturan tersebut melampaui kewenangan yang diatur dalam regulasi nasional, serta berpotensi menimbulkan dampak ekonomi negatif, terutama bagi pelaku UMKM.

Beberapa pasal dalam Raperda KTR DKI Jakarta memperluas cakupan larangan yang tidak tercantum dalam Undang-Undang No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan maupun Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2024. 


"Di antaranya, perluasan area kawasan tanpa rokok mencakup ruang publik terpadu dan tempat yang mengantongi izin keramaian, serta pengaturan batas area KTR hingga batas kucuran air dari atap bangunan," kata Taufik dalam keterangannya, Selasa 27 Mei 2025.

Selain itu, kata Taufik, aturan larangan penjualan rokok dalam radius 200 meter dari satuan pendidikan dan tempat bermain anak dipandang sulit diterapkan di lapangan. 

Menurut Taufi, pembatasan ini berpotensi langsung menggerus pendapatan pedagang ritel, baik modern maupun tradisional, yang sebagian besar mengandalkan penjualan rokok sebagai sumber utama pendapatan.

Larangan total terhadap iklan, promosi, dan sponsorship produk tembakau di seluruh wilayah DKI Jakarta juga dinilai tidak memiliki dasar hukum yang kuat. 

Mahkamah Konstitusi (MK) sebelumnya telah menolak usulan pelarangan tersebut dalam putusan tahun 2017, dengan mempertimbangkan bahwa rokok merupakan barang legal dan sah diperdagangkan di Indonesia.

Tak hanya itu, ketentuan yang melarang pemajangan produk rokok di tempat penjualan juga dinilai bertentangan dengan prinsip perlindungan konsumen, karena membatasi akses informasi konsumen terhadap produk legal. 

"Kondisi ini dikhawatirkan dapat mendorong peningkatan peredaran rokok ilegal yang sudah mencapai hampir tujuh persen secara nasional," kata Taufik.

Ketidaksesuaian sejumlah pasal dalam Raperda dengan peraturan di tingkat pusat juga dapat menciptakan tumpang tindih kebijakan serta membingungkan masyarakat. 

Oleh karena itu, regulasi daerah ini dinilai perlu dikaji ulang agar tetap sejalan dengan ketentuan nasional, sekaligus mempertimbangkan aspek ekonomi dan sosial masyarakat yang terdampak.

DPRD DKI diharapkan dapat menyelaraskan isi rancangan aturan ini agar tidak hanya berpihak pada kesehatan publik, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan ekonomi dan kepastian hukum bagi para pelaku usaha.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Kemendag: Wajib Halal Bukan Pelarangan Impor

Sabtu, 26 September 2026 | 06:30

Baznas dan Komite Bantuan Kepresidenan Palestina Perkuat Kerja Sama Kemanusiaan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:12

Instruksi Prabowo soal Kuliah Gratis PTN Harus Diprioritaskan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:00

Serba ‘Tidak’ di Sidang Gibran

Sabtu, 26 September 2026 | 05:41

Cuma Tambah Dua Perunggu, Peringkat Indonesia Merosot

Sabtu, 26 September 2026 | 05:17

Jalur Sepeda Jangan cuma Jadi Pajangan

Sabtu, 26 September 2026 | 05:00

Benarkah Pengganti Gibran Sudah Ada?

Sabtu, 26 September 2026 | 04:29

Korlantas Polri Luncurkan Empat Inovasi Digital

Sabtu, 26 September 2026 | 04:18

Jangan Istimewakan Oknum DPRD Diduga Bakar Lahan

Sabtu, 26 September 2026 | 04:00

Kepala BNPB Minta Maaf soal Karhutla: Klarifikasi Istilah 'Normal'

Sabtu, 26 September 2026 | 03:46

Selengkapnya