Berita

Ilustrasi bom nuklir/Ist

Publika

Ide Frustasi Amerika: Bom Nuklir Saja Gaza

SELASA, 27 MEI 2025 | 07:04 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

DALAM dunia politik modern, kadang kita harus bertanya-tanya: siapa yang benar-benar memimpin dunia? Para negarawan bijak? Para pemimpin berintegritas? Atau justru  -- para komentator medsos yang secara tak sengaja terpilih duduk di Kongres dan membuat kita rindu ke era akal sehat?

Baru-baru ini, Randy Fine, seorang anggota Kongres dari Amerika Serikat, sukses membuat dunia tercengang, ngeri, dan terbahak (dalam keputusasaan). Dia melemparkan pernyataan bahwa satu-satunya cara mengalahkan Palestina adalah dengan membumi-hangus Gaza dengan bom nuklir seperti dilakukan Amerika pada Hiroshima dan Nagasaki.

Ya, Anda tidak salah dengar. Ucapannya membuat kita bertanya-tanya: ini Kongres atau cosplay Lord Voldemort? Akal sehat macam apa yang masih tersisa di kepalanya? Betapa putus-asanya dia melawan Hamas.


Barangkali kita bisa lebih paham jika coba bedah pernyataan ini dari sisi psikologis, politis, dan tentu saja, logika dasar umat manusia.

Pertama, pernyataannya menunjukkan psikologi kekalahan dan frustasi akut yang dibungkus dalam bom Hiroshima dan Nagasaki yang mengerikan.

Ada satu hal yang menonjol dari pernyataan Fine: frustrasi eksistensial. Jika Israel (yang didukung penuh oleh AS, baik dengan dana, senjata, maupun nyinyiran diplomatik) tak kunjung bisa “menundukkan” Hamas setelah lebih dari 20 bulan perang, maka mungkin benar kata anggota Parlemen Israel, Amit Halevi: ini adalah perang yang gagal total.

Dan dalam psikologi kekuasaan, saat narasi kemenangan tak bisa dipenuhi, narasi “penghancuran total” seringkali menjadi kompensasi bagi ego yang remuk. Ini disebut mekanisme pertahanan proyeksi agresif. Saat Anda tak bisa menang, buat lawan Anda tidak eksis sama sekali. Bukan debat ide, bukan perbaikan strategi. Cukup: nuke them.

Ini bukan strategi militer. Ini bentuk fatalisme bersenjata -- suatu kondisi di mana logika telah digantung di tiang bendera dan digantikan oleh testosteron politik dan trauma kolonial yang belum selesai. Bukankah sejarah mencatat bahwa bahkan Jepang, yang dijadikan analogi oleh Fine, baru menyerah setelah kombinasi tekanan militer, diplomatik, dan kehancuran moral -- bukan hanya karena dua bom atom?

Kedua, pernyataannya memproklamirkan rasisme institusional dan mimpi basah kolonial.

Randy Fine menyebut budaya Palestina sebagai “budaya kekerasan” yang harus dihancurkan. Ini semacam teori psikologi terbalik -- di mana sang pelaku kekerasan justru menyebut korbannya sebagai pelaku kekerasan. Seperti pencuri yang meneriaki orang lain maling.

Dalam psikologi sosial, ini dikenal sebagai dehumanisasi: proses mencabut kemanusiaan dari kelompok tertentu sehingga tindakan ekstrem terhadap mereka menjadi lebih “masuk akal” secara moral.

Dalam sejarah, inilah langkah pertama menuju genosida: dari Hitler yang menyebut Yahudi sebagai “kecoa”, hingga apartheid yang menyebut warga kulit hitam sebagai “sub-human”. Hingga… ya, pernyataan anggota Kongres AS yang menyerukan pemusnahan dua juta jiwa bangsa Palestina karena mereka salah budaya.

Ketiga, pernyataannya menampilkan politik sebagai terapi dendam.

Mari kita jujur: pernyataan Fine lebih banyak mencerminkan kondisi internal dirinya dan sistem yang mendukungnya ketimbang realitas di lapangan. Jika Israel benar-benar menang, apakah perlu ada pernyataan histeris tentang menggunakan bom nuklir?

Kalau Hamas benar-benar akan kalah dalam waktu dekat, mengapa ada suara-suara putus asa seperti ini?

Pernyataan Fine bukanlah strategi. Ini adalah bentuk teriakan batin dari kekalahan yang tak diakui. Seperti anak kecil yang kalah main gundu lalu berkata, “Pokoknya kamu curang!” lalu melempar papan permainan.

Keempat, pernyataannya menggaungkan pertanyaan: Apakah ini akhir rasionalitas, yang anehnya muncul dari bangsa yang mengaku paling maju?

Lebih dari separuh penduduk Gaza adalah anak-anak. Seruan untuk membom mereka dengan nuklir bukan hanya mengerikan  -- itu adalah kegagalan kolektif umat manusia dalam menjaga batas moral universal.

Dan dunia? Terbagi antara yang marah, yang terdiam, dan yang justru ikut nyanyi dalam paduan suara neraka ini.

CAIR (Dewan Hubungan Amerika-Islam) mengecam pernyataan Fine sebagai “hasutan eksplisit untuk genosida”. Tapi pertanyaannya: Apakah Kongres AS akan bersikap? Atau, seperti biasa, akan tenggelam dalam senyap diplomatik di antara kampanye pemilihan dan debat tentang pajak soda?

Akhir kata, jika nuklir pernah menjadi simbol kekuatan absolut, hari ini ia menjadi metafora dari kehancuran nalar. Ketika seorang anggota Kongres bisa menyarankan pemboman nuklir terhadap rakyat sipil tanpa dicopot keesokan harinya, kita tidak hanya sedang mengalami krisis diplomatik. Kita sedang berada di tengah krisis moral dan kemanusiaan.

Barangkali sudah waktunya kita bertanya: siapa sebenarnya yang membahayakan dunia -- para pejuang bersenjata dari Gaza, atau mereka yang duduk tenang di ruangan ber-AC, memegang segelas kopi, dan menyerukan pembunuhan massal dengan gaya orator Roman kuno?

Dunia tidak butuh lebih banyak bom. Dunia butuh lebih banyak akal. Dan sejujurnya, Randy Fine, Anda bukan solusi. Anda adalah gejala sakit jiwa.

-000-

Catatan akhir:
Menurut laporan Federasi Nuklir Internasional, dampak ledakan nuklir di wilayah sekecil Gaza bukan hanya akan membunuh jutaan orang dalam sekejap, tapi juga menciptakan dampak radiasi dan ekologi yang bertahan selama ratusan tahun. Jadi, jika ini masih dianggap ide politik yang sah, mungkin sudah waktunya kita mengganti pemilu dengan tes kesehatan mental.
Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Kekayaan Fadjar Donny Tjahjadi yang Kabarnya Jadi Tersangka Korupsi CPO-POME Cuma Rp 6 Miliar, Naik Sedikit dalam 5 Tahun

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:12

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Relawan Gigit Jari Gegara Jokowi Batal Wantimpres

Senin, 09 Februari 2026 | 02:01

Pidato Berapi-api Jokowi di Rakernas PSI Diramalkan Jadi yang Terakhir

Minggu, 08 Februari 2026 | 02:33

UPDATE

Hasil Sidang Isbat: 1 Ramadan Jatuh pada 19 Februari 2026

Selasa, 17 Februari 2026 | 19:48

LAMI Minta KPK Usut Proyek Pompanisasi Jakarta

Selasa, 17 Februari 2026 | 19:13

Doa Imlek

Selasa, 17 Februari 2026 | 19:12

RI dan Tujuh Negara Muslim Kutuk Upaya Israel Klaim Tanah Tepi Barat

Selasa, 17 Februari 2026 | 19:10

Rano Kano Pastikan Perayaan Imlek Aman, Nyaman, dan Lancar

Selasa, 17 Februari 2026 | 19:04

Harga Daging di Banda Aceh Tembus Rp200 Ribu per Kg

Selasa, 17 Februari 2026 | 18:40

5 Makanan Khas Imlek yang Dipercaya Bawa Hoki dan Keberuntungan

Selasa, 17 Februari 2026 | 18:09

Terlambatkah Jokowi dan Gibran Jadi Tokoh Pro Pemberantasan Korupsi?

Selasa, 17 Februari 2026 | 18:08

Apa Itu Padusan? Tradisi Mandi Besar Jelang Puasa 2026

Selasa, 17 Februari 2026 | 18:06

5 Cara Aman Berpuasa Bagi Penderita Asam Lambung

Selasa, 17 Februari 2026 | 18:00

Selengkapnya