Berita

Chappy Hakim dan Susan Eisenhower/Ist

Publika

Mengapa Strategi itu Penting

Dari Susan Eisenhower hingga Perang Udara India–Pakistan

MINGGU, 25 MEI 2025 | 22:48 WIB | OLEH: CHAPPY HAKIM

NAMA besar Jenderal berbintang lima Dwight D. Eisenhower tentu tidak asing bagi masyarakat Indonesia, terutama bagi mereka yang memiliki perhatian pada sejarah Perang Dunia II dan dinamika politik global.
 
Sebagai Presiden ke-34 Amerika Serikat, Eisenhower memimpin negara adidaya itu dari tahun 1953 hingga 1961 dan dikenal sebagai arsitek kemenangan sekutu dalam Perang Dunia II.
 
Namun, tak banyak yang mengenal sosok Susan Eisenhower, cucu sang jenderal yang justru telah menorehkan prestasi gemilang di dunia kebijakan publik dan khususnya bidang strategi internasional.
 

 
Susan Elaine Eisenhower, putri dari Brigadir Jenderal John Sheldon Doud Eisenhower, lahir pada 31 Desember 1951. Ia merupakan salah satu tokoh pemikir strategis paling disegani dalam isu-isu keamanan internasional, hubungan Rusia-Amerika, dan kebijakan luar negeri berbasis energi.
 
Sebagai Presiden dari Eisenhower Group, Susan telah berkiprah luas dalam memberikan jasa konsultasi strategis kepada berbagai lembaga pemerintah dan korporasi global.
 
Kepakarannya juga dibentuk oleh kedekatannya dengan Rusia, termasuk melalui mantan suaminya Roald Sagdeev, seorang ilmuwan Soviet terkemuka yang pernah mengepalai Lembaga Penelitian Antariksa Rusia.
 
Beruntung saya sempat mengikuti salah satu ceramah Susan Eisenhower yang paling dikenal di kalangan studi strategi internasional pada pertengahan November 2012 di Kokoda Foundation, sebuah think tank pertahanan di Australia.
 
Bertajuk “Why Strategy Matters”, pidato ini menyoroti urgensi berpikir strategis dalam menghadapi dunia yang penuh ketidakpastian. Menurut Susan, strategi bukan hanya peta jalan menuju kemenangan, tetapi juga sarana untuk menghindari kekalahan yang tidak perlu.
 
Strategi, katanya, adalah seni memperhitungkan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dengan presisi –dan lebih dari itu, dengan kearifan.
 
Materi ceramah tersebut menjadi relevan jika dikaitkan dengan dinamika kontemporer, misalnya perang udara antara India dan Pakistan.
 
Dalam konflik militer yang terjadi pada Mei 2025 itu, dunia kembali diingatkan bahwa peperangan modern tidak lagi hanya soal jumlah pesawat, misil, atau kekuatan destruktif, tetapi lebih kepada ketepatan strategi dan kecerdasan dalam membaca situasi medan pertempuran. Perang sudah berubah bentuknya menjadi Smart War.

Strategi dalam Perang Udara: Antara Teknologi dan Ketepatan Keputusan
 
India dan Pakistan, dua negara bertetangga yang bersaing secara ideologis dan militeristik sejak 1947, kembali bersitegang dalam babak baru konflik di wilayah perbatasan Kashmir.
 
Pertempuran udara yang meletus menjadi babak penting yang memperlihatkan bukan hanya kekuatan teknologi militer masing-masing negara, tetapi lebih dalam lagi: siapa yang mampu menerapkan strategi dengan lebih cerdas dan efektif. Siapa yang lebih smart!
 
India meluncurkan Operasi Sindoor, sebuah kampanye udara yang dirancang secara presisi, menggabungkan kemampuan pengintaian satelit, kecerdasan buatan, dan drone tempur dalam pola koordinasi berbasis jaringan terintegrasi.
 
Dalam pertempuran yang berlangsung hitungan hari itu, India berhasil mengamankan superioritas udara atas Pakistan tanpa harus mengorbankan keunggulan politik internasional.
 
Keberhasilan ini bukan semata karena kekuatan senjata, tetapi karena strategi besar yang menyatukan kepemimpinan, teknologi, dan komunikasi lintas satuan secara optimal yang berujung pada sistem komando kendali yang canggih.
 
Di sisi lain, Pakistan sempat mengklaim menembak jatuh jet tempur Rafale milik India dalam sebuah pernyataan yang disebar luas melalui media massa.
 
Namun, dalam kenyataan yang terkonfirmasi oleh sumber internasional, jet Rafale tersebut kembali dengan selamat, dan klaim tersebut terbukti sebagai bagian dari strategi informasi untuk meraih dukungan publik domestik.
 
Sekali lagi, kita melihat bahwa dalam perang modern, dimensi strategi komunikasi dan perang psikologis sama pentingnya dengan taktik tempur konvensional.
 
Relevansi Pemikiran Susan Eisenhower
 
Apa yang disampaikan Susan Eisenhower tentang pentingnya strategi menjadi sangat nyata dalam konteks konflik ini. Tanpa strategi, kekuatan militer hanyalah kekacauan yang terorganisir.
 
Dalam konflik India–Pakistan, kemenangan tidak ditentukan oleh siapa yang memiliki misil lebih mahal atau pesawat lebih canggih, melainkan siapa yang tahu kapan harus menyerang, di mana harus mundur, dan bagaimana memengaruhi opini internasional.
 
Susan menekankan pentingnya “long-term vision” dalam setiap strategi. Kita tidak bisa mengelola konflik hanya dengan reaksi emosional atau balas dendam taktis.
 
Dunia modern menuntut kepemimpinan yang berpikir jauh ke depan, mampu memprediksi efek domino dari setiap keputusan militer maupun politik yang diambil.
 
Dalam hal ini, pemikiran Susan Eisenhower sangat cocok dipelajari oleh para perencana pertahanan, baik di Amerika Serikat, Australia, maupun di Indonesia.
 
Refleksi untuk Indonesia
 
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dan pemilik wilayah udara yang sangat luas, juga perlu mengambil pelajaran dari konflik udara India–Pakistan. Kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan reaksi ad hoc dalam menghadapi potensi ancaman udara.
 
Dibutuhkan doktrin strategis nasional yang tidak hanya teknis, tetapi juga konseptual. Perlu ada sinergi antara strategi pertahanan, diplomasi udara, dan kemampuan penguasaan teknologi dalam satu kesatuan kebijakan negara.
 
Pemikiran Susan Eisenhower harus menjadi rujukan: bahwa kekuatan nasional tidak terletak semata pada alutsista, tetapi pada kecerdasan strategis kolektif bangsa.
 
Kita perlu lebih banyak membangun think tank yang independen, memperkuat riset pertahanan, dan membina generasi muda agar memiliki visi strategis dalam menjaga kedaulatan, termasuk bahkan terutama di udara.
 
Demikianlah, dari Dwight D Eisenhower sang jenderal besar, lahirlah Susan Eisenhower sang pemikir besar. Dari ceramah Susan di Australia hingga perang udara di Asia Selatan, satu benang merah mengikat semuanya: strategi adalah kunci.
 
Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, hanya mereka yang memiliki strategi yang cermat yang akan bertahan, apalagi menang.
 
Semoga Indonesia segera menyadari pentingnya hal ini, sebelum terlambat.
 
Penulis adalah Kepala Pusat Studi Air Power Indonesia

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Membaca Manuver Gibran Terima Mahasiswa Pendemo

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:23

Bamus Betawi Siapkan Program Strategis Menuju Lima Abad Jakarta

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:18

BEM Bersatu Ungkap Tiyo Ardianto Dekat dengan Jaringan PDIP dan Eks Timses Ganjar

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:08

Nasabah BRImo Bisa Beli Reksa Dana USD Batavia

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:04

BEM Bersatu: Mobil Tiyo Ardianto Diduga Milik Besan Andhika Perkasa

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:01

Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:30

Haikal Hassan Dianugerahi Gelar Profesor Kehormatan dari Silla University Korsel

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:14

Rp35 Triliun Anggaran MBG Berubah Jadi Sampah

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:00

Kemensos Genjot Sentra Terpadu jadi Pusat Pemberdayaan Masyarakat

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:57

Pola Kenaikan Tidak Biasa Kekayaan Menko Pangan Zulkifli Hasan

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:43

Selengkapnya