Berita

Pendiri Gerakan Boedi Oetomo/Kementerian Kebudayaan

Publika

Bangkitnya Kaum Intelek

RABU, 21 MEI 2025 | 12:04 WIB | OLEH: JIMMY H SIAHAAN

POLITIK etis, yang juga dikenal sebagai politik balas budi, adalah kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda (sekarang Indonesia) pada awal abad ke-20. 

Kebijakan ini bertujuan untuk mensejahterakan rakyat pribumi sebagai bentuk "balas budi" atas eksploitasi yang terjadi akibat kebijakan sebelumnya, terutama sistem tanam paksa. 

Politik etis memiliki tiga pilar utama yakni irigasi, pendidikan, dan emigrasi (transmigrasi). 


Kritik terhadap sistem ini muncul dari kalangan intelektual dan politikus Belanda, seperti Pieter Brooshooft dan C. Th. Van Deventer, yang menganggap Belanda memiliki "hutang kehormatan" kepada rakyat pribumi. 

Gagasan Van Deventer

Conrad Theodor van Deventer mempopulerkan gagasan tentang politik etis, yang menekankan kewajiban moral pemerintah Belanda untuk mensejahterakan rakyat pribumi. 

Pada tahun 1901, politik etis mulai diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda, dengan fokus pada tiga pilar utama: irigasi, pendidikan, dan emigrasi (transmigrasi). 

Politik etis, khususnya bidang pendidikan, turut mendorong lahirnya kesadaran nasionalisme di kalangan pribumi, yang kemudian berujung pada pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Eduard Douwes Dekker (2 Maret 1820–19 Februari 1887), lebih dikenal dengan nama pena Multatuli (dari bahasa Latin multa tul?, "Aku sudah sangat menderita"), adalah seorang penulis Belanda yang terkenal karena novel satirnya Max Havelaar (1860), yang mengecam penyalahgunaan kolonialisme di Hindia Belanda. Ia dianggap sebagai salah satu penulis Belanda terhebat.

Kritik kaum intelektuil Pieter Brooshooft dan C. Th. Van Deventer, yang orang Belanda ternyata mujarab, Novel Max Havelaar dan Multatuli (Aku sudah sangat menderita) sangat berpengaruh. Politik Etis adalah awal sebuah Kebangkitan Nasional.

Harkitnas  lebih dari satu abad berlalu lalu dengan dimulainya gerakan Kaum Intelektual, Gerakan Budi Utomo. Selanjutnya ada,  Tiga Serangkai pelopor nasionalisme Indonesia: Ernest Douwes Dekker (Multatuli), Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Ki Hadjar Dewantara, yang mendirikan Indische Partij. 

Namun saat ini, setelah lebih dari satu abad,  kekecewaan yang luar biasa terjadi, apakah yang terjadi, LEITBILD, kata orang  Jerman, bayangan pembimbing untuk ditiru anak-anak muda untuk membentuk dan mendidik diri sendiri? Tidak ada, atau lebih tepat kalau dikatakan bayangan-bayangan yang ada begitu kacau balau sehingga tak ada garis pedoman yang terpancar dari bayang-bayang itu. 

Kaum intelektual yang bertugas menyaring bayang-bayang itu menghabiskan waktunya untuk menerangkan bahwa semuanya relatif, kurang lebih demikian. Atau mereka membicarakan soal-soal etika dengan pandangan yang sinis.

Lord Keynes mengatakan, "Paling tidak sampai seratus tahun yang akan datang, tulisnya, kita harus menipu setiap orang, termasuk diri kita sendiri, bahwa yang baik itu buruk dan yang buruk itu baik karena yang buruk itu berguna dan yang baik itu tidak berguna. Keserakahan, riba, sikap hati-hati masih harus tetap menjadi Dewa-dewa kita untuk jangka waktu yang cukup lama." 

Di sisi lain, abad ke 21, periode kemajuan pesat yang ditandai oleh AI generatif tingkat lanjut dikenal sebagai ledakan AI . 

AI generatif dan kemampuannya untuk membuat dan memodifikasi konten mengungkap beberapa konsekuensi dan bahaya yang tidak diinginkan saat ini dan menimbulkan kekhawatiran etika tentang efek jangka panjang AI dan potensi risiko eksistensinya.
 
"Stay Hungry, Stay Foolish"

Kalimat ini mengajarkan kita untuk tidak pernah berhenti belajar dan bermimpi besar. 

Filosofi ini juga mendorong kita untuk tetap memiliki rasa lapar akan pengetahuan dan terus berusaha, meskipun seringkali kita merasa berada di luar zona nyaman. 

Melalui prinsip “stay hungry, stay foolish,” Jobs mengajak kita untuk selalu memiliki rasa penasaran yang tinggi, untuk terus mengejar cita-cita tanpa takut gagal atau dianggap aneh.

"Tanda kecerdasan yang sebenarnya bukanlah pengetahuan, melainkan imajinasi."

"Logika akan membawa Anda dari titik A ke titik B, imajinasi akan membawa Anda ke mana-mana."

"Kita tidak dapat memecahkan masalah kita dengan cara berpikir yang sama seperti yang kita gunakan untuk menciptakannya."

"Semakin banyak saya belajar, semakin saya menyadari betapa membuat bayangan akan masa depan.

CEO Nvidia: Jika saya seorang pelajar saat ini, berikut cara saya menggunakan AI untuk meningkatkan kinerja saya, profesi apa pun ‘tidak penting’. Jika CEO Nvidia Jensen Huang menjadi mahasiswa lagi, ia akan memanfaatkan AI generatif untuk meraih karier yang sukses.

“Hal pertama yang akan saya lakukan adalah mempelajari AI,” kata Huang. “Belajar cara berinteraksi dengan AI tidak jauh berbeda dengan menjadi seseorang yang sangat pandai mengajukan pertanyaan,” tambahnya. 

“Memberikan dorongan kepada AI juga sangat mirip. Anda tidak bisa asal mengajukan banyak pertanyaan. Meminta AI untuk menjadi asisten Anda memerlukan keahlian dan keterampilan dalam mengajukannya.”

Dunia Baru. Dari Politik Etis, Kritik kaum Intelektual lebih dari seabad yang lalu. Kini dunia kaum intelektual dan generasi muda berubah kepada  generasi abad  Kecerdasan Artificial, High Teknologi.

*Penulis adalah Eksponen Gema 77/78

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Siswa Sekolah Rakyat akan Dilatih 1.000 Taruna Akmil

Minggu, 05 Juli 2026 | 18:21

Jokowi Pilih Lampung sebagai Awal Safari karena Tanah Tak Bertuan

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:41

OTT Bupati Langkat Temukan 55 Keping Platinum Senilai Rp40 Miliar Lebih

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:16

Hampir 3.000 Orang Tewas, Venezuela Mulai Hentikan Operasi Pencarian Korban Gempa

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:07

Komedian Narji Bikin Khitanan Massal PSI Diserbu Anak-Anak

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:52

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Absen di Pemakaman Ayahnya

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:26

Sudah Ada Perpres, Pakar: Promosi LGBT di Medsos Bisa Berujung Pengadilan

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:13

PM Singapura Dijadwalkan Bertemu Presiden Prabowo Besok

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:08

Pemerintah Perkuat Literasi Siber Antisipasi Ancaman AI dan Hoaks

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:01

Daftar Lengkap 16 Negara yang Lolos ke Babak 16 Besar

Minggu, 05 Juli 2026 | 15:55

Selengkapnya