Berita

Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi dan Media, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila, Khalid Zabidi/ist

Publika

Analisis Komunikasi Krisis

Pertanyaan Besar tentang AI di Tahun 2025

RABU, 07 MEI 2025 | 16:46 WIB | OLEH: KHALID ZABIDI

TAHUN 2025 ini menjadi tahun yang sangat dinantikan dalam dunia teknologi, terutama dalam bidang kecerdasan buatan (AI).

Sejak awal tahun, sudah banyak wacana dan diskusi tentang keadaan teknologi saat ini dan bagaimana AI akan mempengaruhi industri dan kehidupan kita. AI diperkirakan akan mengubah semua industri dan bagian kehidupan.

Dengan kemampuan AI yang dapat menggoda dan berbicara seperti manusia, teknologi ini kemungkinan akan menembus semua proses yang berkontribusi pada hubungan perusahaan dan manusia.


Menurut sebuah laporan dari McKinsey, AI dapat meningkatkan produktivitas global sebesar 1,4 persen per tahun hingga tahun 2030. Hal ini menunjukkan bahwa AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas di berbagai sektor.

Namun, ada juga pertanyaan besar tentang siapa yang memiliki data yang digunakan untuk melatih AI. Data pribadi orang-orang digunakan untuk melatih AI, sehingga penting bagi orang untuk memiliki data sendiri dan melindungi privasi mereka.

Menurut sebuah survei dari Pew Research Center, 72 persen orang Amerika khawatir tentang bagaimana perusahaan menggunakan data pribadi mereka. Oleh karena itu, perlu ada regulasi yang jelas tentang kepemilikan data dan perlindungan privasi.

Dalam konteks komunikasi krisis, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan dan organisasi perlu transparan tentang bagaimana mereka menggunakan data pribadi dan memastikan bahwa mereka memiliki kebijakan privasi yang jelas dan efektif.

Dalam konteks ini, teori Situational Crisis Communication Theory (SCCT) oleh Timothy Coombs dapat membantu kita memahami bagaimana perusahaan dan organisasi dapat menghadapi krisis yang terkait dengan AI.

Menurut SCCT, perusahaan dan organisasi perlu memiliki strategi komunikasi yang efektif untuk menghadapi krisis, termasuk mengakui kesalahan.

Perusahaan dan organisasi perlu mengakui kesalahan mereka dan meminta maaf atas kesalahan tersebut.

Memberikan informasi yang jelas dan transparan. Perusahaan dan organisasi perlu memberikan informasi yang jelas dan transparan tentang apa yang terjadi dan bagaimana mereka akan mengatasi krisis.

Mengambil tindakan. Perusahaan dan organisasi perlu mengambil tindakan untuk mengatasi krisis dan mencegahnya terjadi lagi di masa depan.

Dalam kasus AI, perusahaan dan organisasi perlu memiliki strategi komunikasi yang efektif untuk menghadapi kekhawatiran dan ketakutan masyarakat tentang dampak AI pada pekerjaan, privasi, dan keamanan.

Mereka perlu memberikan informasi yang jelas dan transparan tentang bagaimana AI digunakan dan bagaimana mereka akan mengatasi potensi risiko dan dampak negatif.

Selain itu, AI juga diperkirakan akan mengambil alih dari tenaga kerja manusia, dan merugikan pekerjaan masyarakat kita. Menurut sebuah laporan dari World Economic Forum, 39 persen keterampilan atau tugas mungkin akan otomatis dalam lima tahun ke depan.

Hal ini menunjukkan bahwa perlu ada persiapan dan adaptasi dari masyarakat untuk menghadapi perubahan besar yang dibawa oleh AI.

Dalam konteks SCCT, perusahaan dan organisasi perlu memiliki strategi komunikasi yang efektif untuk menghadapi krisis ini, termasuk memberikan informasi yang jelas dan transparan tentang bagaimana AI digunakan dan bagaimana mereka akan mengatasi potensi dampak negatif pada pekerjaan.

Dengan demikian, kita perlu memikirkan bagaimana kita akan mengintegrasikan AI ke dalam kehidupan kita tahun ini, dan di tahun-tahun mendatang. Apakah kita siap untuk menghadapi perubahan besar yang dibawa oleh AI?

Hanya waktu yang akan menjawab pertanyaan ini, namun dengan persiapan dan adaptasi yang tepat, kita dapat memanfaatkan potensi besar yang dibawa oleh AI untuk meningkatkan kehidupan kita.

Penulis adalah Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi dan Media, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Pembongkaran Tiang Monorel Mangkrak Demi Penataan Kawasan

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:59

Lahan Huntap Korban Bencana Harus Segera Dituntaskan

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:52

Ini Identitas Delapan Orang dan Barbuk OTT Pejabat Pajak Jakut

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:12

Larangan Tambang Emas Rakyat, Kegagalan Baca Realitas

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:58

Pelapor Pandji Dianggap Klaim Sepihak dan Mencatut Nama NU

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:30

Romantisme Demokrasi Elektoral dan Keliru Baca Kedaulatan

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:08

Invasi AS ke Venezuela Bisa Bikin Biaya Logistik Internasional Bengkak

Minggu, 11 Januari 2026 | 05:45

Khofifah Ajak Pramuka Jatim Sukseskan Ketahanan Pangan dan MBG

Minggu, 11 Januari 2026 | 05:23

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

Klok Dkk Siap Melumat Persija Demi Amankan Posisi

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:40

Selengkapnya