Berita

Pengamat kebijakan publik, Achmad Fanani Rosyidi/Net

Politik

Pengamat: Hilirisasi Jangan Sekadar Jargon, Harus Berkeadilan dan Berkelanjutan

MINGGU, 04 MEI 2025 | 00:15 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pengamat kebijakan publik dan founder Masyarakat Untuk Demokrasi Indonesia (Muda), Achmad Fanani Rosyidi, mengingatkan pentingnya memastikan hilirisasi berjalan adil dan berkelanjutan, demi menyambut bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.

Fanani menekankan bahwa momentum 2045 saat 60 persen penduduk Indonesia berada di usia produktif bisa menjadi pedang bermata dua.

Di satu sisi, peluang menuju Indonesia Emas terbuka lebar kalau sumber daya manusia (SDM) unggul, lapangan kerja memadai, dan pertumbuhan ekonomi inklusif terwujud. 


“Namun di sisi lain, ancaman ‘Indonesia Cemas’ mengintai jika bonus demografi justru dibarengi dengan tingginya stunting, pengangguran, ketimpangan, serta kerusakan lingkungan yang menggerus daya dukung alam,” ujar Fanani dalam keterangannya, Sabtu 3 Mei 2025. 

Menurut Fanani, kebijakan hilirisasi belum sepenuhnya berpihak kepada rakyat. Ia mencontohkan praktik hilirisasi nikel di Teluk Weda dan Pulau Obi, Maluku Utara, yang menimbulkan kerusakan ekosistem, pencemaran limbah tambang, serta pelanggaran hak masyarakat adat. 

“Nelayan setempat kehilangan mata pencaharian karena ikan tercemar tailing, sementara janji kesejahteraan justru berbanding terbalik dengan meningkatnya kemiskinan dan konflik agraria,” jelasnya.

Ia menegaskan, bahwa hilirisasi tidak boleh sekadar jargon pertumbuhan ekonomi, tapi harus dibarengi dengan prinsip keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan. Menurutnya, roadmap hilirisasi pemerintah harus dikawal ketat agar tidak mengulang pola eksploitatif yang mengorbankan rakyat dan alam.

Fanani juga mengajak mahasiswa untuk bersikap kritis dan aktif mengawal kebijakan pembangunan. 

“Bonus demografi hanya bermakna jika generasi muda memastikan pembangunan berjalan berkeadilan. Jangan sampai kita mewariskan Indonesia yang emas di atas kertas, tapi cemas dalam realitas,” tegasnya.

Lebih jauh, ia mendorong kolaborasi antara akademisi, masyarakat sipil, korporasi, dan pemerintah untuk menata ulang model hilirisasi nasional. Semua pihak harus berkontribusi dalam membangun masa depan Indonesia yang gemilang dan inklusif.

Populer

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Usai DPR, Guru Besar IPB Desak BPK Evaluasi WTP Kemenhut

Rabu, 28 Oktober 2026 | 08:24

HLN ke-81: PLN Perkuat Listrik sebagai Penggerak Kehidupan dan Kemandirian Bangsa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:47

IKA FH Undip Gelar Konsolidasi, Ini yang Dibahas

Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:55

Tolak Usul Luhut, PKS Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara

Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:25

Telkom Perkuat Transparansi Ekosistem Pengadaan Digital Nasional Lewat SPSE V5

Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:57

Konser Andrea Bocelli Turut Serukan Solidaritas Palestina Tuai Apresiasi

Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:28

Menanti Negarawan di Tengah Oase Pragmatisme

Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:55

InfraNexia Perkuat Kesiapan Infrastruktur Dukung Pertumbuhan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:25

Revitalisasi Intisab Siapkan Kepemimpinan Menuju Jakarta Kota Global

Rabu, 28 Oktober 2026 | 03:59

Kemerdekaan yang Belum Selesai: Dari Cita-Cita 1945 ke Amarah Gen Z

Rabu, 28 Oktober 2026 | 03:30

Selengkapnya