Berita

Ilustrasi/Ist

Publika

Ketika Kecurigaan Mengaburkan Nalar Akademik

Oleh: Budhi Pranoto*
RABU, 30 APRIL 2025 | 19:55 WIB

BELAKANGAN ini, wacana mengenai keterlibatan militer dalam institusi pendidikan tinggi kembali mencuat, memantik reaksi keras dari sebagian kalangan. 

Ada yang menyuarakan kekhawatiran akan bangkitnya represi gaya Orde Baru, sementara sebagian lain menuduh langkah ini sebagai bentuk infiltrasi militerisme ke ruang akademik. Namun, pertanyaannya, benarkah kita sedang menghadapi ancaman, atau justru terjebak dalam ketakutan lama yang belum selesai?

Sebagaimana dikemukakan oleh Rasminto, Direktur Eksekutif Human Studies Institute (HSI), penolakan terhadap keterlibatan militer di kampus sering kali bersandar pada dikotomi palsu, sebuah cara berpikir yang memisahkan militer dan dunia akademik secara kaku, seolah keduanya tak bisa beririsan secara sehat. 


Pandangan semacam ini tidak hanya usang, tetapi juga mencerminkan gejala paranoid kolektif yang belum sembuh dari luka masa lalu.

Memang benar, sejarah mencatat periode kelam saat kebebasan berpikir di kampus dikebiri oleh bayang-bayang kekuasaan. Namun, terus-menerus hidup dalam trauma tanpa ruang untuk menilai konteks baru hanya akan membuat bangsa ini stagnan. 

Negara-negara maju seperti Swiss, Denmark, dan Swedia telah menunjukkan bahwa kolaborasi antara militer dan institusi pendidikan bisa melahirkan warga negara yang disiplin, berintegritas, dan bangga terhadap identitas kebangsaannya.

Yang perlu kita pastikan adalah transparansi, batasan peran, dan akuntabilitas. Bukan menolak total tanpa melihat substansi. Kecurigaan yang berlebihan justru berisiko melemahkan kemampuan bangsa untuk membangun sinergi dalam menghadapi tantangan global yang makin kompleks. 

Dunia pendidikan dan militer sama-sama bisa menjadi mitra strategis dalam membentuk generasi muda yang tangguh asal kolaborasinya sehat, bukan hegemonik.

Sudah waktunya kita berdamai dengan masa lalu, dan mulai menilai segala sesuatu dengan akal sehat, bukan dengan bayang-bayang ketakutan. Jangan sampai paranoid mengaburkan masa depan yang seharusnya bisa kita bangun bersama.

*Penulis adalah Relawan Kemanusiaan

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

KPK Panggil VP PT Valbury Asia Futures di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:31

Karhutla Ancam Orangutan, Puluhan Satwa Dievakuasi

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:23

Kepala BPGMN hingga Menkopolkam Merapat ke Istana Jelang Ratas Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:22

Ancaman MSCI, Sudah Tepat OJK Sanksi Emiten Milik Prajogo Pangestu dan Franky Widjaja

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:20

Pemerintah Jangan Anggap Remeh Hasil Survei

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Kasus Dugaan Suap, KPK Panggil Pejabat Pemkab Lombok Barat dan Staf Hotel

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Roadmap IHT Dibutuhkan untuk Jamin Kepastian Usaha

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:05

Terancam Turun Kelas, BEI Temui MSCI Sore Ini

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:51

Kasus Suap Asuransi Perkapalan Pelni, KPK Panggil Petinggi Pialang Asuransi

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:45

Komisi III DPR Dukung Kapolri Dorong MUI Kaji Fatwa soal Vape

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:39

Selengkapnya