Berita

Representative Image/Net

Dunia

Trump Longgarkan Ekspor Senjata, Korut: Dunia Bisa Terbakar Perang

MINGGU, 20 APRIL 2025 | 16:11 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Korea Utara mengeluarkan kecaman keras terhadap keputusan terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melonggarkan peraturan ekspor senjata, menyebutnya sebagai "langkah berbahaya" yang hanya akan memperluas konflik bersenjata di seluruh dunia.

Kecaman tersebut disampaikan melalui Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), yang dikelola pemerintah Pyongyang pada Minggu, 20 April 2025. 

Dalam laporannya, KCNA menuduh bahwa penjualan senjata AS bukan hanya dimotivasi oleh keuntungan ekonomi, melainkan juga sebagai bagian dari strategi politik global Washington.


"Bagi Amerika Serikat, penjualan senjata bukan hanya sekadar ruang menghasilkan uang untuk memenuhi keinginan moneter, tetapi juga merupakan sarana utama untuk mendukung realisasi kebijakan luar negeri yang agresif, yang mencari hegemoni," tulis KCNA.

Langkah Trump tersebut diumumkan melalui sebuah perintah eksekutif yang ditandatangani pada 9 April. 

Kebijakan ini menyerukan peninjauan ulang terhadap peraturan ekspor senjata dalam negeri guna mempermudah penjualan peralatan pertahanan AS ke negara lain.

KCNA menyebut bahwa kebijakan ini sejalan dengan sejarah panjang intervensi militer AS, dan menuduh Washington memperpanjang konflik global, termasuk di Ukraina dan Jalur Gaza, dengan dalih mempromosikan perdamaian.

"Langkah AS untuk melonggarkan regulasi ekspor senjata justru berarti memperluas perang," tegas media tersebut.

Dalam laporan yang sama, Pyongyang menyoroti bahwa mayoritas senjata yang diekspor AS dalam beberapa tahun terakhir jatuh ke tangan apa yang mereka sebut sebagai "maniak perang" di Eropa dan Timur Tengah. 

Mereka juga menuduh AS menggunakan senjata sebagai alat untuk mempersenjatai pasukan proksi di berbagai zona konflik.

"Dampaknya menjadi jelas ketika senjata mematikan Amerika diserahkan kepada pasukan 'proksi' yang terlibat dalam perang," lanjut KCNA.

Meski mendapat kecaman dari Korea Utara dan negara-negara lain, pemerintahan Trump mengklaim bahwa kebijakan pelonggaran ini bertujuan untuk memperkuat sektor industri pertahanan domestik sekaligus memperluas pengaruh strategis AS melalui kemitraan militer global.

Namun, kritik dari Pyongyang menunjukkan bahwa kebijakan ini dapat memperburuk ketegangan geopolitik yang sudah tinggi dan semakin menyulitkan upaya diplomasi internasional di tengah konflik yang masih berlangsung di berbagai belahan dunia.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

Eggi Sudjana, Kau yang Memulai Kau yang Lari

Senin, 29 Desember 2025 | 01:10

Kasus Suap Proyek di Bekasi: Kedekatan Sarjan dengan Wapres Gibran Perlu Diusut KPK

Senin, 29 Desember 2025 | 08:40

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

UPDATE

KPK Tidak Ragu Tetapkan Yaqut Cholil Tersangka

Kamis, 08 Januari 2026 | 20:04

KPK Ultimatum Kader PDIP Nyumarno Hadiri Pemeriksaan

Kamis, 08 Januari 2026 | 19:47

Wanita Ditembak Mati Agen ICE, Protes Meluas

Kamis, 08 Januari 2026 | 19:43

Pimpinan DPRD Kabupaten Bekasi Aria Dwi Nugraha Dicecar soal Aliran Uang Suap

Kamis, 08 Januari 2026 | 19:31

Kader PDIP Nyumarno Mangkir dari Panggilan KPK

Kamis, 08 Januari 2026 | 19:25

Akademisi UGM Dorong Penguatan Mata Kuliah Ekonomika Koperasi

Kamis, 08 Januari 2026 | 19:19

Arab Saudi Klaim Pemimpin Separatis Yaman Selatan Melarikan Diri Lewat Somaliland

Kamis, 08 Januari 2026 | 19:15

Presiden Prabowo Beri Penghargaan Ketua Umum GP Ansor

Kamis, 08 Januari 2026 | 18:50

Istri Wawalkot Bandung Menangis di Sidang Praperadilan

Kamis, 08 Januari 2026 | 18:45

Rizki Juniansyah Ngaku Tak Tahu Bakal Naik Pangkat Jadi Kapten TNI

Kamis, 08 Januari 2026 | 18:32

Selengkapnya