Berita

Ilustrasi/Netdi

Bisnis

Perdagangan China dan ASEAN Tembus Rp3.762 Triliun di Kuartal Pertama 2025

SELASA, 15 APRIL 2025 | 10:50 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

ASEAN tetap menjadi mitra dagang utama China, dengan total nilai perdagangan mencapai 1,71 triliun Yuan (sekitar Rp3.762 triliun) pada kuartal pertama 2025. 

Angka ini naik 7,1 persen dibandingkan tahun lalu dan mencakup 16,6 persen dari total perdagangan luar negeri China.

Hal ini disampaikan oleh juru bicara Administrasi Umum Kepabeanan (GAC), Lu Daliang, dalam konferensi pers tentang hubungan dagang China-ASEAN pada Senin, 14 April 2025.


Lu menjelaskan bahwa 90,1 persen perdagangan antara China dan negara-negara ASEAN didominasi oleh produk manufaktur. 

Ekspor utama China ke ASEAN antara lain panel layar datar, suku cadang mobil, dan baterai lithium, yang meningkat lebih dari 20 persen. 
Di sisi lain, impor dari ASEAN juga menunjukkan pertumbuhan stabil, seperti komponen perangkat elektronik, sirkuit cetak, dan bahan baku tekstil.
"Pertumbuhan ini menunjukkan kuatnya keterkaitan antara industri di China dan ASEAN, yang mendukung perdagangan produk dari hulu ke hilir secara pesat," kata Lu, seperti dikutip dari Global Times.

Sejak 2017, ASEAN juga menjadi mitra dagang terbesar China dalam sektor pertanian selama delapan tahun berturut-turut. 

Pada kuartal pertama 2025, China mengimpor produk pertanian senilai 52,65 miliar Yuan dari ASEAN (naik 13,8 persen) dan mengekspor sebesar 37,92 miliar Yuan (naik 1,4 persen).

"Produk pertanian dari kedua pihak saling melengkapi dan memenuhi kebutuhan pasar masing-masing," kata Lu.

Selain itu, penggunaan transportasi untuk perdagangan juga meningkat. Impor China dari ASEAN lewat jalur kereta tumbuh 37 persen, dan lewat jalan darat naik 23,2 persen. 

Sejak kereta api China-Laos mulai beroperasi tiga tahun lalu, lebih dari 50.000 kereta barang telah beroperasi.

Koridor Darat-Laut Barat yang baru juga mempermudah perpindahan barang antara kapal dan kereta api, membuat proses logistik lebih cepat dan efisien.

Lu juga menyampaikan bahwa negosiasi untuk versi terbaru Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) China-ASEAN 3.0 telah selesai secara substansial. 

"Ke depan, kerja sama akan diperluas ke bidang-bidang baru seperti ekonomi digital, ekonomi hijau, dan rantai pasok, serta memperkuat integrasi standar dan regulasi antar kedua pihak," ujarnya.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Bursa Asia Ambruk, Saham Teknologi Berguguran

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:30

Nasdaq Tertekan, Investor Wall Street Waspadai Inflasi AS

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:17

Bidik Pasar Modal, Dua BUMD DKI Konsultasikan Rencana IPO ke OJK

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:06

Delta Tunda Penerbangan ke Arab Saudi Usai Serangan Riyadh hingga 2027

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:46

Logam Mulia Tertekan Dolar Jelang Rilis Inflasi Amerika Serikat

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:29

Pasar Eropa Hijau Didorong Saham Perbankan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:13

Drone Seeder Solusi Reklamasi Lahan Pascatambang, SOP Masih Digodok

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:56

Republik Konoha dan Krisis Ketiga

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:23

Olahan Sagu Inovasi TEP IPB University Ramaikan Festival Kali Maro IV Merauke

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:57

Ijazah bagi Kekuasaan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:27

Selengkapnya