Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Tiga Pekerja USAID Dipecat saat Bertugas di Zona Gempa Myanmar

MINGGU, 06 APRIL 2025 | 10:46 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Tiga pekerja bantuan dari Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) diberhentikan saat sedang menjalankan misi kemanusiaan di zona gempa Myanmar, memicu kritik tajam terhadap kebijakan pemangkasan anggaran bantuan luar negeri oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.

Keputusan pemecatan itu muncul di tengah respons terhadap gempa bumi besar berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Myanmar pada 28 Maret lalu, menewaskan sedikitnya 3.354 orang dan menyebabkan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal. 

Ketiga staf USAID tersebut sedang terlibat dalam upaya penyelamatan dan pemulihan di lapangan ketika mereka diberitahu bahwa kontrak kerja mereka akan diputus dalam beberapa bulan ke depan.


"Tim ini bekerja sangat keras, fokus untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada mereka yang membutuhkan. Mendapatkan berita tentang pemutusan hubungan kerja yang akan segera terjadi, bagaimana mungkin itu tidak membuat putus asa?" kata mantan Wakil Administrator Biro Bantuan Kemanusiaan USAID. Marcia Wong, seperti dimuat Reuters pada Minggu, 6 April 2025. 

Wong menjelaskan bahwa para staf USAID tersebut bahkan tidur di jalanan di tengah reruntuhan zona gempa, seiring dengan ketakutan akan gempa susulan dan bangunan yang masih berpotensi runtuh. 

"Mereka berada di garis depan, namun justru diperlakukan seakan-akan pekerjaan mereka tidak penting," ujarnya.

Pemerintah Trump sebelumnya memang telah menjanjikan bantuan sebesar 9 juta dolar AS untuk Myanmar, tetapi dampaknya dibatasi oleh pemotongan besar-besaran terhadap anggaran USAID dan pemecatan terhadap hampir seluruh stafnya. 

Kebijakan ini dijalankan melalui Departemen Efisiensi Pemerintah, sebuah badan baru yang dikendalikan oleh miliarder teknologi Elon Musk, yang berfokus pada pemangkasan pengeluaran federal.

Menurut Wong, sebagian besar tenaga USAID yang semestinya mengoordinasikan respons kemanusiaan kini sudah tidak lagi bekerja. Selain itu, kontrak dengan mitra pelaksana pihak ketiga juga telah dihentikan, memperparah lemahnya respons AS di tengah krisis.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menolak kritik bahwa lambatnya bantuan AS disebabkan oleh kebijakan internal. 

Dalam pernyataannya di Brussels, Rubio menyatakan bahwa Myanmar bukanlah tempat termudah untuk bekerja dan menyalahkan pemerintah militer negara itu karena membatasi akses kemanusiaan.

“Pemerintah militer Myanmar tidak menyukai Amerika Serikat dan terus mencegah kami beroperasi seperti yang kami inginkan,” ujarnya kepada wartawan.

Meski begitu, kritik terhadap langkah AS tetap berdatangan, terlebih karena negara-negara lain seperti China, Rusia, dan India telah dengan cepat mengirimkan bantuan ke Myanmar. Di sisi lain, AS yang sebelumnya dikenal sebagai donor kemanusiaan terbesar dunia justru mundur dari perannya.

Rubio bahkan menyatakan secara terbuka bahwa AS tidak akan lagi menjadi donor kemanusiaan utama dan mendesak negara-negara kaya lainnya untuk mengambil alih peran tersebut.

PBB juga melaporkan bahwa junta militer Myanmar secara aktif menghambat pengiriman bantuan, semakin memperumit kondisi kemanusiaan di lapangan.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

IRGC: Jika Netanyahu Masih Hidup, Kami Akan Memburunya

Minggu, 15 Maret 2026 | 15:44

Benarkah Membalik Pakaian Saat Dicuci Bikin Baju Lebih Awet?

Minggu, 15 Maret 2026 | 15:24

Kantor PM Israel Bantah Rumor Netanyahu Tewas

Minggu, 15 Maret 2026 | 15:12

KPK Isyaratkan Tersangka Baru dari Pihak Swasta di Skandal Kuota Haji

Minggu, 15 Maret 2026 | 14:40

KPK Endus Modus THR ke Forkopimda Terjadi di Banyak Daerah

Minggu, 15 Maret 2026 | 14:02

Zelensky Tuduh Rusia Pasok Drone Shahed ke Iran untuk Serang AS

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:51

LPSK Beri Perlindungan Darurat untuk Aktivis KontraS Korban Teror Air Keras

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:41

Trump Minta Tiongkok hingga Inggris Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:27

Serangan ke Aktivis Tanda Demokrasi di Tepi Jurang

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:20

KPK Bongkar Dugaan THR untuk Polisi, Jaksa, dan Hakim di OTT Cilacap

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:15

Selengkapnya