Berita

Megawati Soekarnoputri dan Joko Widodo/Net

Politik

Mega dan Jokowi Sulit Disatukan

JUMAT, 04 APRIL 2025 | 16:12 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Beragam lobi politik dilakukan untuk mempersatukan kembali Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. 

Sayangnya, rujuk politik itu bakal sulit terlaksana karena luka politik yang terlanjur terbuka lebar.

"Hingga hari ini saja Megawati belum membuka ruang untuk bertemu dengan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Untuk membuka ruang bertemu dengan Jokowi jauh lebih sulit," kata pengamat politik dari Motion Cipta (MC) Matrix, Wildan Hakim kepada RMOL, Jumat 4 April 2025.


"Karena apa yang dilakukan Jokowi itu lebih melukai perasaan Ibu Megawati," sambungnya.

Menurut Wildan, keengganan Megawati untuk bertemu dengan Jokowi bukan semata-mata adanya unsur sifat kekanak-kanakan. 

Namun, kata Wildan, lebih mempertimbangkan aspek kemanfaatan politik yang didapat PDIP jika Megawati bertemu dengan mantan kadernya, yakni Jokowi.

“Nuansanya menjadi rumit. Keputusan Jokowi mencawapreskan Gibran ibarat pukulan yang memicu luka mendalam buat PDIP," kata Wildan.

Terbukti, capres partai banteng, Ganjar Pranowo kalah. Padahal, Jokowi dua kali direstui sebagai capres dan memimpin pemerintahan selama dua periode.

Sebagai politikus yang memiliki pertimbangan rasional, kata dosen ilmu komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia ini, Megawati merasa lebih baik tidak bertemu dengan Jokowi dan SBY, meski keduanya sudah berstatus sebagai mantan presiden. 

Besar kemungkinan Megawati enggan bertemu dengan kedua tokoh tersebut karena tidak ada kebutuhan yang mendesak.

"Tanpa ada pertemuan antara Megawati dan Jokowi, toh Puan Maharani selaku Ketua DPR sudah bertemu dengan Jokowi di beberapa acara seremonial. Puan bisa dianggap sebagai representasi Megawati dari sudut pandang politik," kata Wildan.

Wildan melihat, langkah Presiden Prabowo Subianto yang mengutus anak semata wayangnya, Didit Hediprasetyo untuk bertemu dengan Jokowi dan Megawati memiliki dua tafsir.

Pertama, menginformasikan kepada publik Indonesia tentang peran politik yang mulai dijalankan Didit selaku anak Presiden dan ketua umum Partai Gerindra. Kedua, menunjukkan taktik politik level ringan ala Presiden Prabowo.

"Dengan mengutus Didit, Prabowo hendak merelaksasi relasi antara tokoh-tokoh politik yang selama terkesan nggak rukun. Relaksasi berupaya memecah jalan buntu karena Jokowi dan Megawati masih saling menutup pintu," pungkas Wildan.



Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

UPDATE

Swiss Tantang Argentina Usai Singkirkan Kolombia Lewat Drama Adu Penalti

Rabu, 08 Juli 2026 | 05:45

Kemesraan Prabowo-Modi

Rabu, 08 Juli 2026 | 05:30

Khayal Seorang Revolusioner

Rabu, 08 Juli 2026 | 05:15

Pengalaman Demokrasi India jadi Inspirasi Penting Indonesia

Rabu, 08 Juli 2026 | 04:53

Sikap Tegas Rektor Untan Jalankan Statuta Universitas Tuai Apresiasi

Rabu, 08 Juli 2026 | 04:23

Belajar dari Koperasi Pertanian Jepang

Rabu, 08 Juli 2026 | 03:58

Prabowo: Saya adalah Pengagum Pribadi Shri Narendra Modi

Rabu, 08 Juli 2026 | 03:31

Kisah Seorang Anak Buruh Harian Lepas

Rabu, 08 Juli 2026 | 03:13

Bahayakan Nyawa Banyak Orang, DPR Desak Polisi Berantas Maling Besi

Rabu, 08 Juli 2026 | 02:59

Tinjau TPA Jatiwaringin

Rabu, 08 Juli 2026 | 02:39

Selengkapnya