Berita

Presiden Prabowo Subianto/Ist

Publika

Kenapa Presiden Prabowo Diseret-Seret ke Pasar?

RABU, 02 APRIL 2025 | 10:31 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

PADA saat harga saham ambruk, bahkan dinilai keadaannya sama dengan saat krisis 1998, para pelaku pasar galau, resah, banyak yang rugi besar. Namun tidak ada masyarakat yang panik, masyarakat hanya menonton, oo harga saham jatuh, gitu saja.

Demikian juga ketika nilai tukar Rupiah terus merosot, semua ekonomi resah, wah ini bisa gawat. Keadaan ekonomi Indonesia persis seperti keadaan tahun 1998. Rupiah jatuh senilai sekarang ini. Tapi anehnya masyarakat bisa biasa saja. Bahkan mungkin sebagian besar elite keuangan mungkin merasa senang.

Sebab kalau ekspor sumber daya alam atau komoditas cuannya bertambah. Kalau terima utang dalam mata uang asing nilai nominalnya malah bertambah. Praktik inilah yang selama ini dijalankan untuk menipu atau menyuap APBN.


Mengapa masyarakat tidak resah? Karena keadaan di bawah biasa-biasa saja. Bahkan malah terjadi anomali yang besar. Harga-harga barang justru menurun.

Ada juga yang mengatakan mungkin karena permintaan melemah, jadi harga menurun. Maka terjadilah inflasi yang rendah dan bahkan deflasi atau harga barang menurun. Seharusnya tidak begitu lazimnya, nilai tukar merosot maka harga barang-barang akan merangkak naik. Sekarang anomali bahkan anomalinya ekstrem.

Presiden Prabowo membenarkan keadaan ini dengan mengatakan main saham itu main judi. Rakyat biasa tidak punya saham. Jadi kalau harganya naik turun atau jatuh sekalipun, maka itu hanya permainan segelintir elite.

Permainan apa? Permainan pemain besar memakan uang pemain kecil. Namun itu sekali lagi itu bukan masalah rakyat umum.

Keadaan ekonomi yang anomali dan statement Presiden Prabowo memang menegaskan bahwa ekonomi masyarakat itu benar-benar terpisah dengan ekonomi elite di atas.

Masyarakat bergulat dengan keadaan sektor riil, memproduksi pangan, bahan makanan, usaha-usaha lainnya yang menopang kehidupan sehari-hari. Namun elite di atas sibuk dengan permainan uang. Uang untuk membeli uang. Uang untuk membuat uang. Money to money.

Sudah lama para elite di atas membuat uang dan menggerakkan uang hanya di lingkaran mereka. Sebagai contoh terjadi di dalam bursa saham dan pasar keuangan.

Praktiknya pemerintah menjual surat utang, lalu dibeli oleh bank-bank dan perusahaan keuangan. Lalu bank dan perusahaan membeli surat berharga negara (SUN) dan membeli surat utang Bank Indonesia (BI).

Uang berputar di elite seperti kotoran manusia yang berputar-putar di dalam pusaran air. Semua tidak ada kaitannya dengan uang rakyat.

Presiden Prabowo menyadari benar hal semacam itu. Sehingga muncul ide membentuk Danantara sebagai sebuah usaha mengonsentrasikan sumber daya keuangan negara supaya bisa dialokasikan bagi usaha usaha memajukan ekonomi riil.

Selama ini sumber daya keuangan negara tidak digerakkan untuk membangun pertanian, industri dan perdagangan, namun hanya sibuk bermain spekulasi.

Demikian juga Presiden Prabowo menyadari bahwa uang APBN selama ini bocor. Raja-raja kecil di Senayan dan di pemerintahan bermain-main dengan anggaran negara. Akibatnya anggaran negara itu tidak produktif, bocor di sana-sini.

Apa buktinya ICOR Indonesia tertinggi di ASEAN, artinya tingkat pengembalian modal yang ditanamkan di dalam ekonomi Indonesia termasuk yang dikeluarkan APBN,  tingkat pengembaliannya sangat rendah. Bocor kasar, bukan bocor alus.

Kesadaran Presiden Prabowo ini tepat. Anehnya masih banyak orang-orang yang salah mengerti. Prabowo ingin menggunakan tangan negara untuk mengelola segenap potensi ekonomi yang besar, mengonsentrasikan sumber daya ekonomi, memproduktifkan aset aset keuangan, semua akan dijalankan oleh negara. Namun sebagian besar elite tidak ikhlas, lahan mereka diambil alih oleh negara yang dikomandoi oleh Presiden Prabowo.

Elite politik yang salah kaprah terus berusaha menyeret-nyeret Presiden Prabowo ke pasar, membawa Prabowo ke dalam logika pasar. Sementara pasar telah dibubarkan secara halus oleh globalisasi yang baru.

Presiden Donald Trump memperlihatkan aksi aksinya membubarkan semua unsur pasar secara cepat, membubarkan liberalisasi keuangan, menghentikan keterlibatan Amerika Serikat dalam perjanjian perdagangan bebas.

Presiden Donald Trump dan Presiden Prabowo berada dalam tema globalisasi yang baru, yakni globalisasi yang mengembalikan peran negara dalam perekonomian. Namu para arsitektur keuangan Indonesia belum sadar dari tidur mereka, dengan air mata berlinang dan pikiran yang kosong, mengatakan keadaan sekarang tidak bersahabat lagi.

Mereka tetap berusaha mengajak Prabowo bermain perjudian saham, mengajak Presiden Prabowo bermain dengan anggaran defisit yang bocor. Tentu saja Presiden Prabowo tidak akan mau. Nah siap-siap asam lambung kalian naik!

Selamat Idul Fitri, minal aidin wal faizin, mohon maaf atas kata-kata membuat hati dan pikiran terguncang.

Penulis adalah peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)

Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

UPDATE

Tips Aman Belanja Online Ramadan 2026 Bebas Penipuan

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:40

Pasukan Elit Kuba Mulai Tinggalkan Venezuela di Tengah Desakan AS

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:29

Safari Ramadan Nasdem Perkuat Silaturahmi dan Bangun Optimisme Bangsa

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:23

Tips Mudik Mobil Jarak Jauh: Strategi Perjalanan Aman dan Nyaman

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:16

Legislator Dorong Pembatasan Mudik Pakai Motor demi Tekan Kecelakaan

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:33

Pernyataan Jokowi soal Revisi UU KPK Dinilai Problematis

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:26

Tata Kelola Konpres Harus Profesional agar Tak Timbulkan Tafsir Liar

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:11

Bukan Gibran, Parpol Berlomba Bidik Kursi Cawapres Prabowo di 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:32

Koperasi Induk Tembakau Madura Didorong Perkuat Posisi Tawar Petani

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:21

Pemerintah Diminta Kaji Ulang Kesepakatan RI-AS soal Pelonggaran Sertifikasi Halal

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:04

Selengkapnya