Berita

Ilustrasi (Foto: AI/AT)

Publika

Germo Politik

JUMAT, 28 MARET 2025 | 07:15 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

KANG Dedy Mulyadi, sang gubernur Jawa Barat yang lebih sering tampil bak budayawan dengan semangatnya kembali ke alam, kembali membuat gaduh dengan ceramahnya. Kali ini, bukan soal mitologi Sunda atau filsafat jalanan, melainkan sebuah tema yang lebih panas dari minyak goreng langka: politik prostitutif.

Jangan salah paham, meskipun ini ceramah Ramadan, KDM- begitu sebutannya- bukan sekadar membahas soal industri malam, melainkan sebuah analogi tajam tentang transaksi kekuasaan yang lebih mesum dari sekadar jual beli tubuh. Namun, dengan logika tajam, dia lantas memberi solusi: anggaran berbasis syariah.

Dalam ceramahnya, sebelum sampai ke solusi itu, KDM menguliti realitas politik dengan gaya khasnya: santai, sarkastik, tapi menusuk tajam seperti sembilu. Politik, katanya, sudah mirip bisnis esek-esek. Ada germo, ada pelanggan, ada tarif, dan ada yang menikmati keuntungan dari sistem ini.


Bedanya, jika di dunia prostitusi konvensional transaksi hanya melibatkan dua atau tiga pihak, di politik prostitutif, yang membayar justru rakyat -entah sadar atau tidak. Para germo politik ini adalah mereka yang punya kuasa atas anggaran, yang menentukan siapa mendapatkan apa, berapa banyak, dan dengan syarat apa.

Para germo politik tersebut menjajakan proyek, kursi jabatan, hingga kebijakan, bukan demi kepentingan rakyat, tetapi demi memperkaya “pemain” yang terlibat. Akibatnya, APBD dan APBN yang seharusnya menjadi alat untuk menyejahterakan rakyat justru berubah menjadi pundi-pundi yang mengalir ke kantong kelompok tertentu.

Lalu tiba giliran KDM menawarkan konsep anggaran yang lebih syar’i. Katanya, seharusnya pengelolaan anggaran negara mengacu pada prinsip zakat dalam Islam. Zakat, sebagaimana diketahui, memiliki delapan kelompok penerima yang jelas: fakir, miskin, amil zakat, mualaf, budak yang hendak merdeka, mereka yang terjerat utang, pejuang di jalan Allah, dan ibnu sabil.

Ini, menurut KDM, bukan sekadar konsep teologis, tetapi sebuah model distribusi keuangan yang bertujuan untuk menciptakan keseimbangan sosial. Coba bandingkan dengan anggaran negara kita selama ini. Apakah betul fakir dan miskin yang menjadi prioritas utama? Di mana posisi negara ketika melihat warganya terjerat rentenir?

Ataukah justru dana anggaran lebih gendut mengalir ke proyek-proyek mercusuar yang lebih banyak menguntungkan kontraktor dan germo politik? Apakah anggaran pendidikan dan kesehatan benar-benar diperuntukkan bagi mereka yang paling membutuhkan, atau hanya sekadar angka di atas kertas yang dimainkan untuk kepentingan elektoral?

KDM, dalam gaya khasnya, menyentil betapa kita sering kali terjebak dalam ilusi kesejahteraan yang diciptakan oleh para germo politik. Mereka menjual mimpi, menawarkan program-program yang terlihat manis di awal, tetapi pada akhirnya hanya memperkaya segelintir orang dan memuluskan jalan menduduki kursi kekuasaan.

Jika anggaran negara benar-benar dikelola dengan konsep yang lebih syar’i, dengan mengacu pada konsep zakat, maka seharusnya tidak ada lagi cerita rakyat yang kelaparan, anak putus sekolah, atau jembatan ambruk yang baru diresmikan seminggu lalu. Di sinilah KDM tampil seolah penceramah yang lebih HMI dari tokoh HMI.

Namun, tuturnya, realitas berkata lain. Para germo anggaran masih berjaya, politik prostitutif masih berjalan, dan rakyat -seperti pelanggan setia- terus saja tertipu oleh janji-janji manis. Mungkin sudah waktunya kita berhenti menjadi pelanggan yang selalu dikecewakan dan mulai bertanya: siapa yang sebenarnya menikmati transaksi ini?

Jika KDM menyampaikan semua ini dengan senyum khasnya, mungkin karena ia tahu bahwa tragedi terbesar di negeri ini adalah ketika sesuatu yang seharusnya menyedihkan justru menjadi lelucon yang terus berulang. Sampai di sini, orang jadi penasaran, KDM itu penganut ajaran Sunda Wiwitan ataukah ustaz bunglon berbaju budaya?

*Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al-Qur'an




Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Kabakom Sebut Kebijakan Ekonomi Prabowo Makin Inklusif, Upah Buruh Naik

Jumat, 23 Oktober 2026 | 18:20

B50 jadi Andalan Presiden Prabowo Wujudkan Kemandirian Energi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:44

Antusiasme Tinggi, Pendaftaran Anugerah Jurnalistik KPU 2026 Diperpanjang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:26

Masuk PSN, Agrinas Palma Siapkan Model Pengelolaan Sawit Rakyat

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:20

IHSG Parkir Zona Hijau, Rupiah Nyaris Tembus Rp18.100 per Dolar AS

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:54

Kreativitas Jadi Kunci Koperasi Bertahan dan Berkembang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:41

Menkeu Pastikan Gaji ASN Tak Lewat Kopdes

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:34

Bahlil Dikejar Deadline DIM RUU Migas

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:32

Konser Andrea Bocelli dan Peluang Indonesia Perkuat Diplomasi Budaya

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:23

AsetKu Dukung Literasi Keuangan Bersama AFPI di Jakarta Financial Festival 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:06

Selengkapnya