Berita

Maskapai penerbangan Garuda Indonesia/Net

Bisnis

Kantongi Pendapatan 3,42 Miliar Dolar AS di 2024, tapi Kenapa Garuda Masih Rugi?

KAMIS, 27 MARET 2025 | 12:03 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mencatat pertumbuhan pendapatan yang cukup signifikan sepanjang 2024, bahkan hingga  mencapai 3,42 miliar Dolar AS. Angka ini naik dari periode sebelumnya yang tercatat sebesar 2,93 miliar Dolar AS.

Namun, kinerja positif tersebut justru dihadapkan dengan banyaknya kerugian yang juga dialami maskapai nasional tersebut. Laporan keuangan menyebutkan perseroan menghadapi kerugian sebesar 69,78 juta Dolar AS sepanjang 2024.

Di sepanjang tahun 2024, Garuda Indonesia secara grup berhasil mengangkut 23,67 juta penumpang atau naik 18,54 persen dibandingkan sepanjang tahun 2023 yang mengangkut 19,97 juta penumpang.


Jumlah ini terdiri dari 11,39 juta penumpang Garuda Indonesia (mainbrand) serta 12,28 juta penumpang Citilink.

Kenaikan jumlah penumpang Garuda Indonesia Group selaras dengan peningkatan frekuensi penerbangan sebesar 12,21 persen (YoY) dari tahun sebelumnya yang sebanyak 145,500 penerbangan menjadi 163,271 penerbangan. 

Faktor yang mempengaruhi angka kerugian ini adalah beban usaha yang mengalami kenaikan sebesar 18,32 persen, yang salah satunya disebabkan oleh peningkatan beban pemeliharaan dan perbaikan pesawat. 

Beban usaha naik menjadi 3,10 miliar Dolar AS dari beban usaha 2,62 miliar Dolar AS. Beban usaha lainnya juga naik menjadi 390,07 juta Dolar AS dari 75,27 juta Dolar AS, serta rugi sebelum pajak diderita 81,46 juta Dolar AS usai meraih laba sebelum pajak 234,58 juta Dolar AS.

Direktur Utama GIAA, Wamildan Tsani Panjaitan, mengatakan, di 2024 ada beberapa pesawat yang memasuki jadwal perawatan besar (overhaul). 

Tingginya biaya operasional, termasuk bahan bakar dan perawatan pesawat, telah menggerus laba perusahaan.

Beban bunga dan keuangan yang mencapai 480 juta Dolar AS semakin memperberat kondisi keuangan Garuda. 

Total aset Garuda Indonesia per akhir 2024 tercatat sebesar 6,62 miliar Dolar AS, sedikit turun dari tahun lalu yang mencapai 6,73 miliar Dolar AS.

Total liabilitas turun menjadi 7,97 miliar Dolar AS hingga periode 31 Desember 2024, dari total liabilitas 8,01 miliar Dolar AS hingga periode 31 Desember 2023. Sehingga ekuitas perusahaan tetap berada di zona negatif, dengan defisit mencapai 1,35 miliar Dolar AS.

Maskapai pelat merah ini masih terus berjuang untuk memperbaiki kondisi keuangannya.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

IRGC: Jika Netanyahu Masih Hidup, Kami Akan Memburunya

Minggu, 15 Maret 2026 | 15:44

Benarkah Membalik Pakaian Saat Dicuci Bikin Baju Lebih Awet?

Minggu, 15 Maret 2026 | 15:24

Kantor PM Israel Bantah Rumor Netanyahu Tewas

Minggu, 15 Maret 2026 | 15:12

KPK Isyaratkan Tersangka Baru dari Pihak Swasta di Skandal Kuota Haji

Minggu, 15 Maret 2026 | 14:40

KPK Endus Modus THR ke Forkopimda Terjadi di Banyak Daerah

Minggu, 15 Maret 2026 | 14:02

Zelensky Tuduh Rusia Pasok Drone Shahed ke Iran untuk Serang AS

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:51

LPSK Beri Perlindungan Darurat untuk Aktivis KontraS Korban Teror Air Keras

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:41

Trump Minta Tiongkok hingga Inggris Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:27

Serangan ke Aktivis Tanda Demokrasi di Tepi Jurang

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:20

KPK Bongkar Dugaan THR untuk Polisi, Jaksa, dan Hakim di OTT Cilacap

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:15

Selengkapnya