Berita

Ilustrasi/Tobusiness.id

Publika

IHSG dan Daulat Pasar

Oleh: Sefdin*
RABU, 19 MARET 2025 | 13:11 WIB

HARI ini orang ramai menyoal kondisi Indonesia saat ini. Terutama setelah IHSG anjlok. Semua menyalahkan kebijakan pemerintah. Yang pada intinya: dinilai tidak pro pasar. 

Pasar… ya.. pasar. Pasar adalah daulat pasar. Dan daulat pasar adalah model perekonomian kapitalis-imperialis. Karena prinsipnya: the survival of the fit.

Sementara kerunyaman hari ini di seluruh dunia akibat dari model ekonomi pertumbuhan yang dianut masyarakat global pro pasar. Yang eksploitatif, dan memaksa pertumbuhan ekonomi serta konsumsi tinggi. Sehingga menyebabkan dis-equilibrium di semua lini. 


Tapi kita menjadi seolah lupa; bahwa yang harus diperjuangkan Indonesia dengan ekonomi Pancasila adalah kebalikan dari daulat pasar. Yaitu daulat negara. Dan pemikiran para pendiri bangsa yang lebih memilih redistribution with growth, ketimbang redistribution from growth mulai menjadi tren di kalangan cendekiawan alternatif saat ini. Terutama di Eropa, yang mengampanyekan prosperity without growth.

Saya pribadi, sebagai mahasiswa yang sedang studi doktoral ilmu hukum dan pembangunan, tidak ingin ikut menari dengan tabuhan gendang elit global yang bermental imperialis dan predatorik. Ini pilihan atas dasar otoritas keilmuan yang sedang saya dalami. Terutama dengan merujuk pada pemikiran para pendiri bangsa. Yang mencita-citakan Indonesia sebagai negara yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, melalui perwujudan negara sosialisme yang berketuhanan. 

Jadi yang harus menjadi kesadaran bersama bangsa ini adalah mengakhiri struktur sosial yang disuntikkan oleh Sosiolog Talcott Parsons, sehingga menghasilkan struktur sosial seperti gelas Wine, di mana rakyat kebanyakan menjadi alas yang melebar tapi sempit dan berdesakan di kaki gelas Wine. Struktur ini adalah struktur kolonialisme bentuk baru. Yang dirumuskan elit global predatorik di forum Bretton Woods pada tahun 1944 yang menghasilkan IMF, World Bank, dan GATT. Sehingga mereka tetap dapat menghisap negara-negara yang baru merdeka pasca Perang Dunia ke-2 tanpa harus mengirim tentara untuk menduduki dan menjajah.

Karena itu, yang harus kita lakukan adalah mengembalikan struktur sosial bangsa Indonesia menjadi cangkir kopi atau gelas teh. Sehingga rakyat kebanyakan tidak berjarak sempit dengan penguasa, pengusaha, dan kelas menengah. Karena saya juga bukan pengikut Karl Marx yang mencita-citakan melahirkan diktatur proletariat. Yang memimpikan semua alat produksi di tangan rakyat. Apalagi Lenin yang mematikan kaum pemodal. 

Karena prinsip kemerdekaan yang dicanangkan 17 Agustus 1945 adalah rakyat menjadi bagian inti dari produksi dan perekonomian nasional bersama semua fungsi sosial dalam struktur masyarakat melalui pengaturan yang adil oleh negara. Tanpa menafikkan modal asing dan pinjaman modal dari negara lain. Tetapi tentu bukan modal asing yang dibebaskan dari aturan negara dan pinjaman luar negeri yang diikuti ratusan syarat. 

Lantas bagaimana dengan pemerintahan Prabowo saat ini? Saya pribadi masih melihat, path di dalam pikiran Prabowo adalah break the glass of wine

Tetapi persoalan kualitas dan kapasitas orang-orang di dalam kabinet, terutama orang-orang lama yang bekerja untuk pemerintahan sebelumnya, dan orang-orang yang mengisi jabatan yang begitu gemuk dengan outcome yang tidak terukur, tentu menjadi pertanyaan. Kita lihat saja seiring waktu. 

Tetapi secara prinsip: Ada path dari pikiran Prabowo untuk mengurangi daulat pasar menjadi daulat negara.


*Penulis adalah Mahasiswa Doktor Hukum dan Pembangunan Sekolah Pasca Sarjana Universitas Airlangga dan pendiri Pusat Studi Pembangunan Berbasis Pancasila.

Populer

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Rismon Ajukan RJ Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Dokter Tifa: Perjuangan Memang Berat

Kamis, 12 Maret 2026 | 03:14

Memalukan! Rismon Ajukan Restorative Justice

Kamis, 12 Maret 2026 | 02:07

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

UPDATE

Polisi Berlakukan One Way Sepenggal Menuju Wisata Lembang Bandung

Minggu, 22 Maret 2026 | 18:11

Status Tahanan Rumah Yaqut Buka Celah Intervensi, Penegakan Hukum Terancam

Minggu, 22 Maret 2026 | 17:38

Balon Udara Bawa Petasan Meledak, Atap Rumah Jebol

Minggu, 22 Maret 2026 | 16:54

Prabowo: Lebih Baik Uang Dipakai Rakyat Makan daripada Dikorupsi

Minggu, 22 Maret 2026 | 16:47

Puncak Arus Balik Lebaran 2026 Terbagi Dua Gelombang

Minggu, 22 Maret 2026 | 16:37

Trump Ultimatum Iran: 48 Jam Buka Hormuz atau Pusat Energi Dihancurkan

Minggu, 22 Maret 2026 | 16:27

KPK Cederai Keadilan Restui Yaqut Tahanan Rumah

Minggu, 22 Maret 2026 | 16:03

Prabowo Tegaskan RI Tak Pernah Janji Sumbang Rp17 Triliun ke BoP

Minggu, 22 Maret 2026 | 16:01

Istana: Prabowo-Megawati Berbagi Pengalaman hingga Singgung Geopolitik

Minggu, 22 Maret 2026 | 15:46

Idulfitri di Kuala Lumpur, Dubes RI Serukan Persatuan dan Kepedulian

Minggu, 22 Maret 2026 | 14:47

Selengkapnya