Berita

Ilustrasi (Foto: AI/AT)

Publika

Lantai Bursa Ambruk

RABU, 19 MARET 2025 | 06:13 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

JAKARTA kembali heboh. Bukan karena konser K-Pop atau influencer yang endorse judi online, tapi karena sesuatu yang lebih serius: bursa saham rontok tujuh persen! Layaknya domino di meja kasino, saham-saham bluechip bertumbangan -- dari perbankan hingga raksasa teknologi milik konglomerat.

Seakan belum cukup dramatis, Wakil Ketua DPR beserta rombongan tiba-tiba muncul di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). Direktur Utama BEI yang menyambut mereka mungkin sempat berpikir, "Ini mau inspeksi atau ikut panik bareng?"

Apakah saham mereka juga ikut nyungsep? Atau ini langkah politis untuk meredam isu bahwa bursa yang merosot bisa menggoyang kursi kepresidenan? Di mana "polisi saham" dalam situasi ini -- apakah tugas mereka juga termasuk menahan kejatuhan indeks?


Investor panik. Perdagangan dihentikan. Semua sektor berdarah-darah. Bahkan konglomerat raksasa pun ikut terseret. Kejatuhan ini memicu reaksi global. MSCI, JP Morgan, dan Goldman Sachs buru-buru menurunkan peringkat Bursa Efek Indonesia menjadi "Tidak Layak Beli." Dana asing kabur, memperparah tekanan jual.

Di tengah kegentingan ini, muncul isu Menteri Keuangan Sri Mulyani bakal mundur. Benarkah atau sekadar hoaks politik? Yang jelas, investor asing semakin ragu. Stabilitas kebijakan yang selama ini diandalkan mulai goyah.

Kedatangan rombongan DPR ke BEI bak pahlawan kesiangan. Tapi mungkin mereka juga khawatir: apakah bursa yang rontok bisa mengguncang kursi kepresidenan?

Secara historis, kejatuhan bursa bukan faktor utama tumbangnya pemerintahan. Namun, dalam politik Indonesia yang lebih dramatis dari sinetron, sentimen ekonomi bisa jadi bola salju. Jika gejolak pasar berlanjut -- daya beli masyarakat turun, APBN defisit, kepercayaan investor luntur -- tekanan politik bisa meningkat.

Kehadiran DPR di BEI bisa dianggap bentuk kepedulian. Atau, bagi yang skeptis, sekadar cari panggung. Yang pasti, ini peristiwa langka -- pejabat legislatif turun langsung ke bursa, seolah-olah masalah ini bisa diselesaikan dengan gesture prihatin dan sedikit lip service.

Pertanyaannya, apakah mereka membawa solusi konkret? Jika serius, seharusnya fokus mereka adalah regulasi yang jelas, insentif pajak yang mendukung pasar modal, serta stabilitas fiskal yang tidak dikorbankan demi kepentingan jangka pendek.

Kalau cuma datang untuk melihat layar merah dan menghela napas, investor pun bisa melakukannya dari rumah?"tanpa protokoler dan iring-iringan mobil dinas.

Lalu, apa selanjutnya?

Bursa ambruk bukan kiamat, tapi ini sinyal yang tak bisa diabaikan. Jika tak ada intervensi yang tepat, dampaknya bisa menjalar lebih dalam ke sektor riil: PHK massal makin banyak, konsumsi terjun bebas, hingga potensi resesi.

Apakah ini cukup untuk menggoyang kursi kepresidenan? Tidak serta-merta. Tapi jika krisis tak dikelola dengan baik, kepercayaan publik bisa runtuh -- dan dalam politik, persepsi adalah segalanya.

Yang lebih mendesak bukanlah apakah parlemen harus hadir di bursa, melainkan apakah pemerintah dan DPR bisa bekerja sama menenangkan pasar dengan kebijakan yang masuk akal. Atau, kita hanya akan menyaksikan episode berikutnya dari drama politik yang lebih dramatis daripada bursa yang ambruk.

Satu hal yang pasti: naik-turun saham itu biasa. Tapi kalau wakil rakyat sampai turun ke lantai bursa, berarti ada yang benar-benar luar biasa.

*Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al-Qur'an

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Sinopsis Bapak Paling Jujur, Film Komedi Satir Politik Dibintangi Andovi Da Lopez

Kamis, 15 Oktober 2026 | 20:29

KPK Amankan Uang Rp1 Miliar saat OTT Bupati Klaten

Kamis, 15 Oktober 2026 | 20:26

Profil Letjen Kristomei Sianturi, Kepala BNPB yang Baru Dilantik Prabowo

Kamis, 15 Oktober 2026 | 20:13

Danantara Guyur Rp1,79 Triliun per Tahun untuk Beasiswa Dokter Spesialis

Kamis, 15 Oktober 2026 | 20:06

Utang Subsidi Pemerintah ke PT Pupuk Indonesia Bengkak

Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:55

20 Orang Terjaring OTT KPK, Ada Bupati Klaten hingga ASN BPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:45

Survei Adidaya Institute: Mayoritas Puas dengan Kinerja Presiden Prabowo

Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:43

Jalur Darat dan Sumur Bor Disiapkan untuk Tangani Karhutla Tanjung Puting

Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:34

JXB Perkuat Promosi Pariwisata Menuju 5 Abad Jakarta

Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:26

Kopdes Merah Putih Pekerjaan Besar Lintas Kementerian dan BUMN

Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:23

Selengkapnya