Berita

Pendiri Pusat Studi Air Power Indonesia, Chappy Hakim/Ist

Publika

RUU TNI dan Demokrasi

Interaksi Sipil-Militer dan Kepemimpinan dalam Konteks Perubahan Sosial

SELASA, 18 MARET 2025 | 20:55 WIB | OLEH: CHAPPY HAKIM

PERDEBATAN mengenai revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (RUU TNI) mencerminkan dinamika hubungan sipil-militer yang terus berkembang dalam sistem demokrasi di Indonesia. Tulisan ini membahas interaksi antara kalangan sipil dan militer, menyoroti aspek kepemimpinan dalam proses perubahan sosial.

Argumen bahwa militer ingin memperluas pengaruhnya perlu dipahami antara lain dalam konteks ketidakpercayaan diri sebagian kalangan sipil, yang cenderung mengandalkan figur militer untuk berbagai peran di masyarakat. Kajian ini menegaskan pentingnya peran think tank sebagai penyedia analisis akademik yang objektif sebelum kebijakan strategis diputuskan.

Pendahuluan


Reformasi TNI pada akhir abad ke-20 menandai perubahan signifikan dalam peran militer di Indonesia, khususnya dengan dihapuskannya dwifungsi ABRI. Namun, dalam perkembangannya, interaksi antara kalangan sipil dan militer masih menunjukkan pola ketergantungan yang menarik untuk dikaji.

Permasalahan yang muncul dalam diskursus mengenai RUU TNI bukan sekadar isu dominasi militer, tetapi juga refleksi dari karakter kepemimpinan dan proses pengambilan kebijakan di tingkat elite.

Salah satu faktor utama yang menyebabkan figur militer masih diandalkan oleh kalangan sipil adalah tingkat disiplin yang telah menjadi trademark seorang militer. Disiplin ini meliputi ketegasan dalam pengambilan keputusan, kepatuhan terhadap hierarki, serta efisiensi dalam menjalankan tugas.

Dalam banyak kasus, kalangan sipil secara terbuka mengakui kelemahan mereka dalam hal disiplin, baik secara pribadi maupun dalam organisasi. Kelemahan ini seringkali menghambat efektivitas pemerintahan sipil, yang pada akhirnya mendorong kepercayaan yang lebih besar kepada figur-figur militer dalam kepemimpinan nasional maupun lokal.

Interaksi Sipil-Militer dalam Konteks Demokrasi

Dalam sistem demokrasi, interaksi antara sipil dan militer idealnya bersifat komplementer, bukan kompetitif. Namun, fenomena di Indonesia menunjukkan bahwa banyak pihak sipil masih merasa lebih percaya diri dengan kehadiran figur militer, baik dalam sektor pemerintahan maupun kehidupan sosial.

Hal ini tercermin dari banyaknya purnawirawan TNI yang dipercaya untuk mengisi jabatan strategis, termasuk di lingkungan sipil bahkan seperti ketua rukun tetangga (RT) misalnya dan atau pada lembaga negara lainnya.

Selain itu, munculnya tren penggunaan pakaian seragam dengan atribut mirip militer dalam institusi sipil menunjukkan adanya kecenderungan untuk mengadopsi simbol-simbol otoritas dan disiplin yang melekat pada institusi militer.

Interaksi sipil-militer di Indonesia masih menunjukkan pola ketergantungan. Figur militer sering dipercaya mengisi jabatan strategis karena dianggap lebih disiplin dan tegas dibanding kalangan sipil.

Sebaliknya, pihak militer terkadang menjadi overconfident, seolah mampu mengerjakan apa saja, termasuk dalam sektor yang seharusnya menjadi ranah sipil. Fenomena ini mencerminkan kompleksitas hubungan sipil-militer yang terus berkembang dalam sistem demokrasi.

Kepemimpinan sebagai Faktor Kunci

Dalam analisis khususnya tentang hubungan sipil-militer, kepemimpinan memainkan peran sentral dalam menentukan arah interaksi yang sehat dan konstruktif. Kepemimpinan yang kuat, baik di kalangan sipil maupun militer, harus dilandasi oleh visi yang jelas, legitimasi yang kuat, dan pemahaman yang mendalam terhadap dinamika sosial.

Pemimpin yang baik tidak hanya memahami kebutuhan masyarakat, tetapi juga mampu mengelola hubungan antara institusi sipil dan militer secara seimbang tanpa menciptakan ketergantungan yang berlebihan satu dengan lainnya.

Peran Think Tank dalam Pengambilan Kebijakan

Dalam proses perubahan tatanan sosial dan kebijakan strategis, penting untuk melibatkan lembaga kajian independen atau think tank yang memiliki otoritas akademik dalam menyusun analisis berbasis data dan perspektif multidisipliner.

Keputusan yang diambil tanpa kajian akademik yang mendalam cenderung menghasilkan kebijakan yang tidak matang dan berpotensi menimbulkan kegaduhan alias ketidakstabilan.

Oleh karena itu, sebelum kebijakan strategis seperti revisi RUU TNI dibahas di DPR, diperlukan studi komprehensif terlebih dahulu yang dapat memberikan gambaran holistik terhadap dampak yang mungkin akan timbul.

Demikianlah, interaksi antara sipil dan militer di Indonesia bukanlah sekadar perdebatan mengenai dominasi salah satu pihak, melainkan bagian dari proses adaptasi sistem demokrasi dalam konteks sosial-politik yang unik. Kepercayaan diri kalangan sipil dalam membangun sistem pemerintahan yang efektif tanpa ketergantungan terhadap militer merupakan aspek yang harus terus diperkuat.

Dalam menghadapi perubahan sosial, kepemimpinan yang berbasis visi strategis dan pemikiran akademik sangat diperlukan guna menghindari kegaduhan alias ketidakstabilan yang berkepanjangan.

Oleh karena itu, peran think tank dalam menyediakan kajian yang objektif dan mendalam menjadi krusial agar pengambilan keputusan berjalan berdasarkan prinsip keilmuan dan kepentingan nasional jangka panjang secara komprehensif.

Penulis adalah Pendiri Pusat Studi Air Power Indonesia

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

UPDATE

Gus Yaqut dan Jokowi, Siapa yang Benar?

Minggu, 01 Februari 2026 | 04:09

Ketika Eropa Abad ke-18 Begitu Jorok, Terbelakang, dan Menjijikkan

Minggu, 01 Februari 2026 | 04:05

Eks Relawan: Jokowi Manusia Nggedabrus

Minggu, 01 Februari 2026 | 03:33

Mantan Ketua LMND Muhammad Asrul Gabung PSI

Minggu, 01 Februari 2026 | 03:12

Kentungan Oranye Anies

Minggu, 01 Februari 2026 | 03:01

Pemain Saham Gorengan Bakal Disikat

Minggu, 01 Februari 2026 | 02:27

MUI: Board of Peace Neokolonialisme Gaya Baru

Minggu, 01 Februari 2026 | 02:17

Jokowi Hadiri Rakernas PSI, tapi Tak Sanggup ke Pengadilan, Warganet: Penyakit Kok Pilih-pilih

Minggu, 01 Februari 2026 | 02:01

Prabowo Pede Fundamental Ekonomi RI Tetap Kuat di Tengah Gejolak Pasar Modal

Minggu, 01 Februari 2026 | 01:15

Pengangkatan 32 Ribu Pegawai Inti SPPG Jadi PPPK Picu Kecemburuan

Minggu, 01 Februari 2026 | 01:06

Selengkapnya