Berita

Ilustrasi/RMOL

Bisnis

IHSG Longsor, Apa Sebabnya?

SELASA, 18 MARET 2025 | 13:36 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar modal Indonesia dalam kondisi yang memprihatinkan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus merosot. 

Pada Selasa siang 18 Maret 2025, IHSG terperosok 395,81 poin atau minus 6,12 persen ke level 6.076.

Sejak perdagangan dibuka di level 6.458 hari ini, indeks terus merosot, membuat Bursa Efek Indonesia  terpaksa menghentikan sementara perdagangan (trading halt). 


Penurunan ini juga diikuti dengan anjloknya harga saham-saham unggulan (blue chips) yang selama ini menjadi tulang punggung likuiditas bursa domestik.

Sejumlah lembaga keuangan global seperti MSCI, JP Morgan, dan Goldman Sachs menurunkan peringkat Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi negatif untuk sementara waktu. 

Penurunan tajam ini tidak hanya disebabkan oleh faktor global, melainkan juga kebijakan domestik yang kontroversial. Dalam waktu singkat, beberapa keputusan pemerintah kemungkinan besar menjadi penyebab katalis utama merosotnya  kepercayaan pasar belakangan ini.

Lalu, apa penyebab longsornya IHSG hari ini?

Head of Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi mengungkapkan kejatuhan IHSG yang signifikan ini tergolong anomali jika dibandingkan dengan bursa regional lainnya.

"Jika melihat bursa Asia seperti Nikkei yang naik 1,4 persen, Shanghai yang hanya menguat 0,09 persen, STI 1 persen, dan FKLCI 1 persen, maka koreksi IHSG mengindikasikan kekhawatiran investor terhadap ekonomi Indonesia dan pasar keuangan," jelasnya, dikutip dari CNN. 

Beberapa faktor turut memperparah tekanan di pasar saham domestik, seperti meningkatnya credit default swap (CDS) Indonesia ke 76 basis poin per 27 Februari 2025, depresiasi rupiah sebesar 0,6 persen sejak Januari, serta melebar spread Surat Berharga Negara (SBN) dengan US Treasury 10 tahun hingga 255 basis poin.

"Selain itu, pemangkasan rating saham Indonesia oleh Morgan Stanley dan Goldman Sachs yang mengkhawatirkan pelebaran defisit anggaran turut berkontribusi terhadap pelemahan IHSG," tambahnya.

Tak hanya itu, investor asing juga terus menarik dana mereka dari pasar modal Indonesia. Data hingga 17 Maret 2025 menunjukkan arus modal keluar (capital outflow) mencapai Rp26,9 triliun.

"Jika IHSG terus melemah hingga minus 5 persen atau lebih, kemungkinan regulator akan melakukan trading halt untuk menstabilkan pasar," kata Oktavianus.

Maraknya pembelian Surat Berharga Negara (SBN) oleh mayoritas Bank Indonesia yang mencapai  Rp 158,96 triliun setidaknya berdampak  psikologis terhadap investor maupun pemain saham. 

Selain itu, peningkatan belanja negara tanpa strategi pendanaan yang jelas memperlebar defisit anggaran. Pasar melihat hal ini sebagai ancaman terhadap stabilitas makroekonomi, sehingga investor global memilih menarik modalnya untuk menghindari risiko depresiasi rupiah dan inflasi yang tak terkendali.

Faktor eksternal seperti kebijakan perdagangan Amerika Serikat pasca-kemenangan Donald Trump dalam pemilu presiden juga memicu kekhawatiran pasar.

Trump menerapkan tarif besar terutama kepada negara-negara mitra dagang utama seperti Tiongkok, Uni Eropa, Kanada, dan Meksiko. Hal ini tentu berdampak negatif terhadap ekonomi global dan pasar keuangan. 

Pemerintah perlu segera mengevaluasi kebijakan-kebijakan yang berdampak sistemik ini. Dengan kebijakan yang lebih terukur dan berorientasi pada keberlanjutan pasar, kepercayaan investor dapat dipulihkan.

Populer

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Anak SMA Peserta Cerdas Cermat MPR Ramai-ramai Dibully Juri dan MC

Senin, 11 Mei 2026 | 14:27

UPDATE

Puan: APBN 2027 Harus Jadi Instrumen Nyata untuk Sejahterakan Rakyat

Rabu, 20 Mei 2026 | 12:19

28 Tahun Reformasi, Kekuasaan Harus Berjalan Independen

Rabu, 20 Mei 2026 | 12:18

Prabowo Minta Menkeu Segera Ganti Pimpinan Bea Cukai Bermasalah

Rabu, 20 Mei 2026 | 12:08

Bitcoin Depot Bangkrut, Hampir 10 Ribu ATM Ditutup

Rabu, 20 Mei 2026 | 12:07

Pemerintah Harus All Out Bebaskan WNI yang Ditahan Israel

Rabu, 20 Mei 2026 | 12:01

Rupiah Melemah, UMKM dan Hilirisasi Industri Harus Diperkuat

Rabu, 20 Mei 2026 | 11:46

Prabowo: Rakyat Tidak Mimpi Kaya Raya, Asal Bisa Hidup Layak dan Sejahtera

Rabu, 20 Mei 2026 | 11:42

Kenaikan Penerimaan Pajak Jangan Bikin Terlena

Rabu, 20 Mei 2026 | 11:38

Sah! Prabowo Wajibkan Ekspor Sawit Hingga Batu Bara Satu Pintu Lewat BUMN

Rabu, 20 Mei 2026 | 11:33

Fatayat NU Ajak Kader Perempuan Lebih Percaya Diri di Ruang Publik

Rabu, 20 Mei 2026 | 11:32

Selengkapnya