Berita

Donald Trump (Foto: marketwatch.com)

Bisnis

Trump Terpukul Wall Street, Dolar AS Lengser di Bawah Rp16.400

JUMAT, 14 MARET 2025 | 19:01 WIB | OLEH: ADE MULYANA

NYALI pemerintahan Presiden Donald Trump nampaknya mulai surut dalam beberapa pekan terakhir. Usai rangkaian penaikkan tarif masuk atas sejumlah besar produk dari berbagai negara mitra perekonomian terbesar AS mendapatkan perlawanan yang kian serius dan keras, upaya diplomatik internasional yang sedang digalang dalam menghentikan perang Rusia-Ukraina dan tensi di Timur-Tengah terlihat mulai menemui jalan sulit dan kompleks.

Laporan sebelumnya menyebutkan, rontoknya seluruh Indeks di bursa saham Wall Street dalam dua pekan terakhir secara konsisten dan beruntun hingga telah membentuk tren jual yang solid sebagai indikator pesimisme pelaku pasar di Wall Street dalam menilai kebijakan ekonomi Trump menyangkut tarif masuk. Janji kinerja moncer perekonomian AS oleh Trump kini justru dicurigai berbalik menjadi ancaman resesi.

Sementara upaya penghentian perang Rusia-Ukraina terlihat masih jauh dari hasil yang diharapkan dengan kukuhnya sikap Vladimir Putin yang terkesan sedang berada di atas angin. Rangkaian situasi ini kemudian membuat kinerja Indeks Dolar AS tertahan dari gerak melonjak tajam. Nilai tukar mata uang utama dunia akhirnya hanya sedikit terkoreksi usai melakukan lompatan tajam pada pekan lalu.


Namun kabar yang sedikit menguntungkan ini gagal dimaksimalkan hingga hanya menghasilkan kinerja moderat di pasar uang Asia. Pantauan menunjukkan, mata uang Asia yang sempat mencoba kompak menjejak zona penguatan tipis dalam mengawali sesi pagi. Namun tak lama setelahnya beralih bervariasi dan cenderung konsisten di rentang moderat.

Kinerja mata uang Asia di rentang moderat juga masih berlanjut hingga pertengahan sesi perdagangan sore. Beruntungnya, usai pertengahan sesi sore  sejumlah besar mata uang Asia mampu kembali beralih positif.

Mata uang Dolar Hong Kong, Rupee India dan Ringgit Malaysia tercatat masih terjebak di zona pelemahan tipis dan rentan beralih ke zona penguatan. Selebihnya, mata uang Asia bersama Rupiah terlihat berupaya stabil menjejak zona penguatan. Pantauan juga memperlihatkan, Rupiah yang justru mampu menorehkan penguatan tertajam di antara mata uang Asia.

Hingga sesi perdagangan sore ini berlangsung, Rupiah terpantau berada di kisaran Rp16.344 per Dolar AS atau menguat  0,46 persen. Penguatan Rupiah terpantau semakin mendaki di ujung sesi perdagangan sore dengan  mencetak penguatan tertingginya  di kisaran Rp16.339 per Dolar AS, namun kemudian sedikit terkikis mengikuti irama yang sedang berkembang di pasar Asia.

Pelaku pasar tidak mendapatkan sentimen domestik yang signifikan dalam menjalani sesi penutupan pekan ini, Jumat 14 Maret 2025. Satu-satunya sentimen domestik minor datang dari beredarnya isu pengunduran diri Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan. Namun isu tersebut kemudian dibantah oleh Wakil ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

PKB Merawat NU Tanpa Campuri Urusan Internal

Kamis, 05 Februari 2026 | 18:01

Polisi: 21 Karung Cacahan Uang di TPS Liar Terbitan BI

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:56

Seskab: RI Belum Bayar Iuran Board of Peace, Sifatnya Tidak Wajib

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:51

Ekonomi Jakarta Tumbuh Positif Sejalan Capaian Nasional

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:46

Amdatara Gelar Rakernas Perkuat Industri Air Minum Berkelanjutan

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:30

Mahfud Sebut Sejarah Polri Dipisah dari Kementerian Hankam karena Dikooptasi

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:14

AHY Optimistis Ekonomi Indonesia Naik Kelas

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:13

Gaya Komunikasi Yons Ebit Bisa Rusak Reputasi DPN Tani Merdeka

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:08

Juda Agung Ngaku Mundur dari BI karena Ditunjuk Prabowo Jadi Wamenkeu

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:05

Tragedi Anak di Ngada Bukti Kesenjangan Sosial Masih Lebar

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:04

Selengkapnya