Berita

Ilustrasi/fixabay.com

Bisnis

Tarif Balasan China untuk AS Bisa Untungkan Australia

SELASA, 11 MARET 2025 | 13:04 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

China mengenakan tarif balasan 15 persen terhadap ekspor pertanian AS, yang berpotensi menguntungkan Australia.

Meskipun tidak akan terasa langsung dampaknya, ekonom Commonwealth Bank, Dennis Voznesenski, menyebut kebijakan ini dapat membuka peluang bagi ekspor gandum, barley, dan sorgum Australia. 

“Pertanyaannya, kapan mereka mulai membeli? Mungkin tidak segera. Bisa saja nanti di tahun ini,” ujarnya, seperti dikutip dari Nikkei Asia, 11 Maret 2025. 


Saat ini, China masih memiliki cadangan gandum besar dengan permintaan domestik yang rendah, sehingga impor gandum dan barley mereka menurun drastis pada Desember lalu.

Di sisi lain, ekspor daging sapi Australia ke AS meningkat tajam akibat kekeringan yang menghambat pemulihan stok ternak Amerika. Nilai ekspornya melonjak dari 1,9 miliar menjadi 3,3 miliar Dolar Australia dalam satu tahun. 

Voznesenski menyebut tarif 25 persen yang diterapkan Donald Trump terhadap Meksiko dan Kanada sebagai “kesempatan emas” bagi Australia. Namun, tarif ini ditangguhkan untuk produk yang termasuk dalam Perjanjian USMCA hingga Agustus .

Analis Rabobank, Angus Gidley-Baird, menilai dampak positif bagi Australia masih terbatas. 

“Secara teori, ini bisa menguntungkan Australia, tapi saya tidak yakin akan menjadi keuntungan besar. Kemungkinan besar, ini hanya akan menyebabkan perubahan dalam distribusi produk,” katanya.

Direktur Rangers Valley Cattle Station, Keith Howe, juga melihat peluang dan tantangan. Meski harga daging sapi di AS tinggi, pembatasan terhadap produk yang masuk ke China bisa menguntungkan Australia. 

"Namun, bagi perusahaan yang fokus pada pasar premium, perlambatan ekonomi akibat perang dagang justru bisa berdampak negatif," ujarnya.

Presiden Federasi Petani Nasional Australia, David Jochinke, mengingatkan bahwa 70 persen hasil pertanian Australia diekspor, sehingga perdagangan bebas tetap menjadi kunci pertumbuhan ekonomi global. 

"Meskipun mungkin ada perubahan permintaan dalam jangka pendek, pasar yang bebas dan terbuka adalah yang terbaik untuk stabilitas," tegasnya.

Populer

Ramadhan Pohan, Pendukung Anies yang Kini Jabat Anggota Dewas LKBN ANTARA

Jumat, 09 Januari 2026 | 03:45

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

UPDATE

OTT Pegawai Pajak Jakarta Utara: KPK Sita Uang Ratusan Juta dan Valas

Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:14

Mendagri: 12 Wilayah Sumatera Masih Terdampak Pascabencana

Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:04

Komisi I DPR: Peran TNI dalam Penanggulangan Terorisme Hanya Pelengkap

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:33

X Ganti Emotikon Bendera Iran dengan Simbol Anti-Rezim

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:27

Trump Sesumbar AS Bisa Kuasai 55 Persen Minyak Dunia Lewat Venezuela

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:10

Konten Seksual AI Bikin Resah, Grok Mulai Batasi Pembuatan Gambar

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:52

Ironi Pangan di Indonesia: 43 Persen Rakyat Tak Mampu Makan Bergizi

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:41

Emas Antam Berkilau, Naik Rp25.000 Per Gram di Akhir Pekan

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:34

Khamenei Ancam Tindak Tegas Pendemo Anti-Pemerintah

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:22

Ekonomi Global 2026: Di Antara Pemulihan dan Ketidakpastian Baru

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:06

Selengkapnya